Makna Kemerdekaan

0
47 views

Ramadhan kita kali ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65. Sungguh nikmat yang luar biasa dan patut kita syukuri. Dengan kemerdekaan ini kita bisa menunaikan kewajiban ibadah puasa di bulan Ramdhan dengan leluasa, tenang dan khusyu.

Merdeka berarti bebas dan terlepas dari pengaruh pihak lain, baik pikiran ataupun tindakan. Kebebasan bukan dimaksudkan berbuat sesuka hati, tetapi kebebasan dalam menentukan sikap dan pendapat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang menjungjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Kebebasan juga bersikap moderat tanpa memihak, yang dibelanya adalah kebenaran. Pertanyaannya adalah, sudahkah wajah negri kita mencerminkan itu semua? Dan sudahkah kita mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia?

Kemerdekaan bukan akhir segalanya. Untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang mengangkat harga diri dan martabat bangsa memang bukan hal yang mudah. Paling tidak hal ini bisa kita lihat dari berbagai kasus dan kejadian di sekitar kita, berapa banyak rakyat kecil yang terdzalimi, keadilan terasa asing, kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tak jarang, atas nama kebebasan berekspresi dan salah kaprah memahami hak asasi manusia, norma hukum, agama dan etika masyarakat dilanggar; peraturan yang mencerminkan keluhuran budaya bangsa banyak ditentang dan kalaupun disetujui prosesnya njelimet dan berbelit sehingga memakan waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu harus kita sadari bahwa tidak ada pribadi yang terbebas dari batasan. Batasan adalah kemuliaan, kebaikan, dan kebahagiaan. Siapa yang menginginkan ketiga hal tersebut maka indahkanlah semua batasan yang berlaku baik dalam hukum negara, masyarakat ataupun agama.

Kemuliaan. Jiwa yang ikhlas menerima batasannya sebagai pemulia-nya akan mensyukuri kebebasan yang ada dalam keterbatasannya, hidup dan bekerja membangun kebahagiaan di dalamnya. Sehingga yang kita sebut sebagai kebebasan adalah sebetulnya kualitas hidup yang baik, yang berada dalam batasan-batasan yang membuat kita masih disebut sebagai pribadi yang baik.

Kebaikan. Hanya orang-orang yang hidup dalam kebaikan yang bisa disebut bebas. Siapa pun yang beroperasi di luar kebaikan, akan harus menjelaskan dan membayar denda bagi perusakan yang dilakukannya, terutama yang terhadap dirinya sendiri. Semua batasan ditetapkan untuk membaikkan kehidupan. Tidak ada orang yang bisa melanggar batas, tanpa melanggar kebaikan.

Kebahagiaan. Kebebasan adalah landasan kebahagiaan. Tidak ada orang yang bisa berbahagia jika ia tidak bebas untuk menjadi orang baik. Tidak sedikit saudara kita yang menyerahkan hak fitrah-nya sebagai manusia yang bebas untuk ditukarkan dengan gengsi palsu, dengan kesenangan sementara, dan dengan keamanan sesaat.

Janganlah kita mengira bahwa keburukan telah menjadi kebaikan, hanya karena telah banyak orang besar melakukannya. Hanya seseorang yang pada dasarnya bukan orang baik, yang bisa bertenang-hati dalam merusak kebaikan asli pribadinya. Besarnya ketenangan dalam melakukan keburukan, adalah tanda besarnya siksaan hati yang sedang ditangguhkan baginya. Dan semua yang ditangguhkan, akan disampaikan.

Mereka yang melampaui batas kebaikan akan masuk ke wilayah yang tidak menenangkan, yang membuatnya sulit menghormati dirinya sendiri, dan yang menjadikannya pencuriga yang mengharuskannya berjaga-jaga bahkan terhadap orang yang paling dipercayainya.

”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Marilah kita syukuri kemerdekaan bangsa ini dengan kebebasan yang membahagiakan dan menenteramkan hati. Sungguh bulan ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk melatih diri kita menjernihkan pikiran, membeningkan hati, dan mengindahkan perilaku. Semoga kita termasuk ke dalam pribadi yang mulia dan bertaqwa.