Masjid dan Pasar

0
164 views

Oleh Abd. Muid N.

Saya teringat lagu tentang Pasar Gambir yang dinyanyikan oleh Chrisye dalam albumnya, Dekade (2002), sebuah album kompilasi lagu yang berisikan lagu-lagu yang dianggap mewakili dekadenya masing-masing, sejak1940 hingga 2002. Lagu tersebut berjudul Kr. Pasar Gambirdan Stambul Anak Jampang, karya Ismail Marzuki, yang menggambarkan suasana Pasar Gambir yang meriah.

Mungkin Pasar Gambir ketika itu tidak semirip dipahami sekarang sebagaimana pasar pada umumnya, semisal Pasar Mampang di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Istilah Pasar Gambir dalam bahasa Inggris disebut Gambir Fair. Barangkali Pasar Gambir lebih mirip Jakarta Fair daripada Pasar Mampang. Di sana ada semacam keramaian yang bertabur hiburan dan juga kemewahan. Sepertinya lagu karya Ismail Marzuki berbicara tentang itu.

Posisi Pasar Gambir yang tidak jauh dari Monumen Nasional, Istana Negara, Masjid Istiqlal, Katedral, dan Kementerian Agama RI tentu saja bukan sesuatu yang terjadi secara acak. Seperti ada disain dengan tujuan tertentu yang ingin tersampaikan di sana.

Prof. Bambang Pranowo, seorang antropolog, pernah berkisah dalam sebuah perkuliahan. Konstelasi pusat pemerintahan, pusat keagamaan (masjid), alun-alun, dan pasar adalah seperti sudah menjadi pakem yang penting dalam pengaturan sebuah kota di tanah Jawa. Prof. Bambang menyebutkan Yogjakarta sebagai contoh di mana ada alun-alun, Malioboro, Kemenag, dan Istana Sultan.

Namun sepertinya bukan hanya di tanah Jawa pakem itu berlaku. Laura S. Etheredge (ed.) dalam Islamic History menyebutkan bahwa masjid adala simbol ketundukan Muslim karena di sana dilaksanakan shalat lima kali sehari. Di antaranya adalah shalat Jumat yang berisikan khutbah untuk memperkuat keimanan. Dalam hal ini, masjid mempunyai fungsi praktis sekaligus fungsi spiritual karena selain sebagai tempat sujud, masjid juga adalah tempat ekspresi ketaatan kepada pemerintah yang dilakukan pada momentum shalat Jumat, dan shalat Jumat juga adalah sekaligus kesempatan bagi pemberontak untuk mendeklarasikan kudeta.

Fungsi politis masjid dalam hal ini memungkinkannya untuk dekat dengan pusat pemerintahan, baik Istana Negara maupun Istana Kesultanan.

Kembali kepada shalat Jumat, di dalam al-Quran adalah surah al-Jumuah yang bercerita tentang relasi yang kuat antara pasar dengan masjid. Di sana ada perintah untuk meninggalkan segala urusan jual-beli jika panggilan untuk mengingat Allah swt telah dikumandangkan, lalu perintah untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala setelah prosesi mengingat Allah swt telah usai.

Tentu saja aktivitas jual-beli bisa dianalogikan dengan banyak hal, bukan hanya pasar. Bahkan pasar pun terlalu kompleks jika hanya disebutkan berurusan dengan semata jual-beli. Di sana ada ekonomi, politik, dan religiusitas. Demikian pula masjid. Barangkali tidak semata-mata religiusitas. Di sana juga ada ekonomi dan politik.[]

Bacaan

Laura S. Etheredge (ed.), Islamic History, New York: Britannica Educational Publishing, 2010