Masjid vs Sepak Bola

0
125 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Di akhir tahun 2007 seorang bernama Dave Walker, menerbitkan sebuah kartunnya di situs cartoonchurch.com berjudul Church vs Football. Kartun ini menarik—meski tidak semenarik kartun Nabi Muhammad—karena menggambarkan adanya pergeseran jamaah gereja ke jamaah sepak bola.

Masyarakat di lingkungan Dave Walker (Inggris) lebih memilih ke stadion daripada ke gereja; lalu gereja pun sepi sedangkan stadion penuh sorak sorai.

Persoalan ini kemudian kembali mengemuka di bulan April 2009—sebagaimana diberitakan oleh news.bbc.co.uk—ketika jadwal Liga Inggris bertubrukan dengan hari Paskah, salah satu hari suci bagi umat Kristiani, dan pertandingan Liga Inggris tetap dilangsungkan di akhir pekan. Uskup Besar John Sentamu pun mengeluh. “Klub-klub sepak bola yang dulunya berbasis gereja itu harusnya mengingat kembali akar Kristiani mereka”, katanya. Namun keluhan itu tampaknya tidak akan membuat Liga Inggris bergeming karena alasan televisi. “Sebagian besar penonton televisi menginginkan pertandingan itu dilangsungkan pada hari itu,” kata juru bicara Liga Inggris.

Memang pada bulan April hingga Mei, liga-liga raksasa dunia sedang memasuki masa-masa kritis akhir kompetisi mereka; dan itu berarti tempo seru tiap-tiap pertandingan semakin meningkat karena hasil setiap pertandingan menjadi sangat penting dan sangat menentukan siapa yang akan keluar sebagai juara di akhir musim. Para penggila sepak bola yang jumlahnya milyaran di seantero permukaan bumi itu bisa dipastikan tidak akan memalingkan perhatian mereka dari tiap detik pertandingan. Tapi apakah tidak ada toleransi waktu jika di saat bersamaan ada perayaan hari suci agama? Sudah sedemikian dalamkah spirit kapitalisme menancap di ubun-ubun para pemodal? Sudah sedemikian parahkah alam bawah sadar orang-orang dipermainkan oleh para kaum kapitalis? Sebuah teori menyebutkan bahwa etos Kristen (dalam hal ini Protestan) lah yang melahirkan kapitalisme. Dan mungkin kini saatnya kapitalisme membunuh ibunya.

Apakah persoalan ini juga ada dalam Islam? Jika yang dimaksud adalah kasus yang persis, maka ada dua faktor yang harus dipenuhi untuk sampai ke situ. Pertama, negara-negara Muslim harus menjadi salah satu kiblat sepak bola dunia dulu. Kedua, pertandingan diadakan di hari Jumat siang dan bermasalah dengan shalat Jumat. Mungkin saya sedang mengada-ada dengan dua faktor di atas, dan mungkin Islam dan umat Muslim tidak akan berada dalam kasus yang serupa persis. Sulit membayangkan suatu saat ada isu besar “Masjid vs Sepak Bola” sebesar isu “Gereja vs Sepak Bola” Namun bahwa persoalan duniawi yang profan akan sering bertubrukan dengan persoalan ukhrawi yang sakral adalah merupakan persoalan yang sangat mungkin terjadi setiap hari.

Berpalingnya perhatian masyarakat Inggris dari gereja ke stadion sepak bola, di mana para manajer (semacam Sir Alex Ferguson) sebagai pendetanya hanyalah simbol dan metafora betapa persoalan ruhani di sana mungkin tidak lagi menempati perhatian utama.

Ketika Rasulullah Saw. berpesan bahwa salah satu golongan yang beruntung di hari kiamat nanti adalah pemuda yang hatinya tergantung (mu`allaq) di masjid-masjid, beliau juga sedang bermetafor tentang segolongan orang yang menempatkan hal-hal spiritualitas di atas hal-hal fisik; memandang sesuatu lebih ke dalam daripada apa yang ditampakkan di luaran; sekelompok orang yang lebih banyak merenung dan hati mereka pun lembut.[]