Maulid

0
14 views

muhammadasad.blogspot.comKata maulid dalam bahasa Arab berasal dari kata walada yalidu, maulid dan mîlâd kedua kata itu mengandung satu makna yaitu hari lahir. Kata ini digunakan untuk semua kelahiran walaupun dalam perkembangannya kata maulid menjadi suatu tradisi perayaan kelahiran nabi Muhammad saw dalam masyarakat muslim.

Sejarah Maulid Dan Perayaannya

Perayaan maulid nabi Muhammad saw diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193). Ada pula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Shalahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.

Adapun pelaksanaan perayaan maulid pada masa awal diadakannya banyak mengandung pemborosan sebagaimana yang disebutkan oleh ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidâyah wa al-Nihâyah bahwa Raja Mudhafir merayakan maulid Nabi di bulan Rabi’ul awal dengan amat mewah. As-Sibt berkata: Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan raja Mudhafir disiapkan 5000 daging panggang, 10.000 daging ayam, 100.000 gelas susu, dan 30.000 piring makanan ringan….” Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan orang-orang Sufi, sang raja pun menjamu mereka. Bahkan bagi orang-orang Sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi di waktu Dzhuhur hingga fajar, dan raja pun juga ikut berjoget bersama mereka.”

Hukum Perayaan Maulid

Terjadi perbedaan pendapat dalam menghukumi perayaan maulid nabi, ada ulama yang membolehkannya tetapi ada pula ulama yang membid’ahkannya, dalam hal ini penulis mencoba akan memaparkan dua pendapat itu berikut dalilnya: salah satu dalil yang dijadikan pegangan bagi mereka yang membolehkan maulid adalah firman Allah swt dalam surah Yunus ayat 58:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ  

“Katakanlah: Dengan karunia Allah swt dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah swt dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang mereka kumpulkan”.(QS. Yunus [10]:58)

Mereka berkata, “Allah swt memerintahkan kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya. Sedang nabi Muhammad saw adalah rahmat-Nya yang paling besar. Oleh karena itulah, kita bergembira dan merayakan maulid (hari lahir) beliau”.

Dalil ini dibantah oleh mereka yang tidak membolehkan perayaan maulid mereka mengatakan bahwa ulama tafsir telah menafsirkan ayat yang mulia ini dan tidak ada sedikitpun dalam penafsiran mereka bahwa yang diinginkan dengan rahmat di sini adalah nabi Muhammad saw. Yang ada hanyalah bahwa rahmat yang diinginkan di sini adalah al-Qur`an dan al-Islam sebagaimana yang diinginkan dalam ayat sebelumnya, yaitu firman Allah swt:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ  

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya …”. (QS. Yunus [10]: 57-58)

Inilah penafsiran yang disebutkan oleh Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobary Rahimahullah dalam Tafsir beliau (15/105).

Imam Al-Qurthuby Rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Abu Sa’id Al-Khudry dan Ibnu ‘Abbas ra berkata, “Karunia Allah swt adalah al-Qur`an dan rahmat-Nya adalah al-Islam”. Juga dari keduanya (berkata), “Karunia Allah swt adalah al-Qur`an dan rahmat-Nya adalah Dia menjadikan kalian ahli Qur`an”. Dari Al-Hasan, Adh-Dhohak, Mujahid, dan Qotadah, mereka menafsirkan, “Karunia Allah swt adalah iman dan rahmat-Nya adalah al-Qur`an”. [Lihat al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (8/353)]

Imam Ibnul Qoyyim berkata dalam Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghozwil Mu’aththilah wal Jahmiyah hal. 6, “Perkataan para ulama salaf berputar di atas penafsiran bahwa karunia Allah swt dan rahmat-Nya adalah al-Islam dan as-Sunnah”.

Sesungguhnya yang menjadi rahmat bagi manusia bukanlah kelahiran beliau, akan tetapi rahmat terhasilkan hanyalah ketika beliau diutus kepada mereka. Makna inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash syari’at:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالمَِيْن

 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya`[21]: 107)

Rasulullah saw telah bersabda:

إِنِّي لَـمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً  

“Sesungguhnya saya tidaklah diutus sebagai orang yang suka melaknat, akan tetapi saya diutus hanya sebagai rahmat”. (HR. Muslim no. 2599 dari Abu Hurairah)

Selain dalil diatas tidak untuk digunakan untuk bolehnya merayakan maulid nabi saw, mereka yang berpendapat bahwa tidak boleh merayakan maulid nabi berdalil bahwa ibadah harus berlandaskan dalil yang kuat baik dari al-Qur’an ataupun sunnah begitu pula harus dicontohkan oleh nabi Muhammad saw. sementara perayaan maulid nabi Muhammad saw yang sudah menjadi ritual dikalangan masyarakat muslim menurut mereka yang membid’ahkannya itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah pula dikerjakan oleh generasi salaf (sahabat, tabi’in, tabi’ut dan tabi’in)dan seandainya hal itu baik (untuk diamalkan), tentu para salaf lebih berhak mengerjakannya daripada kita. Karena mereka jauh lebih cinta kepada Nabi Muhammad saw dan mereka lebih semangat dalam melaksanakan amal kebaikan. Sesungguhnya cinta kepada Rasulullah saw adalah dengan mengikuti beliau, mentaati perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara dzahir dan batin, menyebarkan ajarannya, dan berjihad untuk itu semua, baik dengan hati, tangan ataupun lisan. Karena inilah jalan para generasi utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.”

Referensi:

1.                  al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir.

2.                  Wafayat al-A’yan, Ibnu Khalikan.

3.                  I’qtidho’ Shirotil Mustaqim, Ibnu Taimiyah.

4.                  al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthuby.

5.                  Tafsir Ath-Thobary, Imam ath-Thobary.