Kristal Kenangan

0
217 views
happyislam.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

“Tak bisa kutahan laju angin. Untuk semua kenangan yang berlalu. Hembuskan sepi… Merobek hati…” Itu adalah potongan lagu band NaFF, lewat suara vokalisnya, Ady, kelahiran Makassar. Ya, laju angin memang tak tertahankan, juga laju waktu. Hembusan angin yang berlalu menyisakan sejuk, meski mungkin tidak lama. Namun apa yang tersisa dari berlalunya waktu? Kenangan. Kenangan yang ditinggalkan waktu bahkan bisa bertahan lebih lama dari sejuk yang ditinggalkan angin. Kenangan bisa abadi.

Ramadhan telah berlalu. Sebagai waktu, Ramadhan sama dengan waktu-waktu yang lain. Semua pasti berlalu. Namun kenangan Ramadhan tidak perlu ikut berlalu. Kenangan seperti titipan titik keabadian Ilahi yang diberikan kepada manusia untuk tidak membiarkan yang berlalu tetap berlalu.

Tidak banyak makhluk yang mempunyai kelebihan berupa kemampuan untuk mengenang. Manusia bukan hanya mampu mengenang, bahkan manusia mampu mengolah kenangan itu untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Kemajuan peradaban manusia adalah bukti atas kemampuannya yang satu itu karena peradaban sesungguhnya adalah kumpulan gugusan kenangan atas pengetahuan masa lampau yang diramu agar tidak setiap saat manusia memulai lagi dari awal setiap proyek peradaban yang mereka lakukan.

Laba-laba mempunyai jaring yang istimewa, namun tidak ada perubahan revolusioner jaring laba-laba sejak dahulu kala. Laba-laba tidak mempunyai kemampuan mengenang yang baik, apalagi kemampuan untuk mengolah kenangan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Manusia memilikinya dalam bentuk yang sempurna.

Perlukah ada air mata untuk berlalunya Ramadhan? Mungkin perlu dan mungkin air mata itu kini telah mengering. Namun apalah guna air mata jika Ramadhan hanya dianggap semata-mata waktu yang pasti berlalu. Agar air mata yang terlanjur tumpah tidak menjadi air mata buaya, ada baiknya Ramadhan diabadikan dalam bingkai kenangan dan kemudian diolah untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.

Puasa Ramadhan tidak mungkin dilakukan di luar Ramadhan, tapi bukankah masih ada puasa-puasa yang mungkin bisa mengabadikan kenangan rasa puasa Ramadhan? Tarawih adalah khas Ramadhan, tapi bukankah shalat malam bukan hanya Tarawih? Membaca al-Quran adalah hal yang sangat jamak ditemukan dalam Ramadhan, tapi bukankah membaca al-Quran bisa pula dilakukan di luar Ramadhan? Ada yang juga khas Ramadhan yang sangat sulit ditemukan di luar Ramadhan, yaitu pelipatgandaan pahala, tapi bukankah itu bukan urusan kita? Bukankah urusan kita adalah beribadah sebaik-baiknya dan selebihnya kita serahkan kepada Allah swt?

Ramadhan yang pasti berlalu itu telah pergi. Kepergiannya meninggalkan jejak-jejak abadi berupa kenangan riang beribadah yang mewarnai keberagamaan kita di bulan-bulan lain sambil merindukan datangnya kembali Ramadhan tahun berikut. Hanya dengan cara seperti itu, kenangan Ramadhan akan abadi.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaIbadah Sunyi
Artikel BerikutnyaTeriak