Liberalisme Kekerasan

0
14 views

Di sebuah negara dengan tingkat pemeliharaan yang sangat rendah terhadap keanekaan; dengan ketidakpedulian yang sangat tinggi terhadap hak hidup bersama; di mana perbedaan dianggap ancaman; di mana agama dipeluk dengan buas; di mana kekerasan dijadikan salah satu pilihan utama pemecahan masalah, maka upaya-upaya tertentu untuk mencelakai atau mengancam hidup serta keselamatan orang-orang yang berbeda adalah barang lumrah.

Bagi sebagian orang, liberalisme dalam beragama menyimpan persoalannya sendiri. Bagaimana mungkin mengagungkan kebebasan dalam agama padahal di saat bersamaan, agama menyimpan seperangkat aturan yang mengatur kebebasan? Lalu pilihannya hanya dua: beragama secara utuh (kâffah) atau bebas sekalian, tanpa agama. Itu mungkin pilihan yang ingin ditawarkan oleh kaum yang menentang liberalisme dalam agama.

Kaum liberal dalam beragama tidak menerima kedua pilihan tersebut dan tetap mengandaikan bahwa adalah mungkin untuk tetap beragama, tetapi juga tetap bersikap liberal. Kedua hal tersebut dianggap tidak bertentangan secara diametral.

Lalu bagaimana jika terjadi tindak kekerasan yang dilakukan oleh salah satu pihak? Jika diandaikan bahwa yang melakukannya adalah kaum yang menganut liberalisme dalam beragama, maka tentu perbuatan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip liberal yang seharusnya diagungkan, yiatu kebebasan untuk berekspresi, termasuk dalam keyakinan. Kekerasan adalah salah satu bentuk paling ekstrim untuk mengekang kebebasan.

Jika diandaikan bahwa yang melakukannya adalah kelompok yang menentang liberalisme dalam beragama, maka sebenarnya kelompok itu justeru telah melakukan perbuatan yang sangat “liberal”, dalam arti perbuatan yang bebas hukum negara dan tidak peduli aturan kemanusiaan. Saking liberalnya, kelompok yang melakukan kekerasan ini mengandaikan bahwa mereka sendiri lah yang diutus oleh Yang Kuasa untuk menghukum siapa pun yang dianggap keyakinan atau pahamnya bermasalah.

Jika demikian halnya, kecil kemungkinan salah satu dari kelompok di atas melakukan kekerasan dan melawan hukum negara karena sikap seperti itu hanya akan mengingkari alur logika pemahaman keagamaannya sendri, kecuali jika mereka memang tidak tidak patuh pada alur pemikiran sendiri. Maka lahirlah liberalisme kekerasan atau kekerasan yang liberal.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi