Melawan Waktu

0
242 views
mariabachillerato.blogspot.co.id/

Oleh Abd. Muid N.

Keriangan menyambut pergantian waktu adalah manusiawi. Tanpa waktu, kehidupan tidak ada. Dan juga tanpa waktu, manusia tidak memiliki kesempatan melakukan kerja pancaindera untuk merumuskan realitas dan melaksanakan proyek manusiawi untuk membangun peradaban.

Kerja membangun peradaban seumpama upaya menantang fana. Relasi antara manusia dan waktu adalah relasi yang senantiasa tegang. Ketegangan terjadi karena manusia tidak akan mampu melawan laju sang waktu. Namun, manusia bukannya pasrah, malah melawan. Manusia tidak mau begitu saja bertekuk lutut di hadapan kuasa waktu yang mematikan.

Manusia memang diberi potensi oleh Allah SWT untuk melakukan perlawanan sebagaimana disebutkan di dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 31-32: Dan Dia Ajarkan kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia Perlihatkan kepada para Malaikat, seraya berfirman: Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini jika kamu yang benar! Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau Ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Potensi tersebut adalah kemampuan untuk  mempersepsi, menamai, membedakan, dan merumuskan realitas.

Apakah perlawanan itu sia-sia? Tentu saja tidak karena itu adalah cara manusia mewujudkan potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT. Tidak melakukan perlawanan justeru itulah kesia-siaan. Itu sama dengan menolak gelar khalîfah; dan itulah perlawanan yang sia-sia.

Di satu sisi manusia harus melakukan perlawanan sebagai perwujudan potensinya, namun di sisi lain, perlawanan Nabi Adam as justeru menghasilkan pelanggaran, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 35-36: Dan Kami Berfirman: Wahai Adam. Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-yang zalim! Lalu setan memperdayakan keduanya sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami Berfirman: Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.

Antara sisi potensi yang mesti diwujudkan dengan sisi pelanggaran yang dilakukan oleh Nabi Adam as tidak layak dipertentangkan satu sama lain karena dua hal: pertama, dalam setiap upaya mewujudkan potensi, kesalahan, pelanggaran, dan kekhilafan adalah hal-hal yang niscaya manusiawi. Yang tidak boleh dilakukan adalah tidak mengakui kesalahan. Nabi Adam as mau mengakui kesalahannya (QS Al-Baqarah [2]: 37).

Kedua, bahwa Nabi Adam as dihukum dan diturunkan ke bumi, maka bukankah memang beliau seharusnya berada di bumi? Bukankah di surga tidak diperlukan perwujudan potensi manusiawi hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena di surga seluruhnya sudah tersedia tanpa susah payah? Dan terakhir, bukankah memang dalam rencana Allah SWT, Nabi Adam as diciptakan untuk dijadikan khalîfah di bumi, dan bukan di surga? Jika tidak percaya, boleh simak satu ayat yang mendahului ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, yaitu Surah Al-Baqarah (2) ayat 30.[]