Melestarikan Tradisi Ramadhan-1

0
57 views

Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Hari ini kita sudah memasuki pertengahan bulan Syawal, itu artinya sudah dua minggu kita ditinggalkan oleh Bulan Ramadhan, bulan yang sebelum tiba begitu banyak didamba, begitu banyak yang menunggunya demi meraih  beragam keutamaan.  Ramadhan memang sudah seharusnya memiliki arti tersendiri bagi setiap mukmin yang ingin meraih predikat taqwa di mata Allah swt, menjadi manusia yang paling mulia dalam pandangan-Nya, karena memang di bulan ini Allah saw memberikan kita kesempatan menikmati puasa dengan sekian banyak kebaikan yang menyertainya –La`allakum tattaquun”.

Hadirin yang dirahmati Allah…

Kata syawal yang secara bahasa berarti meningkat, maka seharusnya bulan ini memberikan dorongan kuat kepada kita semua untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan.  Sadar atau tidak, kita telah dilatih untuk menunaikan sekian banyak aktifitas kebaikan di bulan tersebut. Ada sekian banyak hal yang seharusnya bisa kita lanjutkan bahkan kita tingkatkan, sehingga nilai yang kita fahami bisa lahir menjadi aktifitas nyata dan bahkan menjadi kebiasaan yang akan melahirkan karakter tersendiri dalam diri kita sampai  semuanya mentradisi dalam kehidupan nyata kita.

Inilah beberapa hal yang sudah kita biasakan di bulan Ramadhan yang kita harapkan bisa lestari;

Pertama : Bangun Malam

Begitu kita memasuki bulan Ramadhan, maka syariat awal yang telah kita jalankan adalah makan sahur. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Sahurlah maka sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan”

(HR. Bukhori, Muslim , Nasai dan Ibnu Majah)

Ada banyak keberkahan yang akan didapatkan ketika seseorang bangun dimalam hari untuk makan sahur.  Keberkahan berarti tambahnya kebaikan, maka ada banyak kebaikan yang akan kita peroleh. Sudah pasti, dengan sahur seseorang akan lebih siap menghadapi puasanya karena tubuhnya akan lebih kuat menahan lapar dan dahaga, namun tentunya tidak hanya itu. Kebaikan lain yang mesti kita sadari dan syukuri adalah kita telah dibiasakan untuk bangun malam, bangun di pertiga malam demi melakukan aktifitas mulia; sahur itu sendiri, udara terbersih di alam ini juga ada pada jam-jam tersebut-demikian kata para ahli-, kita bisa bercengkrama dengan anggota keluarga dalam suasana ibadah, sebagian kita ada yang menambah dengan shalat tahajjud, banyak beristighfar dan berdoa dll.

Kita dapat simak sabda Rasulullah saw yang menggambarkan mulianya aktifitas ibadah pada jam-jam tersebut,

إذا استيقظ الرجل من الليل و أيقظ أهله و صليا ركعتين كتبا من الذاكرين الله كثيرا و الذاكرات

“Jika seorang laki-laki bangun di malam hari dan membangunkan istrinya, dan mereka berdua menunaikan sholat dua rakaat maka keduanya akan di catat termasuk orang-orang yang banyak berdzikir dari keum laki-laki dan berempuan”

(HR. Abu dawud)

Demikianlah dua rakaat yang dilakukan dengan kebersamaan keluarga di waktu tersebut dinilai sebagai aktifitas agung sehingga pelakunya pantas dicatat sebagai orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah swt.  Dan ternyata kalau kita simak ayat yang menggambarkan ciri orang-orang bertaqwa, kita akan mendapati firman-Nya. “Wabil Ashaari hum yastaghfiruun” dan pada waktu-waktu sahur mereka (orang-orang yang bertaqwa) itu beristighfar”. Tentunya ayat ini tidak sedang bicara tentang puasa, oleh karenanya kita berharap agar kebiasaan baik, tradisi bangun malam kita di bulan Ramadhan itu bisa kita lestarikan pada bulan-bulan berikutnya dan di mulai peningkatannya di bulan syawal ini, yang tentunya dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang dapat meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah swt , semoga.

Hadirin yang dirahmati Allah, kebaikan kedua yang perlu kita lestarikan adalah

Gemar  ke Masjid

Dapat kita saksikan bersama, masjid yang sebelum Ramadhan terkadang sepi dari jama’ah, tiba-tiba membludak. Bahkan banyak yang sudah menaruh sajadahnya jauh sebelum waktu isya’ demi mendapatkan tempat untuk sholat taraweh, fenomena ini selalu terjadi di awal Bulan Ramadhan. Semangat beribadah sedang memuncak, gelora cinta masjid sedang meninggi. Sholat shubuh yang biasanya hanya satu-dua shof saja hari itu menjadi penuh.

Demikianlah, sadar atau tidak sadar kita sedang terlatih untuk banyak mengunjungi masjid, tentunya untuk beribadah. Karena kita berharap menjadi pribadi yang senantiasa melakukan aktifitas ketaqwaan maka kebiasaan yang dapat dikatakan telah mentradisi di bulan Ramadhan harus kita pertahankan dan lestarikan, karena ini adalah satu kebaikan tersendiri

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى            : { إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ }

“Rasulullah saw bersabda : “Jika kalian melihat seseorang yang terbiasa ke masjid maka saksikanlah bahwa dia orang beriman, Allah swt berfirman : ”Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir” (HR. At-Turmudzi)

dalam sabdanya yang lain beliau menyatakan :

 “Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad)

Hadirin yang dirahmati Allah…. Kalau di bulan Ramahan begitu gemar kita ke masjid untuk melakukan sekian banyak aktifitas ibadah, maka sudah sepantasnya  di bulan ini ada semangat tersendiri untuk mempertahankan dan melestarikannya dalam diri kita, karena kita tidak hanya ingin baik di bulan Ramadhan saja namun kita ingin akan berupaya menjadi baik kapan saja.

Hadirin rahinahullah…

Kebaikan ke-tiga yang perlu kita lestarikan adalah Dekat dengan Al-Qur’an

Tentunya kita termasuk dari mereka yang mencanangkan target untuk menghatamkan bacaan al-qur’an sekian kali dalam bulan Ramadhan. Di beberapa daerah kita jumpai masyarakat ngabuburit dengan sima’an qur’an atau kadang di kenal dengan istilah tasmi’ al-qur’an, di malam hari setelah taraweh tak terhitung jumlah masjid atau mushola yang dipadati gema bacaan al-qur’an bahkan tentunya juga di rumah-rumah kita. 

Kita serasa begitu dekat dengan Kitab-Nya, tidak nyaman rasanya sehari tanpa membacanya, begitu dekat kita dengan Al-Qur’an. Tentunya  hati kita ini tidak akan rela kalau kedekatan itu hanya berusia satu bulan, karena ada kenikmatan disana, ada ketenangan dan ketenteraman ketika hati ini berdekatan dengannya. Semoga semangat mengingat bahwa satu huruf yang terbaca berarti satu kebaikan akan memanjang sampai bulan-bulan berikutnya.

Semoga satu kebaikan yang pernah Rasulullah sampaikan bahwa “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan al-qur’an”  akan menjadi kalimat yang terus menghiasai benak kita, sehingga bulan Syawal ini adalah bulan peningkatan kualitas hubungan kita dengan Al-quran; yang belum lancar membacanya akan terus berupaya memperbaiki kualiatas bacaannya, dan dilanjutkan dengan upaya memahami maknanya dan pada puncaknya mengamalkan nilai kandungannya serta mendakwahkannya.

Hadirin rahimakumullah inilah tiga hal pertama yang mesti kita lestarikan dari apa yang sudah kita biasakan di bulan Ramadhan. Di bulan syawal inilah, awal bagi kita untuk melihat apakah kita akan menjadi pribadi-pribadi yang sukses dengan sekian pelatihan yang ada di bulan Ramadhan, Syahrut tarbiyyah, Syahrul Qur’an.  Atau apakah tenyata kita termasuk orang-orang sholih musiman yang hanya baik di bulan Ramadhan saja, wal `iyaadzubillah.

Demikian khutbah singkat ini semoga dapat memberi  tambahan semangat beribadah kita di bulan Syawal ini, bulan peningkatan kualitas diri.

Wallahu a’lam.