Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal

0
10 views

info bukuDewasa ini, di tengah kalangan pemikir modernis muslim kian marak munculnya wacana dan gagasan untuk melakukan “pembacaan kritis” sekaligus “pemaknaan ulang” terhadap teks-teks Al-Quran dan sunnah Rasul.

Pengkajian ulang teks-teks primer agama Islam inilah yang dianggap sebagai cikal bakal produk pemikiran seperti liberalisme, sekulerisme, pluralitas agama, dan kesetaraan gender. Fenomena ini dirasakan kian ngetren terjadi tidak hanya di belahan dunia Islam di Timur tengah, tetapi juga di Indonesia.

Bahkan, beberapa tahun silam dengan munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang merombak dan melucuti banyak hal aspek-aspek yang qath’i dalam sistem hukum Islam -meski telah ditolak dan digagalkan- telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum yang dikenal ala Hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Contoh kasus inilah yang dinilai sebagai dampak negatif dari adanya tafsir model Hermeneutika yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, pengasuhan anak, dan lain-lain.

Hermeneutika sendiri bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia, bahkan kalangan cendekiawannya, mungkin suatu istilah yang baru dikenal. Namun, apabila dilihat dari historis, Hermeneutika ternyata sudah ada selama berabad-abad lampau serta berkembang pesat di Eropa Barat. Harmeneutika adalah metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Jadi Hermeneutika merupakan  sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Selanjutnya, hermeneutika yang berasal dari tradisi Barat-Nasrani tersebut kini coba diterapkan pada Al-Qur’an.

Dalam buku berjudul Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal ini penulis berusaha mengkaji dasar-dasarnya, menelusuri akar sejarah hermeneutika hingga diterapkan untuk mengganti metodologi tafsir dan takwil Al-Qur’an yang khas dalam tradisi keilmuan Islam. Selain tentu saja menelisik isu-isu paling mendasar dan krusial secara analitis kritis di dalam buku ini.

Dengan adanya buku ini diharapkan para cendikiawan muslim mampu menjawab tantangan-tantangan keilmuan Barat kontemporer terhadap khazanah tafsir Al-Qur’an dan juga metodologi studi Al-Qur’an yang kini gencar diupayakan berorientasi sekuler-liberal.

Beberapa pakar yang turut memberikan apresiasi atas hadirnya buku ini, seperti DR KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI dan tokoh senior ulama NU) dengan mengatakan “Di kalangan Nahdliyin, konsep tafsir Hermeneutika secara resmi ditolak dalam forum tertinggi Muktamar NU di Boyolali th. 2005 karena dinilai tidak sesuai dengan Qawa’id Tafsir, sehingga hemat saya karya ilmiah Fahmi Salim ini dapat memberikan eksposisi yang lebih mendalam dengan hujjah-hujjah kuat mengapa paradigma liberal dalam studi Al-Qur’an dan piranti model Hermeneutika harus ditolak.”

Selain itu, DR. Mukhlis Hanafi (Manager Program Pusat Studi Al-Qur’an Jakarta, Kepala Bidang Pengkajian Al-Qur’an Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Balitbang Kemenag RI) juga ikut memberikan apresiasinya, “Di tengah maraknya diskursus Al-Qur’an kontemporer yang cenderung menjauh dari tradisi keilmuan Islam, buku yang ditulis saudara Fahmi Salim ini layak menjadi bacaan alternatif. Lahir dari ‘rahim intelektual’ Al-Azhar (karena berasal dari tesis penulisnya di universitas tersebut), buku ini mendiskusikan Hermeneutika secara objektif dengan berbasis pada tradisi keilmuan Islam yang moderat. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, dialog konstruktif seputar wacana keislaman kontemporer perlu mendapat apresiasi yang tinggi.”

Judul Buku     : Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal

Penulis          : Fahmi Salim, M.A.

Penerbit        : Perspektif

Cetakan ke    : I, 2010

Volume          : 518 halaman

BAGI
Artikel SebelumnyaBerpacaran dan Kawin
Artikel BerikutnyaMukallaf