Menanamkan Karakter Kepemimpinan Rasulullah Sejak Dini

0
217 views

Anak merupakan hadiah terindah dan teristimewa sekaligus amanah dari Allah swt. Merawat, mendidik dan membesarkan anak adalah ladang pahala bagi orang tua yang akan dipanen kelak di akhirat. Tentu telah sampai pada kita sabda Rasulullah saw, “Bila seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” Hadits riwayat Muslim ini sejatinya menjadi pendorong para orang tua supaya mendidik anaknya menjadi anak shaleh yang akan menjadi penolongnya di akhirat kelak.

 

Kalau kita lihat sejarah, salah satu kunci keberhasilan Rasulullah saw membangun umatnya ialah karena beliau memimpin dengan akhlak, memimpin dengan moral. Beliau menjadi teladan yang baik. Firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu terdapat contoh-teladan yang baik (sikap yang harus diteladani)….”

Dari sejarah tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa pendidikan yang mengutamakan akhlak-lah yang menjadi pilar utama dalam membesarkan anak-anak kita. Apalagi kalau kita kaitkan dengan konteks kehidupan Indonesia kita sekarang ini yang carut-marut karena meninggalkan amanah. Para pemimpin yang hakekatnya mengemban amanah, pada kenyataannya melakukan pelanggaran bahkan cenderung mengabaikan. Akhlaaqul kariimah akan menentukan keberhasilan upaya membangun Indonesia di masa depan. Mengabaikan akhlaq hanya akan mendatangkan malapetaka.

Pendidikan membutuhkan upaya membangun akhlaaqul kariimah sebagaimana Rasulullah Muhammad saw menjalani kehidupan dengan sifat-sifat mulianya: shidiq (berkata benar, jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan amanat), fathanah (cerdas). Dengan keempat sifat mulia inilah marilah kita mulai membangun pribadi yang mulia sesuai harapan umat.

Empat karakter kepemimpinan Rasulullah ini harus kita teladani. Pendidikan harus mengajarkan kejujuran kepada anak-anak sejak dini. Tanamkanlah perilaku shidiq (jujur), sekali berbohong akan diikuti dengan kebohongan lain demikian seterusnya sehingga hidup di tengah kebohongan tidak akan mendatangkan keberkahan. Bagaimana mungkin hidup di tengah orang pandai tapi penuh dengan kebohongan.

Selain jujur juga harus amanah. Semua yang melekat dengan manusia hakikatnya amanah yang harus dijaga. Kacaunya semua kehidupan ini karena orang tidak amanah, orang memegang jabatan tidak amanah berarti ia melanggar janji.

Tabligh menjadi landasan lain yang mutlak harus diwujudkan dalam kehidupan. Seorang yang memiliki semangat tabligh sebagaimana sifat Rasulullah saw, akan selalu menyampaikan informasi yang benar. Ia tidak mempunyai agenda lain kecuali untuk kepentingan Islam dan masyarakat muslim.

Fathanah menjadikan manusia sebagai cendekiawan bukan saja cerdik pandai, melainkan ilmuwan yang memiliki keberpihakan kepada masyarakatnya. Sebagai ulil albab yakni cendekiawan yang peduli pada masyarakat. Untuk mewujudkan ini semua perlu adanya kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah dalam usaha memajukan anak-anak dalam menyiapkan masa depannya agar lebih baik.

Oleh karena itu, dalam mendidik anak harus disertai niat dalam rangka dakwah untuk meninggikan kalimat Allah, yakni mewujudkan generasi pemimpin yang bertanggung jawab menuju tercapainya khairu ummah.

Selanjutnya, orang tua juga hendaknya mengenali potensi dari masing-masing anaknya. Orang tua pun berkewajiban mengarahkan dan memberikan stimulasi agar potensi tersebut berkembang. Dalam mendidik anak-anak, orang tua juga perlu menanamkan konsep diri yang positif dan motivasi diri pada mereka. Tanamkan pada diri anak-anak kita bahwa mereka adalah penerus perjuangan Islam, pembela kebenaran, penerap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta menjadi bagian dari ummat yang terbaik. Curahan kasih sayang dan komunikasi yang efektif juga perlu dilakukan dalam mendidik anak-anak. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak kita. Amien. Wallâhu A’lam.