Magdalena

0
122 views

Magdalena merupakan sebuah karya sastra klasik yang hadir dari seorang sastrawan Mesir, Mustafa Lutfi El Manfaluthi (1876-1924), yang tidak bisa berbahasa Prancis. Namun, Alphonse Karr, nampaknya harus berterima kasih padanya, karena karyanya, Sous les Tilleus, yang berbahasa Prancis,  menjadi terkenal berkat saduran El Manfaluthi ke dalam bahasa Arab dengan judul Al Majdulin (Magdalena) ini. Edisi Arab inilah yang kemudian mendunia, dan mendapat apresiasi yang meluas tidak hanya di negeri Arab, tetapi juga di Indonesia.

Membaca karya ini kita akan teringat dengan sebuah novel yang cukup populer di Indonesia karena ditulis oleh seorang penulis terkenal bernama Hamka, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel ini menjadi buah bibir dari para penikmat sastra kala itu, karena novel karya Hamka tersebut dituduh plagiat dari buku Al Majdulin. Kemiripan tema, alur cerita, serta penokohan dari dua karya ini memang mengundang para pengkritik karya sastra untuk berkesimpulan bahwa Hamka menjiplak karya El Manfaluthi.  Walau sebenarnya, tuduhan itu tidak terlepas dari konteks politik saat itu.

Polemik itu sendiri bermula dari tulisan di majalah “Bintang Timoer”, tahun 1962, kemudian diikuti berbagai media lain. Hamka yang terkenal sebagai sastrawan dan ulama muslim terkemuka, dianggap ancaman oleh kelompok yang berhaluan komunis. Dengan kasus inilah Hamka ingin coba didiskreditkan. Namun, polemik tersebut mulai hilang setelah almarhum HB Yasin, Paus Sastra Indonesia, mengungkapkan analisa sekaligus pembelaannya.

El Manfaluthi hadir pada zaman kebangkitan kesusastraan Arab yang banyak dipengaruhi budaya Prancis dan Ilmu Pengetahuan Barat. Ini disebabkan mulai adanya kontak antara dunia Arab dan Eropa Modern di Mesir saat itu. Oleh karena itu, ciri dari karya sastra zaman ini adalah munculnya tema-tema pertentangan antara kaum tradisionalis dan kaum modernis, serta antara kebudayaan Islam tradisional dan kebudayaan Eropa modern.

Namun demikian, El Manfaluthi masih layaknya Sastrawan Arab klasik yang memiliki kecenderungan bergaya syair dalam karya-karyanya. Ia lebih mementingkan keindahan bahasa dan mendayu-dayu dalam karyanya. Tidak seperti para sastrawan Arab Modern lainnya, sebut saja Naquib Mahfouz, Nawal El Sadawi, Taufiq El Hakim, yang mulai meninggalkan gaya bersyair dan lebih menonjolkan makna yang akan disampaikan lewat realitas sosial yang menjadi inspirasi karya mereka.

Magdalena sendiri menceritakan kisah kehidupan dan cinta dua anak manusia yang masih terbelenggu adat yang ada. Kemudian bagaimana sentuhan-sentuhan ‘dunia luar’ mulai menghampiri mereka berdua.

Novel Magdalena memang menarik untuk dibaca. Novel ini seakan menjadi cermin bagi kita para pembacanya untuk berkaca sejauh mana perubahan zaman yang mempengaruhi adat dan kebiasaan di masyarakat, mempengaruhi kehidupan kita. Juga, kita diajak untuk bisa bijak dalam menyikapi perubahan yang menyentuh kehidupan kita saat ini.

 

Magdalena

ISBN: 978-979-17834-0-8

Penulis: Mustafa Lutfi El Manfaluthi

Penerjemah: Nursangadah

Penerbit: Nuun

Jumlah Hlm: xx + 456 Hlm