Membuka Tabir Lebaran Pekanan

0
47 views

wakrizki.netHari Jumat merupakan hari pilihan Allah bagi umat Islam. Ia juga menjadi salah satu momen penyatuan barisan umat, penambah iman dan semangat. Namun yang disayangkan, masih banyak umat Islam yang belum memahami keistemawaan sayyidul ayyam (pemimpin hari-hari) ini. Hal ini terlihat dari kurangnya antusias para Muslim dalam menyambut hari penuh istimewa ini. Mungkin karena hari libur pekanan nasional di negara kita adalah hari Ahad dan bukan Jum’at (berbeda dengan negara-negara Timur tengah yang menjadikan Jum’at sebagai libur pekanan), hingga masih banyak dari kita yang kadang terlena dengan kegiatan, rutinitas dan aktivitas hariannya hingga tidak dapat menggunakan momen emas ini. Atau memang kurangnya pemahaman kita akan urgensi dan posisi hari Jum’at dalam agama kita. Tulisan ini ingin sedikit mengungkap urgensi dan “misteri” hari spesial ini.

Hari Jum’at memiliki posisi dan urgensi yang besar dalam Islam, ia merupakan hari lebaran pekanan dimana para muslim berkumpul untuk melaksanakan sholat dan zikir. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (QS Al Jumuah [62]:9).

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan beberapa hadis dari Abu Hurairah dan sahabat lainnya bahwa Rasulullah saw bersabda: “Allah memalingkan hari Jum’at dari orang-orang sebelum kita, Yahudi memiliki hari Sabtu, Nasrani memiliki hari Ahad, maka Allah swt jadikan hari Jum’at untuk kita (umat Islam). Allahpun telah mengarahkan hari Jum’at kepada kita. Sebagaimana Allah swt telah menjadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad maka Ia menjadikan mereka (Yahudi dan Nasrani) pengikut kita pada hari kiamat”.  

Imam ‘Aini dalam kitabnya ‘Umdatul Qori menjelaskan asal kata Jum’at. Ia dapat dibaca dengan beberapa harokat. Imam Al-Wahidy membaca dhommah huruf mim-nya (جمُعة) dan ini merupakan pendapat yang terkenal. Ada juga yang membaca dengan sukun atau fathah. Imam Al-Farro menceritakan bahwa Imam Al-’Asya membacanya dengan takhfif (جمُعة) sedangkan Imam ‘Asim dan Ulama Hijaz membacanya dengan tatsqil (جمُّعة).

Jum’at berarti berkumpul, namun para Ulama berbeda pendapat tentang sebab penamaan hari ini dengan Jum’at. Dalam sebuah riwayat dari Imam Ibnu Abbas ra beliau berpendapat bahwa hari ini dinamakan hari Jum’at karena pada hari ini Allah mengumpulkan bentuk atau ciptaan Nabi Adam as. Ada juga yang berargumen bahwa sebab penamaannya adalah berkumpulnya Quraisy di Qushai, tepatnya di Darun Nadwah. Kelompok lain berpendapat bahwa sebab penamannya adalah karena hari kiamat akan terjadi pada hari ini, dimana manusia dan seluruh makhluk akan berkumpul pada hari itu. Pendapat terakhir dari Imam Ibnu Hazm ra yang mengatakan bahwa Jum’at adalah nama yang islami dan tidak ada sebelumnya pada masa jahiliyyah, karena mereka menamakannya al-‘Arubah. Kemudian ketika Islam telah datang maka mereka menamakannya al-Jum’ah karena umat Islam berkumpul pada hari itu untuk melaksanakan shalat.

Hari Jum’at termasuk hari yang ditakuti oleh para musuh Islam, karena pada hari itu sangat tampak persatuan umat Islam hingga ia menimbulkan pengaruh yang menakutkan hingga dapat mengguncang jiwa musuh-musuh Allah swt.

Dalam buku al-Khitobah ad-Diniyyah nadzhoriyyan wa ‘amaliyan (Pidato Agama, teori dan praktek) yang dikarang tim dosen Jurusan Dakwah dan Pengetahuan Islam Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo terdapat ungkapan menarik dari Mr. Gladistson (seorang Perdana Menteri Inggris pada akhir abad Sembilan belas) bahwa ia pernah menyampaikan sebuah pidato pada perkumpulan umum orang-orang Inggris dan berkata: “Penjajahan kita tidak akan dapat bertahan dan tegak di Timur tengah kecuali kalau kita dapat menghapus dan menghilangkan tiga hal; mushaf, shalat Jum’at dan wukuf di Arafah”. Saat itu tangannya sedang memegang mushaf dan menjulurkannya, lalu salah seorang dari mereka ada yang maju dan dengan penuh semangat ia langsung mengambil dan menyobek-menyobeknya, maka Gladistson menegurnya dan menjelaskan bahwa yang ia maksud bukanlah seperti ini (dengan merobek mushaf) tapi maksudnya adalah merobek-robek dan mencabik-cabiknya dari hati para Muslim.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada tiga hal penguat dan pokok yang harus diperhatikan oleh umat Islam dalam membangun pertahanan dan benteng keislaman. Pertama, mushaf dengan ajaran-ajarannya, aturan-aturannya, arahan-arahannya, petunjuknya, cahayanya, zikirnya dan ilmunya dimana ia dapat menguasai setiap individu dan jiwa-jiwa Muslim. Ia menjadi penerang setiap individu Muslim.

Kedua, Jum’at dengan keagungannya dan ketinggian derajatnya merupakan perkumpulan Islam pekanan yang dapat membersihkan hati ketika bertumpuknya penyakit, kelalaian dan kesulitan. Ia sebagai ladang service hati dan chun up pekanan, hingga para Muslim dapat melanjutkan perjalanan seminggu kedepan dengan penuh bekal iman dan takwa.

Pentingnya hari Jum’at juga kami rasakan saat Revolusi 25 Januari tahun lalu. Masyarakat Mesir sangat menggunakan momen mingguan ini sebagai sarana pemersatu umat. Hal ini terjadi baik sebelum atau setelah reformasi. Arti ied usbu’i (lebarana pekanan) ini sangat terlihat saat penggulingan rezim Husni Mubarok. Dimulai dari Jum’at Ghodob (Jumat kemarahan) hingga Jum’at rahl (Jumát pengusiran) dan berakhir dengan turunnya Presiden diktator yang telah berkuasa dalam sepuluh dekade ini.      

Dan ketiga adalah ‘arafah dengan keagungan dan kemuliaannya merupakan sebuah perkumpulan Islam yang besar dan diadakan setiap tahun sekali, dimana ia dapat mengangkat persatuan dan menyerukan keesaan Tuhan. Tidakkah akal dan pikiran kita memperhatikan hal-hal yang digemborkan para musuh Islam dalam usaha menghancurkan Islam; Al-Quran, Jum’at dan haji. Atau kita telah lupa dan lalai akan keagungan dan anugrah yang telah Allah berikan pada umat ini. Fa’tabiru ya ulil abshor (perhatikanlah wahai orang yang berakal) !!!

Dari sinilah tugas para juru dakwah untuk menjelaskan kepada para Muslim akan pentingnya al-Quran dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah swt, karena itu merupakan ketakwaan hati. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Hajj ayat 32: “Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa saja mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati ”.

Urgensi dan kedudukan hari Jum’at yang sangat agung ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaannya. Kita juga dapat menemukan banyak hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan hari ini. Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at, di dalamnya Nabi Adam as diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya”. Dan dalam riwayat lain menjelaskan bahwa kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at. Kita juga dapat menemukan bahwa Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dalam kitabnya Zadul ma’ad fi hadyi khoiril ‘ibad menyebutkan lebih dari tiga puluh keutamaan hari Jum’at ini. Mungkin kami akan berikan beberapa diantaranya. Adapun yang ingin melihat penjelasannya secara lebih lengkap dan detail maka dapat merujuk ke kitab yang telah disebutkan.

Dari Anas bin Malik ra berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Jibril pernah mendatangiku dan ditangannya seperti kaca putih yang terdapat di dalamnya beberapa noda hitam, lalu saya bertanya apa ini wahai Jibril? Lalu ia menjawab: ini adalah Jum’at dimana saya diutus padamu agar ia menjadi lebaran bagimu dan umatmu setelah-wafat-mu. Lalu saya bertanya: “bagaimana keadaan kami di dalamnya wahai Jibril?.” Ia menjawab: “di dalamnya kalian memiliki kebaikan yang banyak, kalian adalah orang-orang yang hidup terakhir namun yang pertama pada hari kiamat, dan di dalamnya terdapat  waktu dimana seorang hamba muslim shalat dan meminta sesuatu pada Allah swt lalu Ia pasti kabulkan, dan dia adalah tuannya para hari (sayyidul ayyam), dan kami menamakannya hari tambahan (yaumal mazid).

Keutamann Jum’at sudah sangat cukup dengan adanya sebuah surat yang ”utuh” dan lengkap dalam al-Quran yang bernama surat al-Jum’ah, dan Allah swt juga menyeru kepada orang Islam agar berkumpul  untuk menunaikan shalat pada hari ini dimana hal ini tidak terdapat pada hari-hari lainnya. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk sholat pada hari Jum’at maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (QS Al-Jum’ah [62]:9).

Dan tidaklah seruan itu kecuali untuk kebaikan yang Allah swt inginkan bagi para hamba-Nya yaitu dengan mendengarkan nasehat dan zikir. Allah swt juga telah mencela orang-orang yang meninggalkan Rasulullah saw ketika ia berdiri sedang berkhutbah Jum’at. Ditambah lagi bahwa khutbah pada shalat Jum’at merupakan pengganti dari dua reka’at pada sholat zuhur di hari-hari lainnya. Sebagaimana yang kita tahu bahwa satu-satunya ibadah yang tidak bisa diganti selama kita hidup adalah shalat. Shalat merupakan ibadah yang tidak dapat kita tinggalkan walau dalam keadaan bagaimanapun, maka tidaklah sebuah amal yang mengganti sebuah ibadah yang mulia ini melainkan ibadah tersebut memang benar-benar mulia.

Wallahu wa Rosuluhu ‘ala wa ‘alam.

Falah Abu Ghuddah

Mahasiswa Jurusan Hadis Universitas  Al-Azhar dan

Akademi Al-Asyiroh Al-Muhammadiyah Kairo

BAGI
Artikel SebelumnyaBunda of Arabia
Artikel BerikutnyaGurutta