Langkah Perubahan

0
524 views
labs.sogeti.com

LANGKAH PERUBAHAN
Perubahan selalu terjadi, bahkan ada ungkapan tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Masa kita kecil dengan masa anak dan cucu kita kecil pasti berbeda. Masa orang tua kita dulu dengan masa kita sekarang sebagai orang tua juga sangat berbeda. Sudah begitu banyak perubahan, tapi ternyata banyak orang tidak mau berubah, padahal diapun mengalami perubahan meski tanpa disadarinya.
Waktu terus berjalan, meskipun banyak orang menyebutnya berputar. Padahal waktu itu berjalan, bukan berputar. Yang berputar itu jarum jam, bukan waktu. Berputar bisa balik lagi, tapi kalau terus berjalan tidak akan kembali lagi. Perjalanan masa kecil dan remaja sudah berlalu dan masa itu tidak akan kita alami lagi. Masa muda sudah berlalu dan ia tidak akan kembali lagi ketika orang sudah mencapai tua. Seiring dengan perjalanan waktu, selalu terjadi perubahan dari waktu ke waktu. Ada yang berubah menjadi buruk dan seharusnya menjadi berubah lebih baik.
Agar kita bisa berubah menjadi lebih baik, paling tidak ada tiga hal yang harus mendapat perhatian kita.

1. Terbuka
Membuka hati dan pikiran merupakan awal dari perubahan. Perubahan seringkali terjadi karena dipengaruhi oleh pemikiran, pendapat dan apa yang dibaca serta dilihat di sekitarnya. Bagi orang yang menutup hati dan pikirannya, semua itu tidak mempengaruhi dan membuatnya bisa berubah. Orang kafir itu akan tetap kafir bila ia terus saja menutup hati dan pikirannya. Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS Al Baqarah [2]:6-7).
Bila mereka membuka pintu hati dan pikiran untuk hidayah, niscaya masuklah hidayah itu yang membuatnya mudah menerima Islam. Begitulah yang sudah ditunjukkan oleh mantan-mantan kafir sejak masa Rasul hingga kini. Umar bin Khattab adalah salah satu contoh yang membuka hati dan pikirannya. Perubahan sangat besar terjadi pada dirinya, orang yang semula begitu benci kepada Nabi Muhammad saw hingga mau membunuhnya, menjadi begitu cinta kepada beliau.
Sekarang saatnya kita membuka hati, telinga dan pikiran untuk menampung berbagai ide, pikiran hingga jalan hidup orang lain yang baik. Seandainya tanah tidak mau membuka dirinya, mana mungkin bisa bisa masuk dan tumbuh untuk menghasilkan tanaman dan buah yang dibutuhkan.
Rasulullah saw terbuka kepada siapa saja yang mau menyampaikan pendapat. Maka, ketika Salman Al Farisi menyampaikan pendapat untuk menggali parit saat berperang sebagai jebakan untuk musuh, maka Rasulullah saw menyetujui hingga perang itu kemudian diberi nama dengan perang Khandak. Ketika para sahabat tidak mau menyembelih kambing yang diperintahkan karena tidak jadi umroh tahun keenam hijrah setelah perjanjian Hudaibiyah, beliau terima pendapat isterinya, Ummu Salamah agar beliau yang lebih dulu melakukan penyembelihan sehingga setelah itu para sahabatpun melakukannya. Bahkan jauh sebelumnya, Nabi Ibrahim as malah membuka kesempatan kepada anaknya, Ismail untuk berpendapat atas mimpi yang dialaminya.
Tegasnya, banyak peristiwa yang menunjukkan betapa penting keterbukaan untuk menerima segala kebaikan agar kehidupan berubah menjadi lebih baik.

2. Selektif
Terbuka bukan berarti apa saja bisa masuk dan kita terima begitu saja, apalagi yang belum tentu benarnya sudah kita sebarkan kepada orang lain. Suatu ide yang bagus sekalipun tetap saja harus kita seleksi, karena meskipun bagus belum tentu bisa atau cocok diterapkan di lingkungan kita. Dalam konteks program, program itu bukan hanya bagus, tapi bisa dan cocok apa tidak untuk di daerah kita. Misal, bila orang berpendapat agar di masjid kita diadakan program belajar tajwid, ide itu merupakan sesuatu yang baik. Tapi, sayangnya, kegiatan itu belum cocok di masjid kita karena jamaah kita belum kenal huruf. Maka yang cocok adalah pemberantasan buta huruf al Quran.
Dengan demikian, untuk berubah kearah yang lebih baik, segala ide dan masukan yang baik harus diseleksi agar kita dapat menjalankan sebagaimana mestinya. Kita yang lebih tahu, mana yang bisa dilaksanakan dan mana yang belum bisa dilaksanakan.
Dalam konteks kita, selektif itu sebenarnya bukan memilah dan memilih mana yang baik dan buruk, karena tentu kita tidak akan memilih yang buruk, tapi memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang lebih baik, sesuai dengan situasi dan kondisi yang kita alami. Dari sini, pilihan selanjutnya adalah mana yang harus kita prioritaskan untuk kehidupan yang lebih baik.

3. Memulai
Perubahan lebih baik seperti apa yang kita inginkan, maka ia tidak boleh berhenti pada niat dan wacana, tapi lanjutkan pada langkah memulai. Sekecil apapun yang baru bisa kita lakukan, maka lakukanlah dan itu jauh lebih baik dari sekadar pembicaraan, wacana dan niat. Sebuah artikel, tidak akan jadi artikel tanpa dimulai penulisannya dari kalimat ke paragraf hingga menjadi satu, dua dan tiga halaman. Selanjutnya, artikel demi artikel yang sudah ditulis akan bisa dipersiapkan menjadi buku dan dari satu buku akan menjadi dua buku dan seterusnya.
Ada beberapa prinsip dalam memulai sesuatu.

Pertama, lakukan saja apa yang bisa  jangan menunggu sesuatu yang besar dan ideal untuk bisa melakukan sesuatu. Membangun masjid senilai dua milyar tidak harus menunggu dananya terkumpul dua milyar untuk memulai pembangunannya. Seandainya dua milyar itu sudah ada, menggunakannya pun secara bertahap. Begitu juga orang yang mau menikah, tidak harus menunggu ekonomi mapan dan punya rumah sendiri untuk menikah, tapi menikahlah kemudian bangun ekonomi secara bertahap.
Kedua, jangan takut salah untuk bisa melakukan sesuatu. Lebih baik salah tapi sudah berbuat, daripada tidak pernah salah karena memang belum pernah melakukan sesuatu. Banyak orang yang melakukan kesalahan tapi memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan itu sehingga ia mencapai sesuatu yang lebih baik. Karena itu, bila ada orang melakukan kesalahan, seharusnya kita tetap memberinya motivasi untuk bisa lebih baik, karena memang kesempatan untuk menjadi lebih baik masih diberikan oleh Allah swt. Orang yang kalah ada saat dia meraih kemenangan selama mau memperbaiki. Bahkan, orang yang yang salah kepada kita sudah seharusnya kita maafkan, karena kita yakin, cepat atau lambat, ia akan memperbaiki diri. Itu sebabnya memaafkan merupakan salah satu ciri orang taqwa, meskipun orang yang bersalah belum meminta maaf kepadanya, Allah swt berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran [3]:133-134).
Ketiga, lakukan secara rutin. Dalam beramal shaleh, seorang muslim idealnya selalu melakukannya secara rutin atau terus menerus. Manakala amal shaleh telah dilakukan secara rutin, dalam satu hadits, Rasulullah saw menjelaskan bahwa ternyata Allah swt sangat mencintainya meskipun amal itu nilainya kecil. Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الْعَمَلِ اِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَاِنْ قَلَّ
Amal yang paling dicintai Allah adalah yang langgeng meskipun sedikit (HR. Bukhari).
Diantara bentuk kecintaan Allah swt kepada orang yang beramal shaleh secara terus menerus adalah tetap memberikan imbalan pahala dari suatu amal ketika seseorang tidak melakukannya dengan sebab-sebab tertentu seperti sakit atau dalam perjalanan, misalnya seseorang biasa melaksanakan shalat berjamaah di masjid, tentu ia memperoleh pahala yang besar. Namun suatu saat ia tidak bisa melaksanakannya di masjid, baik karena sakit, dalam perjalanan maupun hal-hal lain yang membuatnya tidak memungkinkan untuk pergi ke masjid, tapi ia shalat di rumah atau di kendaraan, meskipun demikian ia tetap mendapatkan nilai pahala berjamaah di masjid, begitulah seterusnya dalam amal-amal yang dilakukan secara rutin, hal ini bisa kita pahami dari hadits Nabi saw:
إِذَامَرِضَ الْعَبْدُ أَوْسَفَرَكُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَاكَان يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا.
Apabila salah seorang hamba sakit atau bepergian (safar), maka Allah mencatat pahalanya seperti pahala amal yang dikerjakannya sewaktu ia sehat atau tidak bepergian (HR. Bukhari).
Dengan demikian, momentum pergantian waktu dari siang ke malam, dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun berikutnya seharusnya selalu kita evaluasi tentang perbaikan seperti apa yang sudah dan seharusnya kita capai.
Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaShock Therapy
Artikel BerikutnyaGerhana