Mabrur

0
42 views

google.co.idSecara harfiyah, mabrur artinya baik. Haji yang mabrur berarti haji yang membuat orang yang menunaikannya menjadi baik bila sebelumnya ia orang yang tidak baik dan bila ia sudah baik akan bertambah kebaikannya yang tidak hanya dirasakan oleh diri dan keluarganya tapi juga oleh masyarakat banyak. Ini berarti, Seorang haji disebut mabrur hajinya bila kehidupannya sesudah menunaikan ibadah itu semakin disesuaikan dengan segala ketentuan Allah swt sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul-Nya.

Namun kebaikan yang harus ditunjukkan tidak hanya pada sepekan atau dua pekan sesudah pulang haji, bukan pula sebulan atau dua bulan atau setahun dua tahun. Tapi kebaikan itu harus dibuktikan hingga akhir hayatnya. Karenanya, ibadah yang menggabungkan seluruh rangkaian makna ibadah di dalam Islam diwajibkan hanya sekali seumur hidup sehingga pengaruh positifnya seharusnya terbawa sampai mati, bila itu yang terjadi, maka pantaslah kalau seorang haji itu akan memperoleh imbalan berupa surga sebagaimana hadits Rasulullah saw:

 

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْجَنَّةَ.

 

Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain syurga (HR.Bukhari dan Muslim).

Hakikat Kebajikan

Kita sudah sama-sama memahami bahwa manusia yang paling mulia disisi Allah swt adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya. Untuk menjadi orang yang bertaqwa, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh agar kita bisa memiliki sifat dan kepribadian orang yang bertaqwa. Salah satunya adalah dapat menunjukkan kebajikan. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami hakikat kebajikan. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

 

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS. al-Baqarah [2]:177).

Dari ayat di atas, kata kunci yang harus kita pahami adalah al birr atau kebajikan. Al Birr adalah himpunan dari semua kebaikan (al khair) yang meliputi nilai-nilai luhur rohani dan akhlak yang baik serta segala yang lahir dari keduanya berupa amal shaleh yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Swt, demikian menurut Prof. DR. Muhammad Syaltut, ulama Mesir di dalam tasirnya.  Selanjutnya, beliau membagi kebajikan ke dalam tiga bagian.

1. Kebajikan Dalam Aqidah.

Aqidah merupakan ikatan antara manusia dengan Allah swt. Keterikatan kepada Allah swt membuat manusia tidak akan menyimpang dari ketentuan-Nya, bagaimanapun situasi dan kondisinya. Kebajikan dalam aqidah disebutkan dalam bentuk iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi. Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengemukakan bahwa iman kepada Allah merupakan titik perubahan dalam kehidupan umat manusia dari segala macam ibadah kepada segala macam kekuatan, sesuatu dan simbol untuk beribadah hanya kepada Allah, titik perubahan dari kekacauan kepada keteraturan, dari kebingungan kepada tujuan yang pasti dan dari ketercerai-beraian kepada kesatuan arah. Iman kepada hari akhir adalah percaya kepada keadilan Tuhan yang mutlak dalam segala pembalasan-Nya dan bahwa kehidupan ini bukanlah suatu kesia-siaan. Dan kebaikan tentu akan mendapatkan balasannya, tidak hilang sia-sia. Iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman kepada yang gaib yang manusia tidak bisa mengindranya. Iman kepada kitab dan nabi-nabi adalah percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi Allah seluruhnya yang juga berarti percaya kepada kesatuan manusia, keesaan Allah, kesatuan agama dan kesatuan manhaj (sistem) ilahi.

2. Kebajikan Dalam Amal.

Kebajikan dalam amal yang shaleh merupakan bukti dari kebajikan dalam aqidah sehingga antara aqidah dengan amal yang shaleh bukanlah sesuatu yang terpisah, tapi satu kesatuan seperti dua sisi mata uang. Dengan kata lain, iman harus dibuktikan dengan amal dan amal harus didasari pada iman. Bentuk-bentuk kebajikan dalam amal shaleh disebutkan dalam ayat di atas adalah Pertama, mengorbankan harta bagi keperluan orang lain seperti kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir (orang yang dalam perjalanan dan memerlukan pertolongan), peminta-minta dan untuk memerdekakan budak. Ini semua menurut Sayyid Quthb adalah untuk membebaskan jiwa manusia dari sifat serakah dan kikir serta hawa nafsu mementingkan diri sendiri. Ini merupakan nilai syu’uriyah (perasaan) yang akan menjadikan tangannya terbuka untuk mendermakan harta yang dicintainya, bukan harta yang murah dan jelek, Allah swt berfirman:

 

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Mengetahui (QS. Ali Imran [3]:92).

Selanjutnya, Sayyid Quthb memaparkan bahwa keluarga adalah unsur pertama di dalam jamaah sehingga yang disebutkan pertama adalah memberikan harta kepada kerabat, sedangkan anak yatim merupakan tanggung jawab orang yang lebih tua kepada yang lebih muda dan dari yang kuat kepada yang lemah, ini sekaligus untuk memelihara keutuhan pergaulan dari kerusakan anak-anak yang terlantar yang mungkin dapat membangkitkan dendam mereka kepada masyarakat yang tidak mau menghiraukan mereka. Memberikan harta kepada orang miskin adalah untuk mengangkat mereka dari keimiskinan sehingga mereka tidak meminta-minta atau cara-cara mencari nafkah yang bisa menghilangkan kemuliaan mereka, sedangkan untuk musafir adalah sebagai bukti ukhuwah islamiyah dan memerdekakan budak merupakan upaya mengembalikan kehormatan mereka sebagai manusia.

Kedua, mendirikan shalat yang ditegakkan dengan kehadiran jasmani, rohani dan akal pikiran. Karena itu shalat yang hanya dilaksanakan dengan gerakan fisik dan lisan yang komat-kamit tapi tanpa kehadiran hati tidaklah menunjukkan menunjukkan penyerahan  dan pengorbanan diri, hal ini tidak termasuk kebajikan tapi justeru kelalaian, yakni lalai dalam shalatnya karena shalat menuntut penghayatan.

Ketiga, menunaikan zakat,hal ini sekaligus menunjukkan bahwa antara infak dalam bentuk emmberikan harta kepada orang-orang yang sudah disebutkan berbeda dengan zakat, sehingga meskipun orang sudah berinfak ia tetap harus berzakat sehingga harta dan jiwanya menjadi semakin bersih dari sifat-sifat buruk yang berkaitan dengan harta.

3. Kebajikan Dalam Akhlak.

Akhlak yang mulia merupakan harga diri seorang muslim dan ukuran bagi kualitas aqidahnya, karena itu kebajikan juga harus ditunjukkan dalam bentuk akhlak yang mulia. Di dalam ayat di atas, bentuk-bentuk kebajikan di atas disebutkan dalam dua hal yang sangat penting. Pertama, menegakkan kewajiban yang memang harus ditunaikan seperti memenuhi janji apabila berjanji kepada siapapun. Ada ungkapan yang sangat populer, janji itu utang dan utang harus selalu ditunaikan. Bila seorang muslim tidak memenuhi janji kepada orang lain, maka citra dirinya menjadi rusak dan akibatnya hilang kepercayaan orang lain kepadanya. Sayyid Quthb di dalam tafsirnya menyatakan bahwa bila pada suatu masyarakat janji tidak dipenuhi, maka setiap orang akan hidup dalam suasana cemas, kalut, hilang pegangan dan saling mencurigai. Oleh karena itu, perjanjian harus berlangsung secara terang, jelas dan terbuka, bukan dengan maksud melakukan penipuan.

Bentuk kebajikan kedua dalam kaitan dengan akhlak adalah, melawan keburukan dan menghadapi serta mengatasi rintangan-rintangan hidup dalam bentuk sabar dalam berbagai situasi, yakni situasi sempit, menderita dan perang. Kesempitan hidup bukan berarti seseorang bebas melakukan hal-hal yang tidak halal, penderitaan yang dialami bukan berarti seseorang boleh menghalalkan segala cara dalam mencapai sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan peperangan yang dahsyat bukan berarti seseorang boleh melakukan tindakan membabi buta sehingga mengabaikan etika dan perasaan orang lain atau ketakutannya kepada musuh membuat ia dibolehkan lari dari medan perang. Sabar adalah menahan diri dari segala yang tidak dibenarkan oleh Allah swt karena mengharap ridha-Nya. Oleh karena itu Allah swt sangat mencintai orang yang sabar sehingga Dia akan selalu bersamanya.

Tiga bentuk kebajikan yang telah diuraikan di atas merupakan pokok-pokok ajaran Islam, bila ketiganya dapat kita wujudkan dalam hidup ini, maka kita termasuk orang yang memiliki iman yang benar dan memiliki ketaqwaan yang sejati.

Ketika ada teman, jamaah dan keluarga kita menunaikan ibadah haji, do’a dan harapan yang kita panjatkan adalah semoga yang bersangkutan menjadi haji yang mabrur. Harapan ini didasari pada besarnya nilai keutamaan dari haji yang mabrur, yakni jaminan surga dari Allah swt dan Rasul-Nya. Secara harfiyah, mabrur artinya baik. Haji yang mabrur berarti haji yang membuat orang yang menunaikannya menjadi baik bila sebelumnya ia orang yang tidak baik dan bila ia sudah baik akan bertambah kebaikannya yang tidak hanya dirasakan oleh diri dan keluarganya tapi juga oleh masyarakat banyak. Ini berarti, Seorang haji disebut mabrur hajinya bila kehidupannya sesudah menunaikan ibadah itu semakin baik.

Oleh karena itu, seorang haji disebut memperoleh haji yang mabrur tidak hanya diukur dari pelaksanaan ibadah yang baik dan benar dari aspek fiqih saat di Tanah suci dengan segala rangkaiannya, tapi justeru tantangan pembuktiannya adalah sesudah ia melaksanakan ibadah itu setelah kembali ke Tanah Air masing-masing hingga mencapai kematian, apalagi ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup.

Untuk mengukur apakah seseorang betul-betul memperoleh haji yang mabrur, paling tidak diantara tolok ukurnya ada lima hal.  

Dekat Kepada Allah.

Pergi haji adalah perjalanan menuju Baitullah, para jamaah begitu antusias untuk kembali kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, bila seorang haji meraih haji yang mabrur seharusnya ia selalu merasa dekat kepada Allah swt. Kedekatannya kepada Allah membuatnya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Kearah itu, seorang haji telah memulai hajinya dengan berihram yang berarti pengharaman dan mengakhirinya dengan tahallul yang berarti penghalalan, Ini berarti seorang haji sebagai bukti kedekatannya kepada Allah swt siap meninggalkan segala yang diharamkan dan hanya mau melakukan sesuatu bila memang dihalalkan oleh Allah swt. Halal dan haram, haq dan bathil merupakan sikap dan prilaku yang tidak akan dicampur-campur dalam kepribadian seorang muslim, Allah swt berfirman:

 

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui. (QS. al-Baqarah[2]:42)

Berakhlak Mulia.

Seorang haji telah berinteraksi dengan manusia yang jumlahnya begitu banyak dari segala penjuru dunia dengan bahasa, warna kulit dan kebiasaan yang berlainan. Dari sini, kita sadari bahwa kemuliaan manusia bukan karena bahasa, warna kulit atau postur tubuhnya, tapi pada ketaqwaan yang dicerminkan dengan akhlak yang mulia. Ketika seorang haji memakai pakaian ihram yang hanya terdiri dari dua helai kain putih dan tidak beda dengan kain kafan, lepas pula pakaian lain yang kadangkala membuat manusia menjadi sombong, keberhasilan ibadah haji akan membuat seorang haji meninggalkan hal-hal yang keji dan amat bertentangan dengan akhlak yang Islami, dalam kaitan itu pula, Allah swt berfirman:

 

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats [mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal (QS. al-Baqarah[2]:197).

Berkorban Untuk Kebaikan.

Tidak ada jamaah haji yang bisa melaksanakan ibadah ini kecuali dengan pengorbanan, mulai dari pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta sampai nyawa sekalipun. Meskipun ada jamaah haji yang bisa menunaikan ibadah ini dengan biaya dinas atau dibiayai pihak lain, ia tetap harus berkorban dengan pengorbanan lain seperti yang sudah disebutkan di atas. Ini berarti, bukti haji mabrur adalah seseorang mau dan selalu siap berkorban dengan apa yang dimilikinya untuk tegaknya nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah swt.

Dalam hal apapun, haq maupun bathil manusia harus berkorban, bila untuk yang bathil saja manusia mau berkorban, mengapa untuk yang haq kita tidak mau berkorban. Karena itu, ibadah haji dan hari raya Idul Adha mengingatkan dan mengokohkan semangat pengorbanan kita dalam kebaikan, karenanya apapun yang kita miliki jangan sampai membuat kita lupa kepada Allah swt, bila ini yang terjadi kita hanya akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat, Allah swt berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

 Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi (QS. al-Munafiqun[63]: 9).

Memakmurkan Masjid.

Pusat ibadah haji adalah masjid, yakni masjid Al Haram, bahkan meskipun bukan merupakan bagian dari ibadah haji, para jamaah mendapat dan menyempatkan diri dengan penuh kesungguhan untuk beribadah di Madinah yang berpusat di Masjid Nabawi, mereka dengan penuh antusias melaksanakan shalat berjamaah yang lima waktu sebanyak 40 waktu di masjid Nabawi, mereka juga antusias melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Al Haram, bahkan mereka menunggu datangnya waktu shalat. Keutamaan shalat apalago dengan cara berjamaah di kedua masjid ini memang memiliki keutamaan yang amat besar. Namun antusiasnya umat Islam dari berbagai negara di dunia dalam melaksanakan shalat berjamaah di masjid  Al Haram dan Masjid Nabawi seperti itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana seorang haji bisa menunjukkan hasilnya dengan rajin shalat berjamaah di masjid yang berada di lingkungannya masing-masing.

Karena itu, amat disayangkan bila seorang haji, khususnya yang laki-laki setelah kembali ke kampung halamannya justeru tetap saja tidak nampak di masjid dalam shalat berjamaah, apalagi dalam aktivitas lainnya yang sebenarnya amat menuntut partisipasi mereka secara aktif, dan yang lebih tragis lagi adalah bila ada seorang haji yang sama sekali merasa tidak perlu melaksanakan shalat karena dengan rajin shalat di kedua masjid Makkah dan Madinah itu ia merasa sudah mendapat pahala yang begitu banyak, lebih dari cukup, padahal sebesar-besarnya, setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya keutamaan yang diberikan Allah swt tidak akan menggugurkan kewajiban yang harus kita tunaikan, inilah rumus yang harus kita pahami dengan baik.

Bergerak dan Berjuang.

Ibadah haji merupakan ibadah bergerak, para jamaah memang selalu bergerak bahkan sejak sebelum berangkat ke Tanah suci. Para jamaah sudah banyak bergerak sejak sebelum berangkat dengan latihan berjalan yang banyak, pada saatnya bergerak ke asrama haji, terus ke bandara, pesawat segera diberangkatkan ke bandara King Abd. Aziz Jedah, terus ke Madinah, Ke Makkah, tawaf, sa’i, mabit di Muzdalifah, melontar dan mabit di Mina hingga tawaf ifadhah dan tawaf wada dan akhirnya kembali ke bergerak lagi menuju Tanah Air masing-masing. Pergerakan jamaah haji masih dilanjutkan dengan melihat dan  berziarah ke tempat-tempat bersejarah dalam konteks perjuangan para Nabi, khususnya Nabi Ibrahim, Ismail dan Nabi Muhammad saw.

Manakala seseorang meraih haji yang mabrur, semua itu seharusnya bisa membuatnya mau bergerak dan terus bergerak dalam upaya memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran Islam hingga mencapai kematiannya. Karena itu, seorang haji yang mabrur idealnya menjadi tokoh-tokoh pergerakan yang memperbaiki keadaan diri, keluarga dan masyarakatnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Seorang haji juga akan terus bergerak untuk mencari nafkah yang halal dan harta yang diraihnya itu akan selalu digunakannya untuk segala kebaikan, termasuk mendanai perjuangan di jalan Allah swt. Namun yang amat disayangkan adalah begitu banyak orang yang telah berhaji, namun ia menjadi pasif dan diam saja, padahal banyak hal yang harus dilakukan dan diperbaiki dalam kehidupan ini.     

Dengan pengaruh positif yang sedemikian besar dari haji yang mabrur seperti tergambar di atas, apalagi bila terbawa sampai mati, maka wajarlah bila Rasulullah saw menyatakan bahwa “haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. Ini berarti, bila sesudah haji meskipun dilakukan berkali-kali tapi tidak nampak pengaruh poisitifnya, bisa jadi surga masih jauh bagi orang yang demikian.

BAGI
Artikel SebelumnyaKa’bah Yang Kosong
Artikel BerikutnyaHikmah Sujud