Mandi di Eropa

0
9 views

Adam Lebor, penulis buku Pergulatan Muslim di Barat: Antara Identitas dan Integrasi, mencatat bahwa mandi di Budapest konon telah menjadi tradisi sejak kedatangan bangsa Roma, namun Turki Utsmani lah yang yang menjadikannya kebiasaan yang membudaya subur. Ada dua faktor yang menjadikan mandi—dan segala yang berkaitan dengan penyucian lewat air—dalam Islam begitu penting.

Pertama, Islam menjadikan mandi bagian dari ritual penting dengan mewajibkan pengikutnya melakukan ritual mandi pada waktu-waktu tertentu sebelum melakukan ritual shalat; minimal melakukan ritual wudhu. Faktor ini membuat setiap masjid harus mempunyai persediaan air bersih yang cukup berikut perangkat-perangkatnya berupa keran-keran air, toilet, dan kamar mandi.

Kedua, air yang mengalir adalah sebuah terminologi yang sangat khas dalam Islam dan berkali-kali disebutkan dalam Al-Quran berkaitan dengan sebuah tempat terakhir yang dijanjikan dan merupakan tujuan utama kehidupan dan kematian umat Muslim, yaitu surga.

Kesan pertama yang terpampang saat membuka lembaran-lembaran Al-Quran tentang surga adalah rentetan kenikmatan sensual berupa kebun kebahagiaan yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, penuh buah-buahan, makanan manis, dan tidak ketinggalan, perawan-perawan yang cantik dan banyak.

Sejumput keindahan surga itulah yang dicoba terjemahkan di alam nyata oleh umat Muslim Turki Utsmani lewat konsep hamam. Kini hamam yang terbagus dan masih tersisa ada di Eropa, tepatnya di Budapest. Hamam menjanjikan pemanjaan diri dengan mandi bermalas-malasan di dalam air panas berbelerang dan sedikit mengandung radioaktif sambil memandang atap kubah saat sinar matahari menembus asap uap yang naik dari kolam utama. Terbayang di masa lalu betapa nikmatnya seorang pedagang yang singgah dari perjalanan jauhnya lalu berendam di dalam hamam sambil menikmati layanan sempurna dari pada pelayan.

Kehadiran hamam di Budapest adalah gambaran kecil kehadiran Islam di Eropa yang berlangsung sudah sejak sangat lama. Namun jarak waktu yang sedemikian lama tidak cukup untuk menguruk jurang saling tidak mengenal antara Islam dan Barat yang masih sering terjadi hingga hari ini. Masih sangat jamak dimaklumi bahwa Islam dan Barat adalah dua buah entitas yang dibentangi jarak masa, budaya, dan peradaban yang jauh dan tidak mungkin bersatu.

Fenomena itu membumbungkan kegelisahan di pikiran para pemerhati budaya Islam. Mengapa begitu sulit bagi Islam untuk berintegrasi dengan Barat atau sebaliknya? Beberapa pemikir kemudian menduga bahwa memang ada perbedaan-perbedaan esensial tertentu yang menjadikan Islam dan Barat harus menyesuaikan diri masing-masing. Hal itu yang menjadi landasan pikir, misalnya, Bassa Tibi dengan konsep Euro-Islam-nya. Karena itu, bagi Tibi, jika Islam ingin berintegrasi dengan Barat/Eropa, Islam harus melepaskan elemen-elemen tertentu dalam dirinya seperti syarî`ah dan jihâd dan mengambil beberapa elemen-elemen yang ada di Barat seperti pluralisme, liberalisme, dan demokrasi.

Namun cara pikir Tibi itu masih mengandaikan bahwa Islam dan Barat memang benar-benar berbeda. Mungkin saja hubungan Islam dan Barat tidak sesederhana urusan mengamputasi identias sendiri demi menerima identitas lain. Adam Lebor mencoba memberikan ilustrasi. Katanya, bayangkan Islam bukan sebagai batu, kaku dan keras, tetapi sebagai samudra. Seperti bentangan air yang luas mengalir ke sana dan ke sini, yang beragam arus, budaya, politik, dan teologinya mengalir dan berputar sepanjang sejarah dan di seluruh dunia.

Memang dalam perjalanannya itu, Islam lalu berkoeksistensi dengan kultur-kultur yang dilaluinya sehingga begitu banyak warna Islam yang berkembang di masing-masing tempat di mana umat Muslim tumbuh dengan baik. Apakah Islam datang untuk menebas setiap budaya yang dilaluinya? Tidak. Islam memberikan penghargaan tinggi kepada kultur-kultur itu dan membudidayakannya. Contohnya, hamam itu.[]