Maaf, Kami Muslim

0
189 views

Bagaimana rasanya hidup sebagai Muslim di negara dengan mayoritas penduduknya non-Muslim di tengah isu terorisme yang dialamatkan kepada umat Islam? Ini mungkin bukan pertanyaan yang aneh dan sampai saat ini masih terjadi pada umat Islam yang sekarang hidup di Barat. Zaiba Malik adalah salah seorang yang mempunyai jawaban atas pertanyaan itu dan menulikannya dalam sebuah buku, We Are a Muslim, Please.

Zaiba MalikZaiba adalah pemenang penghargaan investigative jounalist yang bekerja di BBC dan Channel 4 bahkan termasuk di antara dua puluh perempuan kulit hitam dan Asia berpengaruh di UK.

Zaiba Malik tumbuh di Bradford, di pusat masyarakat Pakistan yang memberikan nama panggilan tersendiri buat kota itu, Bradistan. Ayahnya shalat lima kali sehari dan ia menemani ayahnya sepanjang malam selama bulan Ramadhan, membaca Al Qur’an. Di sekolah, ia satu-satunya gadis di kelasnya yang berasal dari keluarga orang Paksitan. Dia lalu meninggalkan rumah, pergi ke universitas dan menjadi seorang jurnalis.

Memoirnya menggambarkan sebuah dunia yang sudah menghilang ke dalam sejarah sosial. Para imigran Pakistan tahun 1960-an jauh dari kaya dan ayah. Zaiba bekerja shift sepuluh-jam di pabrik tekstil. Ziaba menceritakan batas-batas yang sempit dari kehidupan rumahnya yang membuatnya merasa tidak mampu berbicara tentang di sekolah: tidak ada hari libur, dengan pengecualian ziarah tahunan ayahnya ke Mekah; pamannya yang cacat tinggal bersama keluarga, dan satu-satunya waktu bagi Zaiba pergi keluar di akhir pekan adalah ketika mengunjungi WH Smith bersama ayahnya.

Tumbuh dalam perjuangan di antara identitas-identitas yang tidak dapat didamaikan, adalah proses yang dia ceritakan dengan humor dan wawasan dalam bukunya. Aku tahu aku adalah seorang Muslim jauh sebelum aku tahu bahwa aku adalah seorang Inggris, tulis dia. Dan aku tahu bahwa aku orang Pakistan jauh sebelum aku tahu bahwa aku adalah orang Inggris.

Keluarga Zaiba berbicara menggunakan bahasa Punjabi di rumah, berbelanja di tukang daging halal dan diperlakukan sebagai figur berpengaruh dengan hormat berlebihan. Para pengunjung yang datang ke rumah itu hanya “laki-laki dengan celana baggy dan topi putih kecil dan wanita dengan celana putih longgar dan penutup kepala. Perempuan yang lebih tua yang dikenal sebagai “para bibi mengawasi masyarakat, mengekspresikan ketidaksetujuan jika mereka melihat putra atau putri seseorang mengadopsi kebiasaan non-Pakistan.

Sejak peristiwa Bom London 7/7, ada serentetan memoar tentang tumbuh di masyarakat Muslim. Buku ini adalah salah satu contoh yang lebih baik, dan dengan jelas menyampaikan suasana aman tapi menyesakkan yang ditinggalkan Zaiba ketika ia kuliah. Penilaian ulang atas imannya terjadi sebelum persitiwa 07/07 – itu terinspirasi oleh penangkapan dan interogasi brutal ketika membuat film dokumenter di Bangladesh – tapi dia juga dimotivasi oleh kemarahan terhadap empat orang muda yang membunuh 52 orang asing di London lima tahun lalu. Buku ini juga memuat surat kepada pembom bunuh diri, Shehzad Tanweer, yang lahir di daerah yang sama dengan Zaiba, Bradford.

Buku ini jelas berbiacara tentang Islam dan perannya dalam kehidupan para imigran dan anak-anak mereka di tahun 1960-an. Namun ada dimensi lain dari pengalaman Zaiba yang hampir tidak dia singgung, yaitu kelas. Keluargaku adalah kelas pekerja di wilayah utara yang tidak punya hari libur, dianggap sebagai figur otoritas dan mengagumkan serta diasumsikan sebagai arah yang benar bagi kehidupan anak-anak. Nilai-nilai sosial yang konservatif tidak hanya dimiliki oleh keluarga Muslim. Para imigran senantiasa berjuang untuk memahami klaim persaingan budaya berbeda hingga munculnya kelas menengah baru yang sukses menyelesaikan konflik. Para Muslim kelahiran Inggris, sebagaimana pembom 7/7, secara sadar mencoba untuk menghentikan proses tersebut, tetapi pada orang-orang bijaksana seperti Zaiba lah masa depan menjadi cerah.

Zaiba sukses menceritakan hidupnya yang senantiasa terkoyak di antara dua identitas: “orang Inggris” dan “seorang Muslim”. Terasing di sekolahnya dan kebingungan di rumah. Lewat mata kanak-kanak Zaiba, kita bisa melihat kepedihan yang meraja di sebuah kehidupan penuh prasangka, kontradikis, dan ambiguitas. Sebuah sudut pandang yang menyedihkan sekaligus menawan.[]

Sumber:

http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/books/reviews/we-are-a-muslim-please-by-zaiba-malik-2027385.html

http://www.rbooks.co.uk/product.aspx?id=0434018473