Memuda

0
45 views

Oleh Abd. Muid N.

Dari ayat ke-39 Surah Yâsîn, manusia bisa belajar dari bulan. Di situ dikisahkan bulan pernah tidak menghias langit lalu dia ada dalam bentuknya yang paling awal, tipis. Waktu yang berlalu mengantar bulan semakin dewasa dan menebal hingga mencapai purnama sempurna. Itulah puncak keanggunan dan rembulan. Namun setelah itu, bulan mulai memasuki masa penurunannya, meningglkan masa keemasannya dan menuju kepada kemunduran. Dia mulai menipis. Waktu yang berlalu membuatnya menghilang ditelan kegelapan malam.

Ayat dari Surah Yâsîn itu berbunyi: Wal qamara qaddarnâhu manâzila hattâ ‘âda kal ‘urjûnil qadîm, yang berarti: Dan telah Kami (Allah) tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah sehingga (setelah sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang sudah tua.

Ayat itu mengumpamakan kronologi perjalanan hidup manusia dari sejak lahir hingga dewasa dan menapak hari-hari tua. Ada kemungkinan, yang dimaksud dalam ayat di atas adalah kronologi perjalanan hidup manusia secara fisik. Dalam surah yang sama di ayat berbeda disebutkan: Wa man nu’ammirhu nunaqqishu fil khalq, yang berarti: Dan siapapun yang Kami (Allah) panjangkan umurnya, kami kurangi kemampuan fisiknya.

Lalu bagaimana dengan perjalanan kehidupan ruhani? Banyak yang menduga perjalanan hidup ruhani berbeda, bisa menua seperti fisik, namun juga bisa tidak. Tergantung pada manusianya. Dalil yang dipakai oleh pemahaman ini adalah ayat yang berbunyi: Wa nufikha fîhi min rûhî, yang berarti: Dan ditiupkan padanya dari ruh-Ku.

Karena ruh ditiupkan langsung dari ruh-Nya, maka sejatinya ruh tidak mendapatkan dampak dari perubahan waktu dan tempat. Namun kedekatan hubungan antara jasad dan ruh ketika menyatu pada sosok manusia membuat keduanya saling memengaruhi. Ruh menjadi ada kemungkinan mengalami ketidakstabilan. Karenanya, meski tidak menua, ruh bisa-bisa berada pada kondisi tidak layak ketika suatu saat harus berpisah dengan jasad. Itulah yang disebut dengan sû’ al-khâtimah, kehidupan yang berakhir dengan buruk. Sedangkan ruh yang berpisah dengan jasad dalam keadaan layak disebut husn al-khâtimah, kehidupan yang berakhir dengan baik.

Hubungan antara ruh dengan jasad bisa diumpamakan telur. Jasad adalah cangkang telur dan ruh adalah isinya. Jika dierami dengan baik, sebuah telur akan menetas dengan baik lalu benih ayam yang ada di dalam telur bisa keluar dengan sempurna dalam bentuk anak ayam. Begitu pula manusia yang ditempa dengan baik akan melahirkan manusia yang sempurna dan jika saatnya ruh dan jasad terpisahkan, ruh yang keluar adalah ruh yang layak berjumpa dengan Allah swt yang adalam istilah al-Quran, al-nafs al-muthmainnah.

Memang al-Quran tidak mamakai istilah al-rûh al-muthmainnah, tetapi al-nafs al-muthmainnah karena penyatuan antara jasad dan ruh itulah yang menghasilkan al-nafs. Manusia yang ditempa dengan baik berarti ditempa bukan hanya aspek jasadnya, namun juga aspek aspek ruhnya. Meski jasad sudah pasti menua, ruh bisa saja memuda.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaImsak
Artikel BerikutnyaLaylat Al-Qadr