Lapang Dada

0
24 views

Oleh Abd. Muid N.

Bagaimana kita memahami kelapangan dada? Saya tidak tidak bisa. Dada saya terlalu sempit untuk memahaminya. Sungguh sulit menganggap dada ini lapang karena lapang adalah istilah yang tidak sekadar berarti luas. Lapang menyimpan kesan kebebasan, keseimbangan, keragaman, ruang bersama, kesetaraan, serta canda dan tawa.

Lalu bagaimana kita memahami kelapangan dada? Saya tidak tidak bisa. Tapi mungkin Yahudi itu tahu.

Mari kita lihat sebidang tanah yang disebut lapang. Ya, tanah tersebut kemungkinan besar luas, namun bukan itu yang membuatnya disebut lapang. Di sana ada kebebasan. Kita tahu biasanya lapangan dipakai orang bermain sepak bola, tetapi pasti bukan hanya sepak bola. Ada beragam permainan yang lain. Saya teringat sebuah tanah lapang di kampung di masa kecil. Memang saban sore orang bermain bola di sana, tetapi tidak jarang di waktu-waktu tertentu, di malam hari, di sana ada lomba tilawah al-Quran. Juga ada upacara 17 Agustusan, ada senam jantung sehat oleh ibu-ibu, dan juga ada kotoran sapi. Ya, di sana ada kebebasan.

Bersamaan dengan kebebasan, di sebuah tanah lapang, ada keragaman. Tentu saja keragaman di sini bukan berarti banyak macam dan semuanya baik-baik saja, paling tidak menurut kita. Di lapangan, ada lomba tilawah al-Quran, tetapi juga ada sepak bola yang belum tentu disukai oleh para penggemar tilawah al-Quran.

Dan bersama keragaman ada kesetaraan. Tentu saja sulit menggambarkan keragaman tanpa kesetaraan. Setara tidak harus sama dalam kuantitas atau kualitas. Kesetaraan lebih menghendaki pengakuan atas eksistensi. Meski kecil, setiap elemen dalam sebuah komunitas mempunyai hak mendasar untuk diakui. Pengakuan membuat kesetaraan itu ada. Dan kesetaraan membuat keragaman itu hadir.

Lalu bagaimana kita memahami kelapangan dada? Saya tidak tidak bisa. Tapi mungkin Yahudi itu tahu.

Kebebasan, keseimbangan, keragaman, ruang bersama, kesetaraan, serta canda dan tawa hanya bisa hadir jika ada pemakluman terhadap perbedaan. Sekat pembatas yang hadir jika perbedaan tidak dimaklumi akan membuat kebebasan terbentur tembok, keseimbangan dan kesetaraan menjadi berat sebelah, keragaman terancam oleh keseragaman, ruang bersama menyempit, serta canda dan tawa hanya mimpi.

Lalu bagaimana kita memahami kelapangan dada? Saya tidak tidak bisa. Tapi mungkin Yahudi itu tahu.

Ada kisah lama tentang seorang Yahudi tua dan buta di sudut kota Madinah yang berkeluh kesah kepada Khalifah Abu Bakar ketika sang khalifah menyuapinya makan. Yahudi tua dan buta itu protes: “Kamu siapa? Kamu pasti bukan orang yang dahulu sering menyuapiku makanan. Dia orangnya baik. Bahasanya halus. Dia menyuapiku dengan lembut. Bahkan makanan yang disuapkannya ke mulutku terlebih dahulu dihaluskan karena tahu gigiku tidak lagi kuat mengunyah makanan yang keras.”

Khalifah Abu Bakar terisak. Mengingat Rasulullah saw yang baru saja wafat, dia menjawab: “Yang Anda bicarakan memang orang yang jauh lebih baik dari aku. Dan beliau telah wafat. Namanya Muhammad.”

Kini giliran Yahudi tua dan buta yang menangis. Dia seketika tahu bahwa orang yang selama ini memberinya makan dengan sabar dan lembut adalah orang tidak bosan dia hina. Yahudi tua dan buta itu ingat di saat Muhammad meyuapinya makanan, bibirnya tidak pula berhenti menghina dan menghardik serta mendustakan kenabian Muhammad. Dan yang membuat tangisnya semakin dalam adalah bahwa tidak pernah Muhammad membalas hardikan itu, dan juga tidak pernah sehari pun lupa memberinya makan hingga akhir hayat.

Dengan kelapangan dadanya, Nabi Muhammad saw membongkar tembok pembatas kebebasan, dan Yahudi tua dan buta itu bebas mencerca semaunya hingga di tembok malu dia terbentur. Dengan cara itu, Nabi Muhammad saw menciptakan ruang bersama antaranya dengan Yahudi tua dan buta untuk menjaga interaksi yang setara hingga ada celah bagi masuknya pesan-pesan keimanan.

Kelapangan dada Nabi Muhammad saw adalah sebuah kelapangan dada yang dibawa mati. Syahadat Yahudi tua dan buta tidak langsung sampai ke telinga hidup Nabi Muhammad saw karena beliau telah wafat.

Lalu bagaimana kita memahami kelapangan dada? Saya tidak tidak bisa. Tapi mungkin Yahudi tua dan buta itu tahu.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaRedaksi
Artikel BerikutnyaRamadhan Kita