Mallisme

0
36 views

Jauh di lubuk hati terdalam sang ibu, dia sebenarnya juga sudah rindu dengan dinginnya sengatan pendingin udara mall dan limpahan barang belanja yang memanjakan mata atau senyum pramuniaga yang amat ramah, walau mungkin bukan senyuman tulus.

Sedangakan imajinasi sang anak sedang terbuai angan akan lezatnya makanan cepat saji (fast food/junk food) yang pasti akan dinikmati di mall sebagaimana selama ini selalu terjadi berulang kali setiap mereka menziarahi mall. Bagi sang ibu dan anak, sensasi seperti itu seperti tiada duanya.

Kini, berziarah ke mall sudah seperti menjadi “ritual” dan menjangkau segala level usia, terutama yang muda. Meski di mall ada peringatan larangan masuk bagi yang bersergam sekolah, kaum terdidik itu punya baju serep untuk mengelabui aturan. Toh yang dilarang itu yang berseragam sekolah, bukan anak sekolah di waktu-waktu sekolah. Juga bukan anak seumuran anak sekolah.

Sebagaimana ritual, iika tidak ke mall, ada yang kurang dalam hidup ini karena mall menjanjikan kepuasan spiritual dan emosional tersendiri bagi penggemarnya. Sebagaimana ritual, mall bisa menjadi lokasi ketemuan atau arisan yang memperkuat jalinan ikatan solidaritas. Janji bertemu dengan kawan lama pun dilakukan di café anu, di mall anu. Ulang tahun anak juga diperingati di mall anu.

Selain ritual, ziarah ke mall juga adalah upaya untuk menggolongkan diri kepada sebuah kelompok masyarakat dan memisahkan diri dari kelompok lainnya. Diferensi, menurut istilah Michel Foucault. Bahwa seseorang memang butuh ziarah ke mall, itu adalah persoalan lain. Bahwa seseorang memang memerlukan mall untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, itu juga adalah persoalan lain. Yang penting adalah seseorang itu merasa harus berziarah ke mall karena dengan cara itu, ia lalu mendaftarkan diri kepada kelompok orang-orang yang menghabiskan waktunya di mall, belanja di sana; dan itu adalah sebuah prestise tersendiri. Sebentuk gaya hidup. Dan itu dianggap penting.

Jika “ziarah” ke mall adalah “ritual”, maka kiblatnya adalah pajangan barang yang ditawarkan. Di hadapan benda-benda mati itu, manusia khusyuk memilih dan memilah. Benda-benda mati itu membangkitkan rasa ketergantungan yang amat sangat bagi konsumennya hingga konsumen lupa sebenarnya apa yang dia butuhkan. Memang, barang-barang itu menempatkan diri sebagai “pemenuh” barang kebutuhan sehari-hari, namun yang lebih sering terjadi adalah barang-barang itu menjadi “penyedia” kebutuhan. Hal-hal yang dulunya mungkin, sebenarnya, tidak dibutuhkan amat menjadi dibutuhkan karena pasar menyediakannya atau karena iklan yang mengatakan bahwa konsumen butuh. Jadi, pasar, barang, dan iklan lah yang lalu menjadi penentu kebutuhan manusia, bukan manusia itu sendiri. Sekali lagi manusia kalah oleh nafsunya, bahkan menjadikan nafsunya sebagai tuhan sebagaimana dalam Al-Qur’an:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya and Allah Membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah Mengunci pendengaran dan hatinya serta Meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (Membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)

Oleh Abdul Muid Nawawi

 

BAGI
Artikel Sebelumnya‘Arsy
Artikel BerikutnyaKekuatan Doa