Memahami Perbedaan

0
48 views

Persatuan, ta’liful qulub, kerapian, dan kekokohan barisan merupakan hal yang harus menjadi sasaran kerja bagi para da’I dan aktivis Islam. Mereka harus menjauhi perselisihan dan perpecahan serta menghindari segala hal yang dapat memecah belah umat. Tidak dipungkiri, perselisihan menimbulkan kerusakan pada hubungan baik sesama mereka dan melemahkan agama umat dan dunianya.

Islam merupakan agama yang mengajak kepada persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling menolong dan membantu, serta mengecam perpecahan dan perselisihan. Dalam Al-Qur’an tegas disebutkan bahwa kendatipun kaum muslimin berbeda jenis, warna, negeri, bahasa dan tingkatan, mereka adalah satu umat. Untuk itu, Al-Qur’an menjelaskan juga sejumlah adab dan akhlaq utama yang akan melindungi ukhuwah dari segala hal yang mengancamnya, seperti sikap suka menghina, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk, buruk sangka, memata-matai dan menggunjing (QS. Al-Hujurat :11-12).

Kondisi umat Islam yang dapat kita saksikan di sekitar kita belakangan ini terasa mulai memprihatinkan. Gesekan-gesekan dan perselisihan kerap terjadi. Oleh karena itu, ada baiknya kita kembali mempelajari dan memahami perbedaan yang terjadi dengan menambah wawasan kita mengenai Fiqh ikhtilaf agar  kita bisa menyikapi perbedaan dengan bijak. Kita juga dituntut untuk bisa memahami mana perbedaan yang dibolehkan dan mana perpecahan yang dilarang. Salah satu sumber bacaan yang kiranya dapat membantu kita menelaahnya adalah buku Fiqih Perbedaan Pendapat antar Sesama Muslim yang ditulis oleh ulama besar, Dr. Yusuf Qaradhawi.

Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya menilai jika ada orang-orang yang ingin menyatukan kaum muslimin dalam satu pendapat tentang hukum-hukum ibadah, muamalat, dan cabang-cabang agama lainnya, maka sebenarnya mereka menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Ini karena perbedaan dalam memahami hukum-hukum syariat yang tidak bersifat asasiyah (prinsip dan mendasar) adalah merupakan suatu kemestian.

Beliau menyebutkan bahwa sebuah kemestian di atas disebabkan oleh tabiat agama (Islam), tabiat bahasa (syariat), tabiat manusia, tabiat alam dan kehidupan.

Tabiat Agama (Islam)

Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mampu menjadikan agama ini satu bentuk dan sisi pemahaman yang tidak memungkinkan adanya perbedaan dan tidak memerlukan ijtihad. Namun Allah menghendaki bahwa di antara hukum-hukumNya ada yang manshush ‘alaih (ditegaskan secara eksplisit) dan maskut ‘anhu (implisit). Di antara yang ditegaskan secara eksplisit pun ada yang muhkamat dan mutasyabihat, qath’iyat (pasti) dan dhaniyat (belum pasti), sharih (jelas) dan mu’awwal (memungkinkan adanya penafsiran).

Dalam memasuki tahap pemahaman dan penafsiran inilah muncul potensi perbedaan dan perselisihan. Namun, perselisihan masih bisa ditoleransi jika didasarkan kepada pengetahuan orang yang melakukannya tanpa disertai permusuhan dan celaan terhadap orang yang berbeda dengannya yang mengakibatkan rusaknya hubungan dan lemahnya Islam.

Tabiat Bahasa

Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diungkapkan dalam wujud teks-teks bahasa dan lafal. Dalam memahaminya,kita harus mengikuti kaidah-kaidah bahasanya baik menyangkut arti bahasanya maupun susunan kalimatnya. Di dalamnya terdapat lafal musytarak; yang memiliki lebih dari satu arti. Ada pula yang mengandung arti sebenarnya dan arti kiasan (majas). Ada yang bersifat ‘aam (umum) dan khas (khusus), ada mutlaq dan muqayyad. Masing-masing darinya ada yang memiliki dalalah qathi’ah (pasti penunjukannya), ada pula yang memiliki dalalah muhtamalah (tidak pasti penunjukannya). Ada yang oleh seorang ulama dinilai rajihah (kuat), tetapi dinilai oleh ulama lain marjuhah (tidak kuat). Perbedaan-perbedaan dari tabiat bahasa inilah yang memungkinkan  sebab timbulnya perbedaan para fuqaha.

Tabiat Manusia

Allah menciptakan manusia beraneka ragam. Setiap orang memiliki kepribadian, pola pemikiran, kecenderungan, pandangannya terhadap sesuatu, dan tabiat tersendiri. Tidak mungkin mengusahakan untuk mempersatukan manusia (khususnya umat Islam) dalam segala bidang ke dalam satu pola atau bentuk dan menghapuskan perbedaan di antara mereka.

Di antara mereka ada orang yang cenderung kepada sikap “ketat” dan ada pula yang cenderung kepada sikap “agak longgar”. Ada yang mengambil zahir nash (tekstual), ada pula yang mengambil kandungan dan jiwa dari nash (kontekstual). Ada yang suka bertanya tentang kebaikan, ada pula yang suka bertanya tentang keburukan karena takut menghadapinya. Begitulah tabiat manusia, tidak sama, sekalipun di antara dua saudara kandung.

Tabiat Alam dan Kehidupan

Tabiat alam yang kita tempati sekarang ini  diciptakan oleh Allah dalam beraneka ragam bentuk, iklim dan warna. Demikian pula tabiat kehidupan. Ia senantiasa beraneka ragam dan berubah, sesuai dengan factor-faktor pengaruh yang beraneka macam seperti tempat dan zaman.

Selanjutnya penulis juga mengungkapkan bagaimana sebuah perbedaan merupakan rahmat, dan bagaimana membedakan siapa yang termasuk ahlur rahmah dan siapa yang termasuk ahlul ikhtilaf.

Penulis juga menegaskan bahwa perselisihan dalam masalah-masalah furu’iah tidak akan berbahaya apabila kita telah sepakat atas masalah-masalah prinsip dan sasaran-sasaran umum serta tanpa mengakibatkan perpecahan dan permusuhan.

Hal tersebut akan dicapai manakala kita mengetahui fikhul ikhtilaf, adabul ikhtilaf, dan landasan-landasan ilmiah serta moralnya yang dalam buku ini dibahas  secara komprehensif dan mendetail.