La Tay’as

0
89 views

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah,” begitu kata orang. Namun, tentu saja tidak semua manusia di muka bumi ini bisa melakukannya. Syukur mudah dilakukan ketika menghadapi kondisi yang menyenangkan, berselimut kenikmatan. Namun syukur sangat sulit dilakukan, walau sekedar diucapkan, ketika berhadapan dengan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan dan penuh kesedihan.

Bagaimana seseorang bisa bersyukur dengan takdir yang menurut pandangannya merupakan keburukan dan kesialan yang harus dijalankan dalam salah satu episode kehidupannya. Ujung-ujungnya, kadang ia malah menyalahkan takdirnya. Ia menyerah dan putus asa dengan apa yang sedang dihadapi.

Dr. ‘Aidh Al-Qarni, penulis yang sudah tidak asing lagi bagi pembaca di Indonesia, sungguh pandai memotivasi dan mengajak pembaca untuk menyelami makna kehidupan, apapun kondisinya. Karya-karyanya memang fenomenal dan menjadi best seller di Indonesia.

Karyanya oleh sebagian orang dianggap mampu membantu membangkitkan semangat menjalani hidup, menemukan hikmah kehidupan, dan tidak mudah menyerah. Sehingga, pembaca yakin bahwa saat datang gelapnya malam, terangnya sinar pagi telah menunggunya.

Ada satu cerita menarik yang beliau kisahkan dalam salah satu karyanya, La Tay’as; Jangan Pernah Menyerah. Beliau mengisahkan seorang pria yang terdampar di pulau terpencil tak berpenghuni. Kapal yang dinaikinya tenggelam dan dia pun terombang-ambing oleh ombak hingga terdampar di pantai pulau tersebut. Pria itu lunglai tak berdaya, nafasnya terputus-putus seraya memohon pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari penderitaan ini.

Beberapa hari berlalu pria itu hanya makan dari buah yang jatuh dan dari hewan-hewan yang dia dapat. Ia tidur di dalam gubuk kecil yang dia buat dari potongan-potongan pohon, tempat dia berteduh dari dingin di malam hari dan terik matahari di siang hari.

Suatu ketika pria itu jalan-jalan di sekitar tempat tersebut sambil menanti masak makanannya yang sedang dimasak dengan menggunakan kayu. Ketika kembali begitu terkejutnya dia melihat api telah melalap seluruh gubuknya, dia berteriak dengan keras, “Mengapa ini terjadi wahai Tuhanku? Bahkan gubukku pun terbakar, tak ada lagi yang tersisa milikku di dunia ini, sementara aku hanya sendiri tanpa siapa-siapa di tempat ini. Sekarang gubukku terbakar, sebagai tempat tidurku di dalamnya. Mengapa bencana datang bertubi-tubi menderaku ya Tuhan?”

Pria itu tidur dengan penuh kesedihan dan dengan perut lapar. Keesokan harinya saat ia bangun dari tidur ada kejutan yang telah menunggunya, dia melihat sebuah perahu mendekat ke pulau tersebut untuk menyelamatkannya. Ketika dia naik ke atas perahu dia bertanya, “Bagaimana mereka bisa menemukan tempat itu? Mereka menjawab, “Kami melihat asap membumbung, dari situlah kami mengetahui bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.”

Kisah tersebut merupakan salah satu ilustrasi yang penulis sampaikan untuk membawa pembacanya secara tidak langsung mengambil hikmah dan selalu berbaik sangka kepada Allah. Ayat-ayat al-Qur’an, hadits Rasul, kisah inspiratif, memang banyak digunakan penulis dalam buku ini untuk memotivasi pembaca agar optimis dan berpikir positif untuk sebuah harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Ketika bencana datang silih berganti, ketika kehidupan terasa sempit, ketika doa terasa tak terdengar dan tak terkabulkan, penulis mengajak pembaca untuk segera bangkit tanpa putus asa dan tetap mensyukuri kehidupan ini . Karena, manusia memang tidak selalu mengetahui hikmah apa yang terdapat di setiap kejadian.

Info Buku
Judul Buku : La Tay’as; Jangan Pernah Menyerah
Penulis : Dr. ‘Aidh Al-Qarni
Penerbit : Musthafa Center
Volume : x + 243 halaman