Mencari Pemimpin Sejati

0
7 views

static.desktopnexus.comSalah satu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar kehidupan mereka  berjalan dengan baik dan lebih baik lagi adalah pemimpin yang baik. Karena itu, kehadiran pemimpin yang baik selalu dirindukan oleh masyarakat, termasuk masyarakat kita sekarang. Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah seperti apa pemimpin yang baik itu?. Al-Qur’an ternyata menceritakan tentang banyak pemimpin yang salah satunya adalah Zulkarnain. Belajar dari Zulkarnain, kita bisa menemukan kriteria pemimpin yang sejati, begitu yang dikemukakan Allah swt di dalam surat Al Kahfi.

Dari kisah yang dikemukakan Allah swt tentang Zulkarnain, kita memang tidak mendapat penjelasan tentang siapa Zulkarnain, dimana tempatnya dan kapan semua itu terjadi. Hal itu memang tidak terlalu penting, karena yang terpenting adalah pelajaran apa yang bisa diambil darinya. Yang jelas, kata Sayyid Quthb, dia bukanlah raja Alexander Zulkarnain yang animisme. Namun Sayyid Quthb juga mengutip pendapat Abu Raihan al Biruni –meskipun bukan sebuah kemutlakan-  yang menyatakan bahwa Zulkarnain berasal dari Humair, nama aslinya Abu Bakar bin Ifriqisy. Dia berkelana bersama tentaranya ke pantai laut putih tengah, dia melampaui Tunis dan Maroko, dia membangun kota Afrika hingga benua itupun disebut Afrika. Dia dijuluki dua tanduk (bukan karena kepalanya bertanduk,red) tapi karena dia berhasil mencapai dua tanduk matahari, yakni Timur dan Barat. 

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Zulkarnain, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang sangat kita dambakan adanya pemimpin yang mulia sehingga membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.

1. Berkuasa Tapi Tidak Sombong

Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekuasaan yang besar dengan tentaranya yang kuat sehingga ia bisa mengembara ke Timur dan ke Barat, namun dengan kekuasaannya itu ia tidak menyombongkan diri. Sayyid Quthb menyatakan bahwa Zulkarnain menuju kearah Barat hingga sampai ke satu titik di pantai Samudera Atlantik yang dinamai dengan Laut Gelap. Ia menganggap telah mencapai akhir daratan di titik itu dan melihat matahari tenggelam di di situ, Allah swt berfirman: Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu perjalanan. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam (al-Kahfi/18:84-86).

Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah pasrah kepadanya, ia justeru tidak berniat untuk menzalimi mereka dan mengambil keuntungan duniawi dari mereka, padahal Allah swt memberikan pilihan kepadanya mau berbuat baik atau buruk. Namun ia justeru mengajak mereka kepada iman dan amal shaleh, Allah swt berfirman: dan dia mendapati disitu segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Zulkarnaian: adapun orang yang menganiaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya (al-Kahfi/18:86-91)

2. Melayani Rakyat

Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, karena Zulkarnain yang memiliki kekuasaan menunjukkan klasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, bahkan tanpa meminta pembayaran sekalipun meskipun mereka mau membayarnya. Hal ini nampak ketika dalam pengembaraannya, Zulkarnaian mendapati suatu umat yang sangat terbelakang sehingga mereka hampir tidak mengerti pembicaraan, bahkan mereka sendiri dalam keadaan terancam dari Ya’juj dan Ma’juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Maka Zulkarnain melibatkan semua komponen masyarakat untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun diantara dua gunung dengan ketinggian mencapai puncak gunung sehingga tertutup bagi Ya’juj dan Ma’juj untuk memasuki wilayah penduduk itu sehingga keberadaan (eksistensi) mereka bisa dipertahankan.

Dengan keberhasilan itu, Zulkarnain tetap menyadari kelemahannya karena semua itu adalah karunia Allah swt, Allah swt menceritakan hal ini dalam firman-Nya: Kemudian dia menempuh jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai diantara dua buah gunung, dia mendapati dihadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: Hai Zulkarnain: sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya membuat dinding antara kami dan mereka?. Zulkarnain berkata: Apa yang telah dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi telah sama rata dengan dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: “Tiuplah (api itu)” hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Zulkarnain berkata: Ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah dating janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar (al-Kahfi /18:84-98).

3. Menegakkan Keadilan, Memberantas Kezaliman

Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari ganguan Ya’juj dan Ma’juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang sangat memberi perhatian kepada rakyat untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kezaliman. Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga level tertinggi seharusnya berupaya untuk  menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kezaliman.

Pemimpin yang menegaakkan keadilan dan memberantas kezaliman akan dikenang sepanjang masa sebagai pemimpin yang baik, begitulah yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang memimpin tidak sampai tiga tahun dan tidak diabadikan di dalam Al-Qur’an, namun sejarah tidak melupakan jasanya dalam memimpin sehingga keadilan yang ditegakkan dan kezaliman yang diberantas membuat kesejahteraan dan kedamaian rakyatnya tercapai hingga pada masanya sulit untuk mencari mustahik (orang yang berhak menerima zakat).

4. Berorientasi Pada Kebaikan

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkanain mengarahkan masyarakat yang didatanginya dalam pengembaraan untuk beriman dan beramal shaleh. Mereka dilibatkan dalam kerjasama yang baik ketika membangun tembok pertahanan sehingga keamanan yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat bias terwujud. Sekarang ini kita sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang berorientasi pada kebaikan, kebaikan menurut Allah dan Rasul-Nya.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa kehidupan dalam masyarakat akan terwujud dengan baik dan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, manakala dipimpin oleh orang-orang yang dapat memimpin dengan kepribadian yang mulia. Untuk itu, kecermatan kita memilih pemimpin menjadi sesuatu yang sangat penting.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani