Marbot Doja

0
15 views

Abd. Muid N.

Saya ingat wajahnya, tapi lupa namanya. Umurnya (ketika itu) 60-an. Di masjid itu, dialah orang paling terkenal kedua setelah imam masjid. Dia disebut “doja”, sebutan Bahasa Bugis untuk sebuah jabatan dengan tugas menjaga, menyapu, mengepel, menabuh bedug, mengedarkan kotak amal, dan membuka serta menutup masjid. Sebenarnya bukan hanya tugas fisikal seperti itu yang dia emban. Dia juga bertugas menjadi penghitung isi kotak amal dan juga bertindak sebagai muadzzin. Doja yang saya ceritakan ini juga punya keahlian unik. Di sangat pandai memotong ayam. Konon ayam hasil potongannya berdaging empuk. Karena itu, umumnya penduduk sekitar mempercayakan kematian ayamnya di tangan sang doja.

Saya ingat masa kecilku. Salah satunya diisi dengan “membantu” sang Doja membersihkan masjid, terutama sebelum prosesi Shalat Jumat. Bagi seorang doja, hari Jumat adalah hari besar karena pada hari itulah dia melakukan kerja bakti membersihkan masjid sebersih-bersihnya agar nyaman ditempati beribadah oleh para jamaah. “Membantu” mungkin kata yang terlalu mulia karena sebenarnya saya hanya bermain-main air bersama cucu-cucu sang doja yang sebagian besar adalah temanku di sekolah.

Secara bahasa, kata “doja” dalam Bahasa Bugis berarti “begadang”. Tugas-tugas berat untuk seorang tua seperti sang doja terhadap masjid kecamatan yang begitu besar memang membuatnya harus sering-sering terjaga daripada tertidur. Sekali saja dia ketiduran dan terlambat menabuh bedug subuh serta meneriakkan adzan, maka itu akan menjadi bahan pergunjingan seluruh penduduk dan jamaah masjid, paling tidak selama sebulan. Dapat dipastikan, gunjingan itu akan membuatnya susah tidur. Itulah barangkali mengapa profesi itu disebut “doja”.

Setelah meninggalkan kampung halaman dan menetap di Jakarta, saya tidak lagi bersua dengan orang dengan jabatan “doja”, namun sering bertemu orang yang menjabat sebagai “marbot” di sebuah masjid atau mushalla.

Saya tidak tahu pasti dari mana kata “marbot” berasal. Ada kemungkinan berasal dari Bahasa Arab yang berarti “terikat” (marbûth). Pekerjaan ini memang membutuhkan ikatan yang kuat dengan masjid atau mushalla tempat bekerja. Sulit bagi seorang marbot untuk mempunyai pekerjaan sampingan sebagai orang kantoran, atau kerjaan sampingan sebagai gubernur, kecuali kantornya di masjid itu sendiri.Pekerjaan seorang marbot berputar-putar di sebuah tempat saja, masjid atau mushalla. Makanya, tâ’ marbûthah dalam Bahasa Arab bentuknya melingkar.

Persamaan antara doja di kampung saya dengan marbot di Jakarta (yang saya lihat) adalah mereka datang tiap hari Jumat ke rumah-rumah penduduk membawa sebuah wadah yang biasanya oleh masyarakat diisi dengan uang atau beberapa centong beras.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw bersabda tentang kelompok-kelompok orang yang di akhirat nanti mendapatkan naungan dari Allah swt yang melindungi mereka dari gerahnya Padang Mahsyar. Salah satu kelompok itu adalah: mereka yang hatinya “terikat” dengan masjid. Namun Nabi menyebut terikat dalam haditsnya itu bukan dengan kata marbûth (marbot), tetapi dengan kata “mu`allaq” yang artinya “tergantung”.

Meskipun begitu, baik doja maupun marbot adalah kelompok orang yang mempunyai hubungan, ikatan, dan gantungan emosional yang sang erat dengan masjid. Di sanalah mereka menggantungkan hidup dan harapan. Jasa mereka besar seiring tanggung jawabnya yang berat. Namun tidak banyak yang ingat wajah dan nama mereka.[]