Kunci Penyelesaian Masalah

0
43 views

Dalam kehidupan keluarga, ada  saja masalah yang terjadi, tidak terkecuali rumah tangga Rasulullah saw dengan para isterinya, bahkan bisa jadi masalah itu muncul dari persoalan yang tidak terlalu prinsip.

Isteri-isteri Nabi juga manusia biasa yang keinginannya sama dengan wanita-wanita pada umumnya. Bagi Nabi, ini merupakan masalah keluarga yang cukup pelik untuk mengatasi dan menyelesaikannya. Namun bila kedua belah pihak, yakni suami dan isteri mau mempertahankan ikatan pernikahan, tentu saja bisa diselesaikan, seberat apapun masalahnya.

jalansemut.wordpress.com.Salah satu masalah yang dihadapi Rasulullah saw terhadap isteri-isterinya adalah kecemburuan antara satu dengan lainnya. Karena isterinya lebih dari satu, maka Rasulullah saw telah mengatur pembagian waktu bermalam bagi isteri-isterinya itu, namun setiap sore antara ashar sampai maghrib, beliau mendatangi semua isteri-isterinya itu untuk membicarakan berbagai persoalan yang berkembang pada hari itu.

Ketika Rasulullah saw berada di rumah Zainab binti Jahsyi, beliau agak lama disana karena ada masalah penting yang harus dibicarakan sehingga membutuhkan waktu agak lama. Zainab memberikan kepada Nabi minuman berupa madu. Hafsah binti Umar bin Khattab sudah menunggu cukup lama kedatangan Rasul karena memang sesudah dari rumah Zainab, Rasul ke rumah Hafsah. Ia mulai heran atas lambatnya beliau datang ke rumahnya dan menanyakan juga kepada Aisyah ra yang balik bertanya: “bukankah seharusnya Rasul ke rumah kamu lebih dahulu?”.

Ketika Rasul sampai ke rumah Hafsah, beliau dicium dengan mesra dan hormat, begitu juga dengan Rasul yang mencium Hafsah. Tapi saat mencium itulah, tercium aroma bau madu dari mulut Rasul, maka kecemburuan Hafsah terbaca saat ia mengatakan: “Maafkan saya ya Rasul, bila pelayanan saya tidak memuaskan, memang di rumah Zainab cukup menyenangkan sampai engkau diberi madu segala, di rumah ini sudah bersyukur ada air putih saja”.

Rasulullah saw sangat tidak ingin bila isterinya tersinggung, karenanya beliau mengakui saja bahwa ia memang diberi madu di rumah Zainab, tapi bukan dengan sebab itu ia jadi agak lama disana, tapi karena memang ada masalah yang harus dibicarakan dan dipecahkan. Namun karena Hafsah tidak percaya juga, maka untuk membuktikan bahwa Rasul tidak ingin menyinggung perasaan isterinya, maka beliau mengatakan: “Kalau kamu tidak percaya juga, maka mulai sekarang saya haramkan madu buat saya”.

Meskipun maksudnya baik, apa yang dinyatakan oleh Rasul tidak bisa dibenarkan, karenanya beliau mendapat teguran keras dari Allah swt dengan diturunkannya surat at tahrim ayat 1 yang artinya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang sudah Allah menghalalkannya bagi kamu; hanya karena kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang|.

Setelah turun ayat ini, maka Hafsah menjadi maklum sehingga ia tidak lagi mempersoalkannya.

Dari kisah di atas, dapat kita ambil pelajaran:

1.    Kunci penyelesaian masalah dalam kehidupan keluarga adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

2.    Keterbukaan dan kejujuran antar suami isteri akan memberikan ketenangan dalam berkeluarga, namun hal itupun harus diperkuat dengan sikap husnudz dzan (berbaik sangka).