Masjid dan Pesawat

0
76 views

MASJID DAN PESAWAT

Dunia penerbangan kita semakin sibuk. Di daerah-daerah semakin banyak bandara. Standar yang berlaku di dunia penerbangan bisa kita ambil sebagai prinsip untuk diterapkan di masjid.

1. KEBERSIHAN
Kebersihan harus terjamin, bandara-bandara kita selalu berlomba menjaga kebersihan, mestinya masjid-masjid kita juga berlomba menjaga kebersihan dan kesucian, mulai dari tempat imam sampai toilet dan halaman.

2. PELAYANAN
Pelayanan ditunjukan mulai dari saat datang hingga berada di pesawat. Masjid mestinya memberi pelayanan yang terbaik kepada para jamaahnya. Boleh saja Pengurus masjid mengucapkan selamat datang, menyambut dengan gembira kehadiran anak-anak dan remaja hingga menunjukkan perlakuan khusus yang baik. Bila ada penumpang pesawat yang kecewa karena kualitas pelayanan yang rendah, maka jangan sampai jamaah masjid kecewa karena kualitas pelayanan yang tidak atau kurang baik.

3. TIDAK TERLAMBAT
Para penumpang biasanya tidak terlambat datang ke bandara, umumnya satu jam sebelum penerbangan orang sudah berada di bandara, meskipun harus sudah berada di bandara sebelum Subuh. Mestinya jamaah tidak terlambat datang, khususnya dalam ibadah yang tidak ditolerir keterlambatannya seperti ibadah Jumat. Pastikan diri kita sudah berada di masjid paling lambat lima menit sebelum khatib naik mimbar, itupun dengan catatan pahala paling kecil. Tapi bila baru datang sesudah khatib naik mimbar, kehadiran kita tidak dicatat oleh malaikat.

4. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan yang ketat dengan alat detektor hingga pemeriksaan secara fisik. Pengurus masjid mestinya memperhatikan dan memeriksa jamaah yang datang. Misal ada jamaah yang menggunakan kaos agak pendek dengan celana kedodoran, ini akan menampakkan aurat dalam shalat, bahkan yang model begini sampai terlihat belahan pantatnya yang mengganggu jamaah lain di belakangnya. Ada lagi yang pakai kaos dengan tulisan di bagian belakang hingga ada yang pakai celana robek di bagian dengkul atau paha.
Untuk jamaah seperti ini harus dipinjamkan baju dan sarung agar sesuai dengan syariat dan standar kesopanan.

5. PANGGILAN DAN PENCARIAN
Pada saatnya harus naik pesawat, penumpang dipanggil hingga tiga kali, bila masih ada yang belum naik, ada petugas bandara yang mencarinya, karena mungkin saja calon penumpang tidak mendengar panggilan atau tertidur.
Pengurus Masjid mestinya demikian terhadap jamaah. Jamaah utama, yakni warga Muslim yang semestinya ke masjid tapi tidak datang, Pengurus masjid mencari tahu mengapa mereka tidak datang, apalagi mereka yang sudah rutin ke masjid. Sesudah mencari tahu, bisa jadi ada yang berhalangan, tugas keluar kota, belum pulang, malas, bahkan bisa jadi kehilangan motivasi. Maka, yang sakit dijenguk dan dibantu, yang malas disemangati dan yang kehilangan motivasi dibina lagi, begitu seterusnya.

6.ARAHAN DAN TEGURAN
Tertib dan disiplin amat ditekankan ketika berada di pesawat, hal ini karena terkait dengan keselamatan. Misal, ada penumpang mau tidur, ia menutup jendela dan memiringkan sandaran kursi, padahal pesawat baru mau terbang, maka pramugari tanpa sungkan tapi tetap dengan sopan membangunkan yang tidur dan menegur penumpang agar menegakan sandaran kursi dan membuka jendela, begitu juga saat pesawat hendak mendarat.
Pengurus harus memberi arahan dan teguran secara baik bila ada jamaah yang belum sesuai dengan ketentuan masjid, misalnya harus menempati shaf terdepan, tidak merokok di area masjid, membangunkan jamaah yang masih tidur padahal azan sudah dikumandangkan, melarang jual beli menjelang ibadah jumat dimulai dan sebagainya.

7. ARAHAN KHUSUS
Penumpang pesawat yang duduk di dekat jendela darurat selalu mendapatkan arahan khusus dari pramugari tentang bagaimana membukanya bila sudah ada perintah, bahkan diminta kesediaannya untuk membuka saat diperlukan.
Pengurus masjid seharusnya melakukan arahan khusus kepada jamaah, misalnya:
a. Jamaah anak-anak dan remaja untuk tidak bercanda dan ditanyakan komitmennya.
b. Jamaah yang datang ke masjid tapi tidak menutup aurat seperti jamaah wanita.
c. Jamaah yang bersama anak kecil juga boleh saja diminta menempati shaf paling pinggir agar saat anak keluar shaf tidak memutus shaf, kecuali bila saat datang harus berada di tengah karena memang shaf baru.
d. Jamaah yang datang terlambat saat ibadah jumat, yakni baru datang saat khatib sudah naik mimbar, tentu ini dilakukan sesudah ibadah jumat atau kesempatan lain.