Lompat

0
74 views

by Abd. Muid N.

Dualisme subjektivitas-objektivias, konteks-teks, jasmani-ruhani, dunia-akhirat, akal-wahyu, rasio-iman, dan sebagainya menyisakan persoalan. Ada pihak yang memilih salah satunya. Ada pula yang memilih untuk menjembatani keduanya, namun tetap saja persoalan tidak pernah usai. Memilih salah satunya berarti mengingkari salah satu yang lain. Menjembatani keduanya diduga melahirkan sikap mendua. Persoalan pun berlanjut.

Mari kita fokus sementara pada upaya menjembatani. Tidak seragam upaya menjembatani. Salah satu upaya menjembatani boleh disebut dengan ‘teori lompatan’. Melompat berarti mengakui ada dua sisi yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Namun melompat juga berarti mengakui bahwa kedua sisi tersebut tidak dapat didamaikan dan karenanya harus melompat. Karena itu pula, ‘teori lompatan’ sesungguhnya hampir-hampir tidak mengakui adanya ‘jembatan’ sungguhan yang menghubungkan antara kedua sisi. Layakkah disebut sebagai upaya menjembatani? Barangkali layak karena toh ada pengakuan yang cukup seimbang terhadap eksistensi dua sisi. Barangkali pula tidak layak karena karena itu tadi, tidak ada ‘jembatan’ sungguhan. Persoalan pun berlanjut.

Meski menyimpan persoalan, ‘teori lompatan’ sering dipakai dan dilakukan, terutama ketika kedua sisi yang ada menghedaki pengakuan namun ada kesulitan besar untuk mengakurkan keduanya. Semisal, ada sisi peradaban Islam yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda berkembang. Jauh di sana ada sisi peradaban non-Islam mengalami perkembangan pesat tidak terkira. Ketika keduanya tidak lagi bisa didamaikan, dipakailah ‘teori lompatan’. Secara ringkas apalikasi ‘teori lompatan’ dalam hal ini kira-kira berbunyi seperti ini: “Ya, memang peradaban non-Islam sedang berkembang, tapi tidak tahukah kalian bahwa sesungguhnya peradaban yang sekarang disebut peradaban non-Islam, dulunya adalah peradaban Islam yang dicaplok semena-mena? Dan tidak tahukah kalian bahwa peradaban non-Islam sekarang itu ada di dalam al-Quran? Teori Big Bang? Ah, itu ada dalam al-Quran!”

Dalam dunia politik, ‘teori lompatan’ juga sering dipakai. Di satu sisi ada realitas tidak ada calon pemimpin Muslim yang cukup menarik hati pemilih untuk ditawarkan. Di sisi lain kepemimpinan Muslim dan sistem keislaman harus mewarnai dunia politik secara harfiah. Atau mungkin ada calon pemimpim Muslim yang sangat baik tetapi tidak ada keberanian umat Muslim untuk bersatu dengah wajar untuk mempromosikannya secara baik-baik. Lalu, yang dipakai kembali adalah ‘teori lompatan’. Secara ringkas apalikasi ‘teori lompatan’ dalam hal ini kira-kira berbunyi seperti ini: “Ya, kita memang kesulitan untuk bersatu dengan cara wajar dan baik-baik untuk mengusung calon pemimpin Muslim yang dahsyat, tetapi siapapun dia, bagaimanapun keadaannya, dia adalah Muslim, dan Muslim jauh lebih baik daripada bukan Muslim.” Persoalan pun berlanjut

Ya, persoalan laten ‘teori lompatan’ terjadi pada dua problem di atas. Persoalan itu adalah adanya penafian terhadap ‘jembatan’ yang menghubungkan antara dua sisi sehingga transisi yang menghubungkan antara satu sisi dengan sisi yang lain tidak berjalan secara wajar dan halus. Terasa di sana ada penistaan terhadap logika. Ada pengebirian terhadap akal sehat. Yang lebih menakutkan adalah adanya kemungkinan pemaksaan kehendak terhadap teks-teks keagamaan yang sesungguhnya tidak berbicara persis sebagaimana problem yang dimaksud. Jika itu yang terjadi, maka problem selajutnya adalah kegagalan untuk menggapai subtansi masalah yang sesungguhnya, baik substansi pada realitas maupun substansi pada teks-teks keagamaan.

Kegagalan memahami dan mencari solusi persoalan pada sisi realitas ditambah kegagalan memahami sisi teks-teks keagamaan dan kemudian ditambah dengan problem laten ‘teori lompatan’ yaitu adanya penafian pada ‘jembatan’ yang menghubungkan antara dua sisi, lalu di sisi mana sesungguhnya umat Muslim ini berpijak? Barangkali kita kini sedang melayang-layang. Mudah-mudahan tidak terjatuh. Persoalan pun berlanjut.[]