Menahan

0
249 views

by Abd. Muid N.

Kemanusiaan di satu sisi sering dipertentangkan dengan Ketuhanan di sisi yang lain. Anggapan pertentangan ini manghasilkan pemahaman penafian salah satunya demi peneguhan yang lain. Alur pemahaman ini membawa kepada keyakinan bahwa untuk menjadi manusia seutuhnya, manusia harus menegaskan kebebasannya dari aturan apapun termasuk yang disebut Tuhan. Dan sebaliknya, bertuhan/beragama yang baik adalah menenggelamkan kemanusiaan di samudera Ketuhanan hingga yang ada hanya Tuhan dan manusia hanya buih.

Setiap orang beragama pastinya tidak merasa asing dengan konsepsi yang disebut di atas dengan berbagai variannya. Dan setiap orang beragama pula mengenal dengan baik betapa kedua pihak di atas memang akan sangat sulit dipertemukan pada satu titik aman.

Jika kita simak, kedua pemahaman di atas muncul sebagai reaksi bolak-balik antara satu dengan yang lain. Kebebasan untuk kemanusiaan adalah reaksi terhadap ekstrimnya penenggelaman manusia di samudera Ketuhanan. Demikian pula penegasan Ketuhanan dengan menghancurkan kemanusiaan adalah reaksi terhadap kebebasan berlebihan demi kemanusiaan.

Karena itu, patut dicurigai bahwa sesungguhnya kedua sisi itu tersebut sama-sama penting. Hal itu menjadi jelas karena sejarah menunjukkan bahwa penekanan berlebihan terhadap salah satunya akan memicu kehadiran yang lain. Ketika sisi kemanusiaan terlalu menonjol, sisi Ketuhanan akan menggeliat. Dan sebaliknya, ketika sisi Ketuhanan terlalu mencekik, sisi kemanusiaan akan melakukan pemberontakan.

Dalam hal ini, konsepsi al-imsâk (menahan) yang merupakan inti puasa menjadi menarik. Al-imsâk memberikan nuansa makna penghentian gerak sesuatu secara tidak total dan tidak permanen. Penghentian tersebut hanya terjadi pada hal-hal tertentu dan hanya pada periode tertentu pula, kecuali pada hal-hal yang memang bertentangan dengan hakikat kebenaran dan kemanusiaan. Memang ada larangan untuk hal-hal tertentu dalam puasa seperti makan dan minum, tetapi hanya pada periode tertentu pula. Tidak selamanya. Al-imsâk bukan pembumihangusan.

Jika al-imsâk diletakkan di dalam konstelasi pertentangan antara kemanusiaan dan Ketuhanan, maka al-imsâk bisa saja menjadi semacam solusi. Di dalam konsepsi al-imsâk, tidak ada kemanusiaan yang dihancurkan demi eksistensi Ketuhanan dan tidak ada Ketuhanan yang harus hangus akibat pemberontakan kemanusiaan. Memang ada larangan untuk kegiatan-kegiatan manusiawi seperti makan, minum, dan aktivitas berketurunan, namun bukan larangan abadi hingga benar-benar membunuh sisi biologis manusia. Dengan cara seperti itu, sisi kemanusiaan manusia bukan dibumihanguskan, tetapi malah diperlihara dengan cara memberinya aturan. Karena itu, al-imsâk bukan penyiksaan jasmani demi kesejateraan ruhani sebagaimana dipahami dan dilaksanakan oleh beberapa kalangan.

Konsepsi al-imsâk tidak memperhadapkan jasmani dan ruhani serta kemanusiaan dan Ketuhanan dalam posisi diametral bertentangan, namun menempatkannya sebagai dua sisi yang tidak mungkin dipisahkan dalam diri manusia. Mempertentangkan antara keduanya membuat manusia harus memilih di antara dua pilihan buruk: menjadi mayat atau menjadi roh gentayangan.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaJamuan Ilahi
Artikel BerikutnyaSahur