Menafsirkan Musibah

0
54 views

Begitu kita mendengar kata “musibah” maka yang terbayang itu pasti sesuatu yang buruk. Misal, ada teman yang bilang, “eh, si fulan habis kena musibah tuh!” Di pikiran kita pasti timbul pertanyaan, “musibah apaan? Kecelakaan ato kecopetan? Ato kucingnya meninggal?”… iya kan! Persepsi kita tentang musibah selalu menyangkut hal-hal yang buruk atau bernuansa negatif. Coba aja kita perhatikan berita-berita besar di tipi. Ada musibah Tsunami, ada musibah Situ Gintung, musibah longsor, musibah gempa Yogya dan Sumbar, de es be (dan sebagainya). Rasanya ga pernah kita mendengar ada orang yang mengatakan, “saya baru kena musibah karena saya dipromosikan jadi direktur!”

Dalam bahasa aslinya, mushîbah (dari kata: ashâba-yushîbu-mushîbatan) sebenarnya ga selalu berarti hal-hal yang negatif. Arti leterlek dari kata mushibah itu adalah “sesuatu yang menimpa/mengenai”. Kalo makna ini dipanjangin, maka musibah itu berarti sesuatu hal yang menimpa atau terjadi pada seseorang atau sekelompok orang, yang bisa saja berupa hal yang buruk atau hal yang baik. Makanya dalam al-Qur’an ada yang disebut musibah yang buruk dan musibah yang baik (lih. QS. an-Nisâ/4: 79). Bedanya, musibah yang baik datangnya dari Tuhan, sedangkan musibah yang buruk berasal dari kesalahan sendiri.

Kalau kita amat-amati, al-Qur’an setidaknya menggunakan empat istilah yang semakna dengan musibah. Pertama, Tuhan menggunakan istilah balâ. Dalam pengertian ini, segala sesuatu yang terjadi pada seseorang, entah itu baik atawa buruk, maka itu merupakan ujian. Ujian ini dimaksudkan sebagai barometer penilaian seorang hamba di hadapan Tuhan, apakah dia menjadi hamba yang bersyukur atau kufur. Coba buka QS. Al-Mulk/67: 2. Di ayat ini Tuhan jelas mengatakan bahwa hidup – dengan segala kemewahan dan kenikmatan di dalamnya serta kepedihan dan kesulitannya – dan kematian – dengan segala kesedihan yang ditinggalkannya – diciptakan Tuhan untuk menguji siapa di antara manusia yang terbaik amalnya.

Terus, kalau kita sambungkan dengan ayat yang lain (QS. Al-Insân/76: 2-3), dalam hidup ini kita diberi kebebasan menentukan sikap, apakah mau bersyukur atau menjadi kufur. Jadi, “terbaik amalnya” itu bisa kita artikan sebagai siapa yang kufur dan siapa yang bersyukur. Orang yang bersyukur atas segala hal yang terjadi dalam hidupnya, hingga kematian menjemputnya, dialah orang yang dinilai memiliki amal yang terbaik. Sampai di sini kita bisa bertanya, “bersyukur pada saat mendapatkan hal yang baik gampang, tapi gimana caranya bersyukur kalo yang menimpa kita itu adalah hal yang buruk?” Ini butuh penjelasan lain friend. Kita kelarin aja dulu bahasan kita tentang musibah, masalah pertanyaan ini, kita bahas lain kali, ok? Peace man! Yang pasti, balâ ini ingin men-drive kita agar bisa selalu mengontrol diri dan mengelola batin agar “pada saat senang tidak keblinger atau jumawa alias lupa daratan, dan pada saat susah atau menderita tidak putus asa dan lupa ingatan alias stress”. Toh, hidup kita ini kan cuma dua itu, kalo ngga senang ya susah…. Paling-paling kalau mau diambil tengah-tengahnya, ibarat kata orang: “senang ngga susah juga ngga” alias pas-pasan. Nah, yang terpenting di sini, bukan senang atau susahnya, tapi cara kita menyikapinya, apakah kita BERSYUKUR atau KUFUR!

Kedua, al-Qur’an juga menggunakan istilah fitnah. Di salah satu ayat Tuhan mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap fitnah yang bisa menimpa siapa saja, mau orang baik atau orang jahat, semuanya kena (QS. Al-Anfâl/8: 25). Nah, kalau bicara masalah fitnah, ini berkaitan dengan masalah amanah. Fitnah dalam pengertian ini bisa kita artikan sebagai sesuatu yang menimpa seseorang atau sekelompok orang/suatu kaum, bisa dalam bentuk hal baik atau hal buruk, sebagai akibat dari pengelolaan terhadap suatu amanah. Kalau amanah itu dikelola dengan baik, akibatnya baik; sebaliknya kalau pengelolaan amanah itu buruk, maka akibatnya juga buruk. Contoh konkrit. Alam ini adalah amanah dari Tuhan untuk dikelola dan dikembangkan secara baik. Jika itu dilakukan sesuai amanah Tuhan, alam ini akan memberikan kebaikan berlimpah bagi manusia; sebaliknya jika amanah pemeliharaan ini dilalaikan, maka alam berubah menjadi bencana yang menakutkan. Karena itu, Tuhan berkali-kali mengingatkan agar jangan melakukan kerusakan di muka bumi (seperti dalam QS. Al-Baqarah/2: 11, al-A’raf/7: 56 dan beberapa lagi).

Contoh lain dalam makna fitnah ini adalah QS. At-Tagâbun/64: 15. Di ayat ini Tuhan mengingatkan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Itu artinya, harta dan anak butuh pengelolaan secara baik, sebab jika tidak terkelola dengan baik, harta dan anak itu bisa berakibat buruk alias menjadi fitnah bagi pemiliknya atau orang tuanya. Jadi ga salah kalo kita mengatakan harta dan anak itu bisa membawa kita ke surga atau neraka, tergantung gimana kita mengelolanya atau memeliharanya.

Nah, dalam urusan fitnah ini agak berat juga urusannya bos. Keimanan kita bisa menjadi hampa karena fitnah atau dengan kata lain karena gagal mengelola amanah. Entah itu amanah yang besar (alam semesta) atau yang kecil (harta dan anak, bahkan diri sendiri). Makanya Tuhan mengingatkan dalam QS. Al-Ankabût/29: 2 bahwa Tuhan tidak akan membiarkan seseorang mengaku dirinya beriman, sementara dia belum diberi fitnah, artinya belum teruji mengemban suatu amanah. Jadi, kita perlu berhati-hati masalah fitnah ini.

Ketiga, ada lagi istilah ‘iqâb atau âqibah. Kalo disederhanain sih artinya “akibat”. Untuk makna ini lebih kepada ganjaran yang diberikan Tuhan kepada manusia, khususnya yang kufur atau mendustakan kebenaran dari Tuhan. Sehingga, penggunaan kata ini dalam al-Qur’an lebih banyak menunjuk kepada ancaman Tuhan terhadap orang-orang kafir atau mendustakan agama. Jadi konteksnya bukan bencana atau ujian, melainkan siksaan. (misalnya QS. Ali ‘Imran/3: 137; al-A’raf/7: 84; Yunus/10: 39, dan beberapa lagi yang lain).

Terakhir, adalah kata mushibah itu sendiri. Nah, semua yang dibahas di atas itu masuk dalam kategori musibah ini. Kalau mau disimpulkan, maka kira-kira begini:

1.      Musibah itu bisa berarti hal-hal yang baik bisa juga hal-hal yang buruk.

2.      Semua hidup kita ini, mulai dari bernafas sampai nafas terakhir adalah musibah, sebab semua yang terjadi pada kita adalah ujian Tuhan untuk menilai apakah kita BERSYUKUR atau KUFUR, dan itu adalah pilihan kita.

3.      Beberapa hal dalam hidup kita ada yang merupakan amanah, yang bisa berdampak baik tapi juga bisa berdampak buruk; tergantung bagaimana kita mengelolanya. Dan Tuhan menyebut itu sebagai fitnah, artinya jika dikelola dengan baik akan memberikan kebaikan bagi kita, dan kalau gagal mengelolanya maka akan berakibat buruk bagi kita.

4.      Tuhan memberikan ancaman berupa siksaan hanya bagi orang-orang kafir dan yang mendustakan kebenaran.

5.      Sehingga, jika ada hal buruk yang terjadi pada suatu kaum atau seseorang yang beriman dan tetap taat pada Tuhan, maka bisa dipastikan itu bukan siksa, melainkan ujian atau fitnah. Orang beriman bisa gagal dalam ujian dan juga bisa gagal dalam mengelola amanah, sehingga bisa saja dia mendapatkan akibat buruk dari kegagalannya itu. Dan itu adalah MUSIBAH!

6.      The end.