Memenuhi Akad

0
41 views

Dalam kehidupan ini ada aqad-aqad atau perjanjian yang kita lakukan, baik kepada Allah Swt maupun kepada manusia yang kesemuanya harus kita tunaikan karena hal ini merupakan sesuatu yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt dalam kehidupan di akhirat nanti. Bahkan, perjanjian dengan manusia pun akan dimintai pertanggungjawaban di dunia ini.

Keharusan kita memenuhi aqad atau janji disebutkan dalam firman Allah Swt: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali yang akan dibacakan kepadamu (QS Al Maidah [5]:1).

Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Dhilalil Qur’an menyatakan bahwa yang dimaksud dengan uqud adalah semua pedoman hidup yang ditetapkan oleh Allah. Karena ada banyak aqad yang harus dipenuhi.

1.   Aqad Keimanan

Sejak di dalam kandungan, manusia telah berjanji bahwa ia akan menjadikan Allah Swt sebagai Tuhannya sehingga setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah dalam arti suci dari dosa dan telah memiliki warna dasar tauhid atau keimanan kepada Allah Swt, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS Al A’raf [7]:172).

 Sesudah manusia menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, maka ia dituntut oleh aqad imannya itu untuk menerima pengharaman dan penghalalan dari Allah Swt saja, ini berarti seorang mukmin harus membuktikan komitmennya kepada Allah Swt dengan melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi yang dilarang-Nya. Hal ini juga menjadi keharusan bagi manusia, apalagi ia selalu berjanji di dalam shalatnya untuk selalu mengabdi kepada Allah Swt. Keharusan memenuhi aqad keimanan disebutkan dalam firman Allah Swt: Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat (QS An Nahl [16]:91).

 

2.   Aqad Nikah

 Aqad nikah merupakan suatu perjanjian yang amat kuat antara seorang bapak dan anaknya yang perempuan dengan seorang lelaki yang setelah aqad itu dinyatakan sah menjadi menantu dan suami dari anaknya, Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah miytsaqan ghaliyzha (perjanjian yang amat kuat) sebagaimana yang difirmankan Allah Swt: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang amat kuat (QS An Nisa [4]:21).

Penggunaan kata miytsaqan ghaliyzha di dalam Al-Qur’an juga digunakan oleh Allah Swt untuk menyebut perjanjian para Nabi dalam mengemban tugas perjuangan menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran Islam, Allah Swt berfirman: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang amat kuat (QS Al Ahzab [33]:7)..

Oleh karena itu segala konsekuensi yang terkait dengan aqad nikah ini harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh kedua belah pihak, inilah perjanjian yang amat kuat sehingga jangan sampai terjadi pengkhianatan diantara keduanya, Allah Swt berfirman: Hai orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah kepada mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS An Nisa [4]:19).

Dengan demikian, sesudah aqad nikah, seorang muslim harus merasa dan mau terikat sebagai suami isteri dengan segala konsekuensinya, terikat pula dalam ikatan kekeluargaan, terikat dalam satu nilai yang datang dari Allah Swt dalam tatanan keluarga dan terikat sebagai orang tua bila suami isteri dikaruniai anak.

3.   Aqad Jual Beli

 Perdagangan atau jual beli merupakan perkara yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan bisa dipastikan bahwa tidak ada manusia yang luput dari urusan jual beli, baik dalam kapasitasnya sebagai penjual maupun sebagai pembeli. Oleh karena itu, jual beli merupakan aqad atau transaksi yang tidak boleh mengandung unsur-unsur penipuan atau kebohongan. Seorang pedagang jangan sampai mengkhianati pembeli, karena ada saat dimana iapun bertindak sebagai pembeli yang pasti tidak suka bila dibohongi oleh pedagang, demikian pula sebaliknya. Disinilah letak pentingnya seorang muslim tidak boleh mengurangi takaran, timbangan atau ukuran saat melakukan urusan jual beli, ini merupakan ketentuan yang sudah berlangsung lama sehingga menjadi wasiat Nabi-Nabi terdahulu terhadap umatnya, misalnya Nabi Syu’aib berpesan kepada umatnya tentang hal ini sebagaimana Allah Swt berfirman: Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan (QS Hud [11]:85)

 Disamping mengurangi takaran, timbangan atau ukuran, termasuk kebohongan dalam jual beli adalah menyembunyikan cacat dengan membuat istilah yang muluk-muluk seperti barang yang tidak layak ekspor dikatakan sisa ekspor, pemalsuan merk, negara produsen, terlalu menyanjung barang yang dijual sampai menjual barang yang batas waktunya sudah kadaluarsa. Manakala ada kebohongan dalam jual beli sehingga salah satu pihak mengalami kerugian meskipun tidak disadarinya, maka hal ini membuat tercabut keberkahan jual beli itu, Rasulullah Saw bersabda:

 اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Jual beli itu didasarkan atas kehendak memilih selama keduanya belum berpisah, jika keduanya berlaku jujur dan jelas, maka diberkahilah jual belinya, dan jika keduanya berdusta serta saling menyembunyikan, maka dihapuslah berkah atas jual belinya (HR. Bukhari dan Muslim).

4.   Aqad Perjanjian Umum

Selama tidak mengandung kemaksiatan dan membawa kerusakan, segala aqad yang bersifat umum harus dipenuhi agar citra dirinya sebagai seorang mukmin tidak menjadi jelek, baik dihadapan sesama muslim apalagi dengan non muslim yang bisa jadi bila “noda setitik rusaklah susu sebelanga” dalam arti kalangan non muslim menganggap semua muslim orang yang suka mengkhianati perjanjian meskipun yang berbuat demikian hanya seorang muslim saja. Aqad-aqad yang harus dipenuhi itu misalnya bila seorang muslim jadi pejabat atau pemimpin ia harus melayani orang dipimpinnya agar bisa menjalani kehidupan yang baik, bila seseorang berutang kepada orang lain, maka ia harus membayarnya, bahkan bila ia mati keluarganya harus menanggung utang itu, begitulah seterusnya.

Apabila seorang muslim tidak memenuhi aqad kepada Allah maupun kepada orang lain, cukuplah baginya untuk dikelompokkan sebagai orang yang munafik, Rasulullah Saw bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ئْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia melanggar dan jika dipercaya ia berkhianat (HR. Bukhari).

 

          Dari uraian di atas, dapat kita ambi sebuah pelajaran bahwa setiap orang yang telah mengaku beriman kepada Allah, ia harus memenuhi segala aqad dengan Allah maupun dengan sesama manusia meskipun manusia itu bukan seorang muslim. Karenanya seruan yang terkandung dalam ayat yang kita bahas ini untuk orang-orang yang beriman.

 

Drs. H. Ahmad Yani