Lupa dan Melupakan

0
51 views

Salah satu ungkapan yang sering kita dengar atau bisa jadi sering kita ucapkan adalah bahwa manusia tidak luput dari salah dan lupa. Namun ungkapan semacam itu tidak boleh membuat manusia merasa wajar-wajar saja bila melakukan kesalahan dan menjadikan lupa sebagai alasan yang wajar bila tidak melakukan sesuatu yang semestinya dilakukan atau tidak meninggalkan sesuatu yang semestinya ditinggalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan menunjukkan bahwa begitu banyak manusia yang menjadikan kata lupa sebagai alasan bila ia tidak melakukan apa yang semestinya dilakukan dan orang lain yang dirugikanpun tidak bisa mempersoalkannya bahkan terpaksa memakluminya. Dalam konteks inilah seharusnya seseorang berlaku jujur sehingga bila ia memang sebenarnya lalai seharusnya mengakui saja kelalaiannya itu.

Di dalam Al Qur’an Allah swt mengemukakan kata lupa dalam berbagai bentuknya yang berkaitan dengan manusia, ini harus mendapat perhatian kita semua agar kita tidak termasuk orang yang melupakan apa yang semestinya selalu kita ingat sehingga tidak ada alasan yang bisa diterima oleh Allah swt dalam kehidupan di akhirat nanti.

1.    Lupa Pada Diri Sendiri

www.imagekind.comPersoalan pokok soal lupa pada diri manusia adalah lupa kepada dirinya sendiri, yakni tidak melakukan kebaikan padahal kebaikan itu ia perintahkan kepada orang lain apalagi pada keluarganya sendiri, ini berarti, ia sudah memahami masalah kebaikan yang bersumber dari wahyu yang datang dari Allah swt. Di dalam Al Qur’an, Allah swt berfirman: Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS Al-Baqarah/2:44).

Kepada orang yang melupakan dirinya sendiri dalam arti hanya memerintahkan orang lain melakukan kebaikan sedangkan ia justeru melakukan yang sebaliknya, maka terdapat hadits yang mengemukakan hukuman yang bakal diterima oleh orang yang demikian, dalam hadits riwayat Ibnu Hibban seperti yang dikutif oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dikemukakan apa yang diperlihatkan kepada Rasulullah saw dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, hadits tersebut artinya: “Di malam aku diisra’kan, aku bersua dengan orang-orang yang bibir dan lidah mereka digunting dengan gunting-gunting dari api, lalu aku bertanya: “siapakah mereka itu wahai Jibril?”. Jibril menjawab: “Mereka adalah para khatib (penceramah) umatmu yang memerintahkan kepada orang lain untuk melakukan ketaatan, sedangkan mereka melupakan diri mereka sendiri”.

Orang yang lupa pada diri sendiri bukan hanya orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukan kebaikan itu bahkan melakukan yang amat bertentangan dengan kebaikan, namun orang yang lupa pada diri sendiri adalah orang yang melupakan hakikat keberadaan dirinya untuk beramal shaleh dan mengabdi kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan. Allah swt berfirman: Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS Al-Hasyr/59:19).

Ayat ini ditafsirkan oleh M. Quraish Shihab bahwa lupa kepada diri sendiri adalah tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat buat diri mereka sendiri, baik karena tidak melakukannya sejak semula atau karena melakukannya tetapi disertai dengan pamrih dan ingin dipuji.  Mereka itu yang sungguh jauh dari dari segala macam keberuntungan, merekalah yang merupakan orang yang fasik, yang telah keluar secara mantap dari koridor ajaran agama.

Dengan demikian, orang yang lupa adalah orang yang mengabaikan posisi dirinya, lupa bila ia sebenarnya suami bagi isteri yang harus menunjukkan tanggungjawab, lupa sebagai isteri bagi suami yang harus mengurus rumah tangga, lupa orang tua terhadap anak yang harusa menyayangi dan mendidiknya, lupa sebagai anak terhadap orang tua yang harus menghormati dan mentaatinya sampai lupa seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya yang harus memberikan pelayanan yang terbaik, bukan malah mau dilayani, begitulah seterusnya.

2.    Lupa Pada Allah

Di dalam Al-Qur’an, Allah swt juga menginformasikan kepada kita adanya manusia yang lupa kepada Allah swt. Yang dimaksud lupa kepada Allah adalah lupa kepada ketentuan Allah swt dalam kehidupan ini sehingga manusia meninggalkan atau mengabaikan ketentuan-ketentuan Allah swt dalam kehidupan ini, Allah swt berfirman sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Hasyr/59:19 di atas.

Hal yang lebih membahayakan lagi dari keberadaan orang yang lupa kepada Allah swt tidak hanya mengabaikan ketentuan Allah swt dalam kehidupan ini, tapi mereka juga memerintahkan yang buruk dan mencegah yang baik sehingga ia melakukan keburukan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga melibatkan orang lain dalam keburukan itu, Allah swt berfirman: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik (QS At-Taubah/9:67).

Orang-orang munafik dinyatakan memerintahkan yang buruk dan mencegah yang baik karena mereka lupa kepada Allah swt, mereka beranggapan bahwa keburukan yang mereka lakukan itu akan luput dari pengawasan dan perhitungan Allah swt, Sayyid Qutb dalam tafsirnya menyatakan bahwa orang-orang munafik tidak memperhitungkan kecuali perhitungan manusia dan perhitungan untung rugi di dunia. Ini semua membuat Allah swt akan melupakan mereka dalam arti tidak akan memberikan perlindungan dan pertolongan kepada siapa saja yang telah lupa kepada Allah swt dalam kehidupan di dunia ini.

Dengan demikian, lupa kepada Allah swt amat berbahaya bagi kehidupan manusia karena manusia terus dipengaruhi oleh orang yang demikian untuk melakukan kemaksiatan dan kemunkaran.

3.    Lupa Pada Janji Allah

Pada dasarnya, manusia sudah berjanji kepada Allah untuk selalu terikat dan mengabdi kepada-Nya dalam kehidupan ini. Namun sejarah manusia justeru mencatat dari satu generasi ke generasi berikutnya, ada saja orang-orang yang melupakan janji kepada Allah swt itu sehingga dalam hidup ini mereka mengabaikan ketentuan-ketentuan-Nya, ini mengakibatkan datang atau turun kutukan atau laknat Allah swt kepada manusia dalam berbagai bentuknya, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ma’idah/5:13).

Ayat di atas berkenaan dengan orang-orang Bani Israil yang melupakan atau mengabaikan perjanjian mereka kepada Allah swt untuk selalu mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul dan menginfakkan harta untuk kebaikan, namun ternyata dengan mudah mereka melupakan janji kepada Allah swt sehingga dengan mudah pula mengkhianati perjanjian dengan Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin, satu diantaranya adalah ketika mereka melakukan perjanjian untuk saling melindungi, tapi ketika orang-orang musyrik Makkah menyerang kaum muslimin di Madinah, mereka bukan membela dan melindungi kaum muslimin, tapi justeru mereka berkoalisi dengan orang-orang musyrik itu untuk memerangi umat Islam, perang yang disebut dengan perang khandak ini disebut juga dengan perang ahzab yang artinya bersekutu. Hingga kini orang-orang Yahudi selalu mengkhianati perjanjian seperti yang terjadi di Palestina.

4.    Lupa Pada Hari Akhir

Percaya dan selalu ingat akan adanya hari akhirat merupakan hal yang amat penting, hal ini karena disamping hari akhirat itu pasti adanya, keyakinan adanya hari itu membuat manusia akan menjalani kehidupan ini dengan baik karena sehingga keberuntungan dalam kehidupan di akhirat akan diperolehnya, sedangkan keburukan dalam hidup ini akan membuat manusia mendapatkan keburukan dalam kehidupan di akhirat nanti. Dampak negatif dari orang yang lupa akan adanya kehidupan akhirat membuatnya tidak merasa ada pertanggungjawaban dari apa yang dilakukannya di dunia ini, sehingga ia tidak peduli pada aturan, bahkan agama saja dijadikannya sebagai permainan yang tidak ditaatinya, mereka menjadi manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia sehingga dunia yang seharusnya hanya menjadi sarana tapi justeru mereka jadikan sebagai tujuan hidup, Allah swt berfirman: (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami (QS Al-A`raaf/7:51).

Bahaya lain dari lupa pada kehidupan akhirat bisa terjadi pada penguasa yang seharusnya memutuskan perkara secara adil, namun karena mereka mengabaikan pertanggungjawaban dalam kehidupan di akhirat yang dilupakannya, maka iapun hanya menuruti hawa nafsu sehingga menyesatkan banyak orang, karenanya Allah swt berfirman: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (QS Shaad/38:26).

Akibat yang akan diderita bagi siapa saja yang lupa kepada kehidupan hari akhirat adalah akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala azab yang membawa penderitaan yang berkepanjangan dan Allah swt tidak mempedulikan mereka meskipun mereka amat membutuhkan pertolongan-Nya, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt: Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. (QS Al-Jaatsiyah/45:34).

Dengan demikian, kehidupan hari akhirat merupakan kesempatan emas untuk bisa berjumpa langsung dengan Allah Swt, karena itu amat rugi orang yang melupakan atau mendustakaan hari akhirat dan perjumpan dengan Tuhannya, Allah Swt berfirman yang artinya: Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu”, sambil memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu (QS Al-An`aam/6:31).

5.      Lupa Pada Ayat Allah

Ayat-ayat Allah swt yang tertuang di dalam Al-Qur’an merupakan petunjuk, tidak hanya bagi kaum muslimin tapi juga untuk seluruh umat manusia bila mereka mau mengambil petunjuk-petunjuk darinya. Di dalam kitab suci itu, terdapat begitu banyak ketentuan dalam berbagai aspek kehidupan, nasihat dan peringatan dari Allah swt yang harus selalu kita perhatikan. Karena itu, sebagai manusia apalagi sebagai muslim kita jangan sampai melupakan ayat-ayat Allah swt dalam arti mengabaikannya sehingga kehidupan ini kita jalani tanpa berpedoman kepadanya, karena itu cepat atau lambat manusia akan merasakan akibatnya dan puncak dari akibat buruknya itu adalah mereka akan dilupakan atau tidak mendapat perhatian, perlindungan dan pertolongan dari Allah swt pada saat setiap orang amat membutuhkannya, yakni dalam kehidupan di akhirat nanti, Allah swt berfirman: Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan (QS Thaahaa/20:126).

Apa yang dinyatakan Allah swt pada ayat di atas membuat semakin dalam penyesalan manusia, hal ini karena pada hari akhirat itu, setiap orang pasti amat membutuhkan perlindungan dan pertolongan Allah swt, namun dengan sebab melupakan ayat-ayat Allah swt, manusia dilupakan oleh-Nya dalam kehidupan akhirat sehingga tidak mungkin memperoleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya.

Untuk membuktikan bahwa kita tidak melupakan ayat-ayat Allah swt, maka setiap kita harus selalu menjalani kehidupan ini sebagaimana yang telah ditentukan, Allah swt berfirman: Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (QS Al-An`aam/6:153).

6.      Lupa Pada Larangan Duduk Bersama Orang Zhalim

Ajaran Islam dengan segala ayat-ayat yang menjadi sumbernya merupakan hal-hal yang harus diperhatikan, dipahami dan diamalkan serta ditaati dalam kehidupan ini, karenanya jangan sampai ada manusia yang menjadikannya sebagai bahan permainan atau ejekan, ini merupakan suatu kezaliman terhadap agama. Karena itu bila ada orang yang mempermainkan atau mengolok-olok ajaran Islam, maka sebagai muslim kita harus menghentikan olok-olokan mereka dan pembicaraan kita alihkan kepada tema yang tidak bernada mengejek ayat-ayat Allah. Namun karena kelemahan, kadangkala kita tidak mampu mengalihkan pembicaraan dan kitapun larut dalam suasana mengolok-olok ayat itu, ini merupakan sikap yang negatif. Karena itu bila kita tidak punya kemampuan untuk mengarahkan pembicaraan, seharusnya kita tidak mendengarkan pembicaraan orang yang zalim itu dan kitapun meninggalkannya sampai mereka beralih pada pembicaraan semula yang tidak mengolok-olok ayat-ayat Allah, karenanya Allah swt melarang kita untuk duduk bersama mereka sebagaimana firman-Nya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (QS Al-An`aam/6:68).

Dari ayat di atas, diantara kesan yang kita peroleh adalah sebagai muslim, selemah apapun kita, tetap saja tidak dibenarkan bagi kita untuk membiarkan penghinaan kepada Al-Qur’an yang dilakukan oleh orang lain, bila kita tidak meluruskan atau melakukan pembelaan, minimal adalah dengan tidak duduk bersama penghina Al-Qur’an dan mendengarkan hinaan mereka. Bila kita merujuk kepada hadits, akan kita dapati penegasan dari Rasulullah saw bahwa bila kita melihat kemunkaran harus kita cegah dengan tangan atau kekuasaan yang ada pada diri kita, bila tidak mampu cegah dengan lisan dan bila tidak mampu juga dengan hati yakni membencinya.

By Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaBelajar dari Kisah
Artikel BerikutnyaWasiat Nabi