Masalah Khilafiyah

0
39 views

kosmo.vivanews.comAssalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz Ahmad Yani yang saya hormati. Saya ingin menanyakan tentang penyikapan dalam masalah khilafiah fikih. Hal ini saya tanyakan karena umumnya peserta majelis taklim selalu terfokus pada masalah khilafiah. Sehingga pertanyaan mereka pun tak jauh dari masalah itu. Lebih dari itu, biasanya peserta ingin meminta atau menguji pendapat fikih yang kita pegang.

Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara bijaksana memberikan gambaran tentang pendapat kita terhadap khilafiah fikih? Bolehkah mencari jalan tengah dari dua pendapat yang berbeda, bukankah itu justru memunculkan pendapat baru?

Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakallah khairan.

Abdul Aziz, Bandung.

Jawaban.

Masalah khilafiyah merupakan hal-hal yang dipertentangkan atau pendapat yang berbeda tentang suatu masalah, khususnya yang berkaitan dengan masalah fiqih. Ini merupakan masalah yang sudah lama muncul dan selalu menjadi pertanyaan setiap generasi, bahkan ada yang menganggap suatu masalah sebagai prinsip sedangkan yang lain menganggapnya hanya masalah kecil yang tidak boleh dibesar-besarkan. Para muballigh memang seringkali menghadapi masalah ini dalam kehidupan masyarakat kita dan terlepas dari maksud jamaah menanyakan masalah ini, setiap muballigh harus memberikan jawaban atau penjelasan dengan sebaik-baiknya.

Hal terbaik yang harus dilakukan atau kesepakatan dengan jamaah yang harus diambil adalah bahwa dalam berbagai perkara, termasuk perkara fiqih rujukan nomor satu kita adalah Al-Qur’an dan Hadits. Karenanya, hal yang dipersoalkan harus dikembalikan atau dirujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Namun perlu pula disadari bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits itu terdapat ruang penafsiran yang dilakukan para ulama sehingga menimbulkan perbedaan pendapat meskipun dalilnya sama. Karenanya perbedaan pendapat dalam penafsiran suatu dalil harus kita hormati. Bila kita bisa toleran terhadap penganut agama lain, mengapa kita tidak bisa toleran terhadap perbedaan dikalangan sesama muslim, selama jelas landasan hukumnya.

Cara yang bijak untuk menjelaskan masalah khilafiyah adalah dengan memberikan penjelasan tentang masing-masing pendapat, pendapat A mengatakan begini dan begitu dengan segala alasannya, demikian pula dengan pendapat B. Bahkan bisa jadi ada pendapat C yang merupakan pendapat pertengahan diantara keduanya sehingga sebenarnya kita tidak mengembangkan pendapat baru. Manakala perbandingan sudah diberikan, diharapkan jamaah menguasai masalah yang diperdebatkan itu dan ia bisa memilih pendapat berdasarkan argumentasi yang kuat, sementara sang ustadz juga harus menegaskan pendapat yang dianutnya dengan tetap menghormati jamaah yang meyakini pendapat yang lain.

Meskipun demikian, seorang muballigh tidak selalu bisa dan harus menjawab pertanyaan masalah-masalah hukum secara spontan, apalagi bagi persoalan yang memang harus dijabarkan secara mendalam. Para jamaahpun harus diberi pengertian tentang masalah ini agar mereka tidak kecewa dengan tidak diberikannya jawaban secara spontan.

Oleh karena itu, para muballigh, harus membekali diri dengan pengetahuan yang berkaitan dengan syariah atau Fiqih Islam, termasuk di dalamnya buku-buku yang berkaitan dengan fatwa seperti keputusan-keputusan yang berkaitan dengan fatwa dari organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan sebagainya, serta buku tanya jawab tentang Fiqih yang ditulis oleh para ulama seperti Fatwa Kontemporer DR. Yusuf Qardhawi, Soal Jawab A. Hasan dan sebagainya.

Hal yang harus kita tekankan kepada jamaah adalah bagaimana ukhuwah Islamiyah tetap dijaga, dipelihara dan ditingktkan. Dalam konteks masjid, bisa saja hal-hal yang memang jelas landasannya ditampung semuanya, misalnya shalat tarawih dan witir ada yang sebelas dan dua puluh tiga rekaat. Untuk menapung keduanya, bisa saja dengan tarawih dulu bersama-sama dengan delapan rekaat, sesudah itu ceramah Ramadhan dan sesudahnya shalat witir yang sebelas rekaat, sedangkan yang dua puluh tiga menunggu dulu. Sesudah yang sebelas selesai witir mereka keluar dari masjid dan yang dua puluh tiga melanjutkan hingga selesai.

Namun, satu hal yang harus kita ingat bahwa orang yang senang meruncingkan masalah khlifiyah kadangkala apa saja dinyatakan masalah khilafiyah, padahal sebenarnya tidak ada di dalam Islam, karena memang sama sekali tidak ada landasan hukumnya.

Demikian jawaban singkat pengasuh, semoga bermanfaat bagi kita bersama.

BAGI
Artikel SebelumnyaHukum Kekekalan Nafsu
Artikel BerikutnyaTiga Bentuk Disiplin