Konsultasi Keluarga

0
111 views

kisah teladanAus bin Shamit adalah seorang pemimpin rumah tangga yang selalu dirundung kemiskinan, usahanya selalu gagal sementara usianya sudah tua, badannya semakin lemah, namun seringkali emosinya sulit terkendali. Kepada isterinya ia seringkali marah-marah. Bahkan pada suatu ketika isterinya minta uang untuk kebutuhan keluarga, yang diberikannya bukan uang namun kata-kata yang menyakitkan, ia berkata: “bagiku kau sama dengan ibuku”.

Mendengar ucapan itu Khaulah, isterinya tentu saja tercengang, sebab kata-kata itu berarti Aus menceraikannya. Setelah itu Aus justeru pergi meninggalkan isterinya.

Namun tak lama kemudian, Aus kembali ke rumahnya, ia menyesal telah berkata demikian, Aus minta maaf kepada isterinya. Tapi bagi Khaulah tidak begitu saja menerima permintaan maaf suaminya, sebab itu persoalan hukum yang tidak bisa sembarangan.

Setelah itu langsung Khaulah menemui Rasulullah seraya berkata: “suamiku menikahiku dikala aku masih muda, banyak orang mengharapkan diriku, aku kaya dan punya keluarga, tapi kini segalanya tidak ada, aku pun sudah tua lalu ia menganggap aku sama dengan ibunya, namun ia menyesal, apakah mungkin kami bisa rujuk kembali?”

Mendengar keluhan itu, Rasulullah kemudian membacakan ayat yang merupakan jawaban Allah swt atas persoalan Khaulah: “Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mujadalah [58]:1-2).

Setelah membacakan ayat itu, Rasulullah saw memerintahkan agar Khaulah segera pulang: “Pulanglah dan beritahu suamimu agar dia memerdekakan seorang budak “, perintah Rasul.

“Ya Rasul, tak mungkin ini dilakukan, dia tidak lagi memiliki apa-apa, jelasnya.

“Kalau begitu, suruh suamimu puasa dua bulan berturut-turut,” tegas Rasul lagi.

“Bagaimana mungkin dia mampu, dia sudah tua dan tak mampu lagi berpuasa”, jawab Khaulah lagi. “Atau suruh dia memberi makan 60 orang miskin”, pinta Rasul lagi. “Tidak ada lagi yang bisa dia berikan, dia tidak punya apa-apa”, tegasnya. Jika memang begitu, aku akan membantunya dengan memberikan beberapa tangkai kurma”, kata Rasulullah. “Aku juga akan membantunya”, sambut Khaulah lagi.

“Kau memang wanita yang sangat baik, bawalah ini untuk bersedekah dan layanilah suamimu dengan baik”, pinta Rasulullah saw, sambil menyerahkan beberapa tangkai kurma.

Setelah kejadian itu, Khaulah dan suaminya Aus bin Shamit rujuk kembali dan hidup rukun damai dan bahagia, ini merupakan salah satu dari keberanian Khaulah untuk membicarakan hal ini kepada Rasulullah saw sehingga muncullah penjelasan berdasarkan petunjuk dari Allah swt.

Para sahabat akhirnya menjadi amat kagum pada Khaulah, pembicaraannya selalu didengar oleh siapa saja yang mengenal kepribadian Khaulah. Bahkan suatu ketika, baru saja Khalifah Umar bin Khattab keluar dari masjid bersama banyak orang, Khaulah berdiri menghadangnya, Umar kemudian memberi salam dan hormatnya.

Saat itu Khaulah memberi nasihat kepada Umar; “Wahai Umar, aku masih ingat bahwa dulu engkau bernama Umeir yang sering bermain di pasar Ukaz dan menggembala kambing. Belum lama rasanya aku menyaksikan semua itu dan kini engkau sudah menjadi Umar dan Khalifah. Takutlah kepada Allah dalam hal menyangkut rakyat. Ketahuilah, siapa yang takut pada janji, yang jauh terasa makin dekat, siapa yang takut kepada mati, maka ia takut akan berpisah dari dunia”.

Mendengar ucapan Khaulah itu, tiba-tiba Jarud Al Abdi, salah seorang pembantu khalifah Umar berkata: “lancang sekali engkau kepada Khalifah”.

Tapi Umar menegaskan: “biarkan, tidak tahukah engkau bahwa dia adalah Khaulah yang keluhannya didengar oleh Allah?. Karena itu, demi Allah, Umar lebih harus mendengarkan ucapannya”. Dan Umar melarang Jarud dengan sikapnya yang seperti itu.

Begitulah salah satu gambaran isteri yang shalehah, setia, penasihat yang agung dan pemberani pada masa Rasulullah saw.

 

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

1.      Ketika ada persoalan dalam rumah tangga dan tidak mampu dipecahkan, amat baik untuk berkonsultasi kepada orang yang ahli.

2. Siapa saja yang bersalah, baik isteri maupun suami harus mau meminta maaf dan memperbaiki hubungan dalam berkeluarga sehingga persoalan selesai, cinta semakin kokoh dan orang lain memuliakannya.