Marah

0
46 views

Realitas kehidupan mengajarkan bahwa tidak selamanya kenyataan yang kita hadapi berbanding lurus dengan apa yang kita harapkan. Hal ini tentu akan membuat kita pernah merasakan sedih, kecewa, kesal, cemburu, dan marah. Rentetan rasa tersebut merupakan bagian dari emosi yang melekat dalam diri manusia.

Emosi marah adalah emosi yang paling sering muncul dalam pembincangan sehari-hari karena masyarakat umumnya mengidentikkan istilah emosi dengan marah. Dalam perspektif psikologi, memendam amarah bisa menimbulkan kegoncangan mental. Menarik untuk disimak bahwa ketika membahas emosi, para ahli tidak memulainya dengan definisi yang lazim, pembahasan tentang emosi biasanya diawali dengan contoh-contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari yang nyata dirasakan, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.

Marah merupakan salah satu jenis emosi yang dianggap sebagai emosi dasar dan bersifat universal. Semua orang memiliki emosi marah. Emosi marah dinilai negatif oleh masyarakat karena sifat destruktifnya. Orang yang marah bisa menjadi kejam dan tidak berperikemanusiaan. Semakin tinggi tingkat kemarahan jika tidak terkendali akan membuat pelakunya mejadi semakin brutal dan sadis. Kita tentu masih ingat tragedi pembantaian muslim Rohingnya di Myanmar, sehingga banyak pihak mempertanyakan sebenarnya apa motif di balik itu semua.

Apapun motifnya, yang pasti marah adalah reaksi emosional akut yang timbul karena sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustasi. Menurut Imam Ghazali,  dalam bukunya Ihya Ulumuddin, pada hakikatnya marah merupakan gejolak hati yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal negatif yang telah menimpa seseorang.

Dari definisi tersebut sangat jelas bahwa sifat marah akan muncul manakala seseorang mendapatkan semacam gangguan. Definisi lain menyatakan bahwa marah timbul karena adanya kekangan yang muncul dalam usaha pemenuhan kebutuhan dasar manusia.

Tentang kemarahan ini hadis Nabi menegaskan inti ajaran Islam yaitu, Laa Taghdhab, “jangan marah”( Ibnu Umar bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang menjauhkanku dari murka Allah Azza Wa Jalla?” Rasul langsung menjawab, “Jangan marah! “). Ini artinya, penghayatan yang benar tentang Islam tercermin dari bagaimana seseorang mampu mengelola amarahnya, agar terhindar dari efek dan energi negatifnya.

Dalam pandangan islam marah merupakan refleksi dari sifat syetan yang keji. Ia berusaha untuk menjerumuskan manusia melalui kemarahannya. Kita seringkali beranggapan bahwa menumpahkan kemarahan akan melegakan amarah, Padahal sejatinya hal itu menunjukkan adanya kelemahan pada sistem kontrol diri seseorang.  Di sisi lain terkadang marah bermanfaat, karena kemarahan dapat digunakan sebagai serangan balik dalam usaha mengatasi rasa takut. Dengan menggunakan kemarahannya seseorang dapat dikejutkan dan dibangkitkan dari kelesuan atau kemalasannya.

Kontrol atas kemarahannya dilakukan dengan cara mengalihkan stimulus sumber kemarahan. Jadi seandainya ingin mengatasi kemarahan, harus dapat mengalihkan perhatian yang diarahkan kepada stimulus yang sangat berbeda dari stimulus yang akan menimbulkan emosi.

Marah memang tidak semuanya buruk akan tetapi secara umum bahwa sifat ini adalah sifat yang negatif . Oleh karena itu sifat marah yang destruktif mestinya harus dihilangkan diantaranya yaitu dengan terapi yang diajarkan Rasulullah; 1) Mengucapkan Ta’awudz (الشيطان الرجيم  أعوذبالله من). 2) Diam atau tidak berbicara. 3) Jika saat timbul perasaan marah itu seseorang itu sedang berdiri maka hendaklah dia duduk. Jika tidak reda juga maka hendaklah dia berbaring. 4) Berwudulu kerana air wuduk itu dapat menenangkan jiwa yang sedang marah.

Terapi marah juga bisa dengan cara menormalkan keadaan psikologis seseorang dengan sistem pernafasan diafragmatis (menarik nafas). Karena pada dasarnya marah merupakan refleksi adanya gangguan psikologis pada seseorang dalam hal ini marah yang bisa menimbulkan destruktif.

Islam memandang bahwa marah memiliki dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Sisi positif kemarahan merupakan suatu sifat yang mutlak harus dimiliki oleh seseorang. Marah yang seperti ini yaitu marah manakala agama dan harga diri seseorang terhinakan. Dalam keadaan seperti ini seorang tidak boleh diam serta pasrah akan tetapi wajib untuk menunjukkan sifat marahnya sebagai suatu pembelaan terhadap harga dirinya maupun martabat agamanya.

Disisi lain Islam memandang bahwa marah merupakan pekerjaan syaitan yang menghendaki kehancuran manusia. Marah yang demikian adalah marah yang negatif dan harus dikendalikan. Islam sangat melarang marah yang disebabkan adanya dorongan hawa nafsu.

Kita sebagai seorang manusia yang mempunyai norma dan adab harus bisa mengelola emosi kemarahan yang mempunyai dua sisi tersebut sehingga mampu menjadikan potensi marah yang negatif menjadi sebuah motivasi untuk mengoptimalkan kualitas diri. Tentunya kita tidak mau syaitan tertawa gembira melihat kita saat marah makin menjadi. Mari kita belajar mengendalikan diri. Wallahu A’lam.

BAGI
Artikel SebelumnyaDahsyat
Artikel BerikutnyaEsa