Kunci Meraih Keteladanan

0
169 views

Dengan keteladanan mulia yang melimpah pada diri Rasulullah saw, beliau ibarat istana yang didalamnnya penuh dengan perhiasan, mutiara dan mutu manikam. Segenap perhiasan yang melimpah tersimpan didalamnya, sengaja disediakan dan boleh dinikmati serta dikenakan oleh siapapun untuk menghiasi dirinya. Tentunya bagi siapa yang mampu memasuki gerbang istana tersebut. Setiap gebang itu ada kuncinya, maka siapapun yang memiliki kunci pembuka itu akan mudah menikmati gemerlapnya perhiasan yang tersedia.

Demikianlah Rasulullah saw, dalam diri beliau tersedia keteladanan melimpah yang bisa diambil dan dijadikan penghias akhlak bagi siapapun, namun apakah semua orang akan mudah menggapai keteladanan itu dan menjadikannya sebagai penghias diri dalam mengarungi kehidupan di dunia ini atau ada kunci khusus bak istana diatas. Marilah kita simak firman Allah ta`ala berikut ini;

“Sungguh benar-benar ada untuk kalian pada diri Rasulullah keteladanan yang baik (uswah hasanah) bagi orang yang megharap kepada Allah dan hari akhir dan banyak berdzikir kepada Allah” (QS. Al-Ahzab : 21)

Kalau kita perhatikan, ayat ini dibuka dengan dua penguat yaitu ‘qad’ dan ‘lam taukid’ keduanya berfungsi menguatkan dan menegaskan makna, padahal satu taukid saja dalam sebuah kalimat sudah menguatkan maknanya. Dalam kajian Ilmu Balaghah, ketika seorang ‘mutakallim’ (pembicara) membubuhkan kata penguat dalam statmentnya, hal ini menunjukkan bahwa, ia sedang memposisikan ‘mukhathab’ (lawan bicara) pada kondisi ragu atau kurang percaya, oleh karenanya butuh penguat makna demi menghilangkan keraguan tersebut. Misalnya ketika ada seseorang yang bertanya kepada kita : “Apakah tas ini milik bapak, merk dan warna tas ini mirip sekali dengan milik saya?” sementara kita tahu bahwa dia sedang mencari-cari tasnya yang hilang dan kebetulan memang mirip dengan tas kita, maka umumnya kita akan mengatakan “Sungguh ini tas saya, bukan tas bapak”, tambahan kata sungguh yang kita gunakan tentunya untuk lebih meyakinkan kepada orang yang bertanya dan untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya, yang sedang meragukan apakah tas yang sedang kita bawa itu miliknya atau milik kita.

Maka ayat diatas memberikan kesan bahwa kita ini ragu dengan informasi yang Allah berikan melalui ayat diatas, yaitu bahwa Rasulullah saw adalah teladan terbaik untuk kita. Benarkah kita ragu ?. Atau betulkah ada yang meragukan bahwa Rasulullah saw adalah teladan terbaik?. Secara pemikiran dan kajian akademik semua percaya, semua mengakui, baik lawan maupun kawan. Jadi dimanakah letak keraguan itu ?. Bukan pada pemahaman, akan tetapi pada tingkat expresi dari yang diyakini serta prilaku yang ditunjukkan. Ini mirip dengan kalimat yang sering disampaikan para dokter  “Sungguh, olahraga itu sangat berguna bagi kesehatan kita”. Apakah kita tidak percaya dengan informasi tersebut?. Kita semua secara pemikiran tidak satupun yang meragukannya, namun apakah setiap kita berolah raga dengan serius demi menjaga kesehatan, sedangkan para pakar mengatakan minimal kita butuh seminggu tiga kali untuk berolah raga? Apakah setiap kita gemar berolah raga? Atau diantara kita sering beralasan tidak sempat karena banyaknya kesibukan?

Kalau memang kita benar-benar yakin akan hal tersebut maka kita akan serius mengambil pelajaran dari kalimat dokter diatas. Kita akan meluangkan waktu untuk berolah raga demi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Demikianlah, kita percaya namun kepercayaan kita mirip dengan keragu-raguan. Demikian pula tentang keteladanan yang ada pada diri Rasulullah saw, semuanya yakin akan hal itu namun dalam kenyataannya banyak yang tidak benar-benar yakin karena prilakunya tidak menunjukkan hal tersebut, kalau memang benar-benar yakin maka akan mengambil keteladanan itu dan menjadikanya sebagai bagian dari karakter diri.

Ternyata tidak mudah mengambil keteladanan dari Rasulullah saw

Negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini menunjukkan realita yang demikian. Rasulullah adalah pribadi yang terpercaya (Al-Amien), bahkan sebelum beliau diangkat sebagai Rasul, namun kejujuran dan amanah menjadi barang langka. Beliau adalah adalah pribadi yang sangat adil, baik dengan dirinya, keluarga bahkan dengan masyarakat, namum banyak diantara kita yang tidak bisa bersikap adil bahkan kepada dirinya sendiri, masih banyak pemberitaan tentang KDRT yang merupakan cerminan hilangnya keadilan dalam rumah tangga, karena lawan dari keadilan adalah kezhaliman. Masih banyak wong cilik yang mengeluhkan minimnya keadilan. Rasulullah saw sangat lembut, santun dan begitu bijak, namun banyak kita temukan sikap-sikap yang kasar terjadi dalam bermuamalah antar sesama,  bahkan dalam berdakwah pun masih terjumpai sikap-sikap yang tidak kasar. Bukankah beliau teladan terbaik untuk kita..? Namun kenapa keteladanan itu serasa sulit kita karakterkkan dalam diri. Kenapa? Masa muda Rasulullah adalah masa yang terjaga dari keburukan prilaku di masanya, namum bisa kita lihat dan kita simak bagaimana kondisi riil yang terjadi pada generasi muda di negeri yang kita cintai ini. Negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim dan mengakui Muhammad adalah utusan Allah, sebagai teladan terbaik. Kenapa terasa tidak mudah mengambil tauadan dari beliau….Rasulullah sedikit tidur namun kita sedikit-sedikit tidur, Rasulullah sedikit makan tapi kita sedikit-sedikit makan, Beliau sedikit bercanda kita sedikit-sedikit bercanda, Kita sedikit beribadah Rasul sedikit-sedikit beribadah, kita sedikit berjuang dan berkorban Rasul sedikit-sedikit berjuang dang berkorban.

Inilah Kunci Pembuka Keteladanan Itu…

Ayat pada surah al-Ahzab di atas tidak berhenti pada kata ‘Uswatun Hasanah’ namun masih ada kelanjutannya. Inilah tiga point penting, isi dari lanjutan ayat tersebut yang akan memudahkan kita mengambil keteladaan Rasulullah dan menjadikannya sebagai karakter diri. Tiga hal yang akan menjadi kunci bagi kita untuk membuka gerbang istana yang didalamnya penuh dengan perhiasan.

Kunci pertama : Raja` kepada Allah swt

Orang-orang yang raja` atau berharap kapada Allah, adalah yang dirinya tidak disibukkan dengan sanjungan manusia dan selalu ingin dipuji. Namun ia adalah pribadi yang harapan satu-satunya adalah Allah swt, ketika ia beramal maka pahala Allahlah harapanya, jika ia berkarya demi kemaslahatan bersama cinta dari Allahlah yang menjadi dambaannya. Maka pribadi yang punya raja’ kepada Allah akan mudah melakukan kebaikan karena yang diharap adalah balasan dari Allah bukan dari manusia. Dia akan berperilaku dengan ihsan karena Allah mencintai orang-orang yang muhsin. Dengan ini dia akan mudah mengambil keteladanan Rasulullah dalam melakukan amalan yang baik serta meninggalkan yang buruk. Allah menegaskan dalam firman-Nya : “Barangsiapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amalan yang shalih dan janganlah menpersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi :110  )

Kunci kedua : Berharap kepada Akherat

Ketika mendengar kata akherat maka yang paling cepat masuk dalam benak fikiran kita adalah Syurga dan Neraka.  Inilah akhir perjalanan kita kelak, ada dua pilihan; ke Syurga atau ke Neraka. Maka yang berharap akherat, tentunya mereka adalah orang yang meng’idamkan syurga bukan neraka.

Pribadi yang senantiasa mengharapkan kehidupan baik diakherat, harapan (raja’) yang ada dalam hatinya ini akan membuatnya mudah melakukan banyak kebaikan. Kalaulah iman kepada Allah itu pondasi amal kita maka beriman kepada hari akhir adalah pendukung terkuat bagi kita untuk beramal baik. Dapat dibayangkan jika seseorang senantiasa menghadirkan akherat dalam setiap aktifitasnya, ia akan terjaga dari banyak keburukan; ketika ia hendak berlaku curang maka ia teringat ini mengantarkan ke neraka, ia akan mebatalkannya, ketika hendak berlaku zhalim kepada orang lain ia teringat bahwa kezhalimannya dimuka bumi ini akan mengancam dirinya bangkrut di akherat kelak. Namun ketika ia akan melakukan keluhuran amal, teringat akan belasan pahala di syurga maka ia akan lebih tersemangati untuk menuntaskanya dengan baik. Demikianlah yang punya kunci kedua ini akan mudah meneladani Rasulullah saw.

Kunci Ketiga : Banyak berdzikir kepada Allah swt.

Banyak diantara kita yang setiap harinya berdzikir; setelah sholat, dzikir pagi dan petang. Bahkan ada juga yang menentukan jumlah begitu banyak walau itu tidak ada contohnya misalnya dengan hitungan 1001 kali, 333 kali.  Tentunya bukan sekedar banyak angka atau waktu yang dihabiskan, melainkan banyak berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang berkualitas. Yang demikian ini akan memudahkan seseorang melakukan banyak kebaikan dan membuatnya mudah menjahui kenistaan, dan disaat yang sama ia sedang meneladani Rasulullah saw. Misalnya ketika seseorang membaca satu kalimat dalam dzikir dan doanya “Bismillahilladzi laa yadhurru ma`asmihii syaiun fiddunya wal aakhirah, wa huwas Samii`ul `Aliim” kalimat ini ditutup dengan dua nama Allah yang mulia ‘As-Samii` dan Al-`Aliim’ yang Maha mendengan lagi Maha mengetahui. Jika benar dan banyak dzikir seseorang mengenai dua asma Allah ini, maka dapat dibayangkan ia akan terkondisikan pada kebaikan, karena apapun yang dia lakukan senantiasa hadir dalam benaknya bahwa Allah Maha mendengar dan Melihat, serahasia dan sesembunyi apapun perbuatan yang dilakukan. Dia akan senantiasa mengawasi kita, tidak ada satu pun yang luput dari penglihatan-Nya. Demikianlah yang melupakan hal ini, pencuri misalnya, ketika dia merasa aman dari pengawasan manusia dia mencuri, ini karena dia tidak merasa sedang dalam pengawasan Allah yang akan mengancam adzab atas perbuatannya.  Maka pribadi yang senantiasa merasakan keangungan dua asma Allah ini akan mudah meneladani kebaikan akhlak Rasulullah saw.

Demikianlah tiga kunci yang akan memudahkan kita mengambil mutiara keteladanan dari istana Uswah Hasanah, memudahkan kita untuk menjadikannya sebagai bagian dari karakter diri yang khas. (sm)