Mencari Mayoritas Bijak

0
38 views

Haruskah ekspresi keberimanan mengorbankan kemanusiaan? Tentu jawabannya “tidak harus”, tetapi sejarah membuktikan bahwa di mana sikap keberimanan mengeras, di situ  sering terjadi kemanusiaan dikorbankan – atas nama agama.

Sekelompok orang beriringan menuju sebuah tempat yang mereka anggap sebagai lokasi beribadah. Sekilas, ini adalah fenomena biasa seperti orang-orang beriringan menuju masjid untuk shalat berjamaah. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Berniat, berjalan dan melakukan ibadah bagi kelompok satu ini, punya makna lebih dan mungkin juga pahala yang lebih banyak karena hal itu berarti pertaruhan fisik dan psikis. Terbukti, pada sebuah hari yang naas, dua orang terkapar terkena tikam.

Tidak berselang lama, terucap kata dari pihak kepolisian: “Ini adalah tindakan kriminal biasa.” Mungkin ada benarnya tetapi menilik sejarah panjang konfrontasi antara mereka yang beribadah dan mereka yang menolak tempat ibadah, kata dari pihak kepolisian ini sulit dicerna akal. Dan seperti biasa, pihak-pihak yang dianggap berwenang dan berkuasa selalu telat mikir melihat persoalan, bahkan lebih telat dari polisi-polisi dalam film-film India.

Lokalisasi Masalah

Mencari mayoritas bijakDan sandiwara pun berlanjut. Tampak jelas ada upaya-upaya pengerdilan makna – yang berarti ketidakpedulian – terhadap kasus yang ibarat bara dalam sekam ini. Salah satu bentuknya adalah lokalisasi persoalan hanya pada individu-individu, seperti nada kata pihak kepolisian di atas. Dan ormas yang aktif terlibat dalam persoalan ini pun menyanyikan nada yang sama: ini adalah tindakan individu. Apakah masih merupakan tindakan individu jika yang terlibat adalah salah satu pimpinan ormas? Ya, jawab mereka tegas. Dan itu mungkin benar, tinggal bagaimana memahaminya.

Penguasa tidak kalah cueknya terhadap persoalan bangsa ini. Jika penguasa lebih tanggap dan peduli, persoalan ini seharusnya tidak berlarut bertahun-tahun hingga mengalirkan darah. Memang, jika para penguasa masih setia dengan “politik jaim” (jaga imej) mereka, maka persoalan seperti ini tidak akan pernah penting karena selama bukan pihak mayoritas yang tersinggung, maka semua persoalan adalah persoalan kecil. Segala persoalan diukur dari kacamata mayoritas-minoritas bukan kebenaran.

Toleransi Bermasalah

Telah lama umat Islam Indonesia hidup dalam posisi mayoritas hingga (mungkin) amnesia bagaimana rasanya hidup dalam posisi minoritas. Rasa empati umat Islam terhadap mereka yang minoritas semakin menipis dikikis oleh ‘perjuangan’ kelompok-kelompok radikal yang meneriakkan dalil-dalil kebenaran, ayat-ayat suci, dan juga keimanan secara sempit. Kondisi sedemikian lalu diperparah oleh tidak becus dan tidak tegasnya para penguasa

Posisi mayoritas tidak cukup membuat umat Islam percaya diri, bahkan – sampai ukuran tertentu – mengalami penurunan kepercayaan diri secara signifikan. Buktinya, ketidakdewasaan menghadapi pihak-pihak minoritas. Kita masih ingat slogan-slogan yang diteriakkan oleh para penganjur pembakaran Al-Quran di Amerika. Mereka berkata: “Kami mengizinkan masjid berdiri di Ground Zero jika kami juga diizinkan mendirikan gereja di Tanah Suci Makkah.”

Sama saja, penyakit seperti itu juga diidap oleh umat Kristen di Amerika. Sudah sangat lama mereka mengalami posisi sebagai mayoritas dan tidak pernah belajar dari kenyataan itu. Bagi mereka, umat Islam yang sedang tumbuh di sana adalaha ancaman besar. Sangat jelas, kedua kasus ini adalah persoalan berbeda tetapi ada kesamaannya. Ada perasaan terancam. Ada perasaan keberimanan yang mengeras tak karuan, dan ada kekerdilan nyali di hadapan yang kecil. Bedanya, mereka memiliki penguasa-penguasa yang tegas dan konsisten sedangkan kita tidak.[]