Melejitkan Kualitas Penghambaan Kita

0
43 views

Ma`syiral mukminin Rahimakumullah

Ketika mengimani Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang benar untuk disembah adalah pondasi utama dari keberagamaan kita. Maka upaya menjadi hamba yang benar-benar menghamba hanya kepada-Nya adalah syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang manusia agar benar-benar layak menyandang martabat “hamba”, bukan sembarang hamba melainkan hamba yang hanya menghamba kepada Tuhannya, tidak kepada selain-Nya.

Menyandang martabat hamba Allah swt bukanlah hal sederhana, ini merepakan capaian mulia bagi seorang manusia ketika Tuhannya benar-benar ridha kepadanya sebagai hamba. Kita bisa simak misalnya, ketika tidak ada satupun manusia di seantero jagad ini termasuk para nabi dan Rasul, ternyata hanya Muhammad saw saja yang mendapatkan anugerah besar dengan diIsra’ dan mi`rajkan oleh Allah swt, dan ternyata ketika menghabarkan hal ini, dalam firman-Nya yang tercantum di awal surah Al-Isra’ Allah swt memilih kata hamba; bukan rasul, bukan nabi, bukan juga Muhammad, Yang Allah pilih adalah kata ‘Abd’; hamba.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha suci (Allah) Yang meng’isra`kan hamba-Nya dimalah hari….. (QS.Al-Isra` : 1)

Demikian sebagai sebuah gambaran betapa tingginya nilai seorang hamba, yang benar-benar menghamba kepada Allah swt semata, seorang hamba yang ridha Allah sebagai Tuhannya dan Allah pun ridha dia sebagai hamba-Nya.

Hadirin Rahimakumullah..

Oleh sebab itu menjadi sangat penting untuk memahami bagaimana cara meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah swt. Jika ada sebuat kiat atau arahan maka yang paling tinggi adalah apa yang disampaikan oleh Tauladan kita, Rasulullah saw.

Dalam salah satu sabdanya beliau mengatakan :

اعْبُدْ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لمَ ْتَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ , وَ احْسُبْ نَفْسَكَ مَعَ الْمَوْتَى , وَ اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا مُسْتَجَابَةٌ “ . أخرجه أبو نعيم

“Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihatnya, maka jika engkau tidak (bisa  merasa) melihat-Nya maka (yakinlah) sesungguhnya Dia melihatmu, dan bayangkanlah dirimu bersama orang-orang yang telah meninggal , dan takutlah doanya orang yang dizhalimi karena sesungguhnya doanya diterima” (HR. Abu Nu`aim dari Zaid bin Arqam)

 

Hadits Rasulullah saw ini memberikan kepada kita tiga kiat agar ibadah kita lebih baik dan lebih tinggi kualitasnya di mata Allah swt

Pertama : Beribadahlah kepada Allah seakan-akan melihat atau dilihat Allah swt

Rasulullah saw memberi arahan kepada kita bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Allah, yaitu dengan menghadirkan rasa seakan melihat Allah atau dilihat oleh Allah swt. Merasa melihat Allah swt memberi pengaruh yang mendalam pada kualitas ibadah seseorang. Dalam salah satu sabdanya beliau menjelaskan bahwa seseorang ketika melakukan sholat sejatinya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Satu kali ketika Ibnu Umar sedang berthawaf, beliau di hampiri oleh Urwah bin Zubair yang ketika itu mengajaknya bicara perihal perjodohan anak mereka, namum ibnu Umar hanya terdiam saja tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk memberikan tanggapan kepada Urwah. Maka pada hari yang lain Ibnu Umar mendatangi Urwah bin Zubair untuk meminta maaf karena tidak menanggapi tema bicaranya pada waktu thawaf, seraya beliau berkata, “Dulu dimasa Rasulullullah kemi dididik ketika sedang berthawah seakan melihat Allah swt”.

Hadirin rahimakumullah…

Merasa melihat adalah perkara yang tidak mudah, maka kita diharapkan sampai pada tingkat kedua yaitu merasa dilihat oleh Allah swt, rasa inilah yang kemudian dikenal dengan muraqabatullah; merasa selalu dalam pengawasan Allah swt. Rasa ini akan sangat memberi pengaruh positif pada seorang hamba dalam melejitkan kualitas penghambaan, baik dalam melakukan perintah atau meninggalkan larangan.

Seorang calon pencuri yang memasuki pasar raya misalnya, ketika dia melihat ada penjaga berseliweran atau ia tahu bahwa ada kamera CCTV yang senantiasa merekam gerak-geriknya, dapat dipastikan ia akan sangat berhati-hati dalam melakukan aksinya dan sangat mungkin ia akan mengurungkan niatnya. Demikian seorang pencuri dihadapan petugas keamanan dan kamera CCTV. Maka bagaimanakah dengan seorang hamba di hadapan Tuhannya; Allah swt yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.

Rasa muraqabatullah bagi seorang mukmin akan memberi dampak pada tiga hal; dalam melakukan kataatan maka ia akan berupaya melakukannya dengan kesunguhan dan dengan kualitas yang tinggi, ketika hendak melakukan kemaksiatan maka ia akan mengurungkannya karena sadar akan dampak bagi dirinya, dan ketika melakukan satu amalan biasa atau mubah, maka ia akan menjadikan amalan biasa itu bernilai ibadah di mata Allah swt.

Kedua : Membayangan diri kita sedang bersama orang yang telah meninggal

Dimasyarakat kita sering mendengar yang sebaliknya, misalnya ada seorang anak dalam sebuah keluarga berkata kepada anggota keluarga yang lain, “Enaknya kalau masih ada papa, andai papa masih bersama kita… beliau begitu perhatian, sangat saying kepada semua,.. sekarang rasanya ada yang kurang tanpa beliau”. Demikian munkin juga disampaikan seorang terkait dengan sahabatnya yang sudah meninggal. Begitulah sering kita membayangkan yang sudah meninggal bersama kita lagi, bagaimana jika dibalik, “Bagaimanakah kita jika sekarang kita bersama beliau yang telah mendahului kita, beliau orang yang begitu baik, semua orang juga mengakui kebaikan beliau, insya Allah sekarang beliau sedang mendapatkan nikmat dari Allah swt, bagaimana dengan kita ? apakah juga akan mendapatkan kebaikan atau malah sebaliknya, na`udzubillahi min dzalik.

Rsulullah ketika meminta kita untuk dzikrul maut, sebagaimana dalam riwayat At-Turmudzi beliau menggunakan kata “Aktsiruu..” perbanyaklah, tentunya kata ini cukup mewakili betapa pentingnya permasalahan ini dan betapa ketika dilakukan dengan benar akan berdampak baik dalam ibadah seseorang. Hal ini karena ia tau hidupnya di muka bumi akan dibatasi dengan kematian dan setelah itu akan ada kehidupan yang lain yang abadi, disana ada dua pencapain bisa Syurga atau neraka, semua terserah dan tergantung upaya yang dilakukan selama mengarungi kehidupan sebelum datangnya kematian. Ditambah bahwa kematian yang pasti menjemput tidak memberi tahu kapan tibanya. Ini akan mebuat seorang mukmin yang baik akan mempersiapkan diri, menjadikan kehidupan yang sedang diarunginya menjadi karya penghambaan kepada Allah swt semata.

Kita juga sering membaca bagainama ulama salaf dulu ketika merasakan kegersangan imannya maka sebagian meraka telah menyediakan semacam liang kubur, maka kereka pun masuk kedalamnya membayangkan dirinya sedang akan mempertangung jawabkan segalanya dihadapan Allah swt. Inilah salah satu metode mereka. Adalah Ashim bin `Adhi salah satu sahabat Abdullah bin Mubarok, ketika ibnu Mubarok melihatnya sedang termenung maka disapanya dengan kalimat, “Sampai dimanakan engkau…”? namum apa yang dikatakan Ashim bin `Adhi, beliau berkata, “Aku telah sampai di Shirath”. Ternyata beliau sedang membayangkan perjalanan dirinya mulai kematian sampai melewati jalan antara syurga dan neraka yang dikenal dengan ‘Sirath’.

Ketiga : Waspadalah terhadap doanya orang yang didhalimi.

Rasulullah saw tidak hanya mengajak kita memiliki hubungan baik dengan Allah swt melalui ibadah kita. Namum melalui sabda ini beliau mengajak kepada kita agar memiliki jalinan muamalah yang baik kepada sesama, dengan cara menjahui kezhaliman. Karena kezhaliman dimuka bumi ini akan menjadi petaka bagi pelakunya di akherat kelak. Dan salah satu yang perlu dikhawatirkan adalah doanya orang yang di zhalimi terkabul. Maka bagi pelaku kezhaliman; siapapun dia, di posisi dan jabatan apapun dia,  agar mengingat hal ini dan bagi yang dizhalimi juga agar berhati-hati dalam berdoa. Sehingga tidak juga menlakukan kedzaliman dalam doa-doanya, layaknya seorang yang dizhalami oleh satu orang namum kemudiam ia doakan agar sampai tujuh turunan akan mendapatkan kemalangan.

Demikianlah khutbah yang singkat ini, semoga kita senantiasa dapat melejitkan kualitas ibadah kita kepada Allah swt dengan tiga kiat yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Wallahu a`lam, semoga bermanfaat.