Komoditas Suci

0
430 views
carlosagaton.blogspot.co.id

oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Kala Ramadhan menjelang, konon kita akan memasuki masa-masa syahdu yang pekat dengan nuansa spiritual, pahala berlimpah, rahmat tumpah, dan nafsu badani hanya mampu berdenyut lemah. Benarkah demikian? Katakanlah itu benar, tapi mengapa di bulan yang katanya nafsu makan dan minum dikekang itu aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi malah semakin membahana? Katakanlah itu benar, tapi mengapa  kesyahduan Ramadhan dan bahkan kesenyapan Malam Seribu Bulan sama berisiknya dengan ingar bingar musik hardcore?

Barangkali Ramadhan kini bukanlah Ramadhan dulu. Ramadhan lalu adalah bulan kesunyian antara Tuhan dan hambanya di mana hamba meratapi kecongkakannya, mengingat kelupaannya, mensyukuri rasa sukanya, memaklumi rasa dukanya, dan memenuhi mangkuk harapnya untuk masa depan di tanah akhirat. Semua itu dilakukan dalam kesunyian. Dan itulah arti obyektinya Ramadhan. Dulu.

Ramadhan kini adalah bulan yang memiliki nilai tambah melebihi bulan kesunyian. Kesunyian Ramadhan ditegaskan oleh sebuah Hadits: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya.Itulah nilai-guna Ramadhan, yaitu kesunyian. Namun Ramadhan kini memiliki makna lain selain kesunyian, semacam makna-sosial. Nilai-guna Ramadhan telah terkubur oleh makna-sosialnya.

Yang mengerikan sesungguhnya adalah bahwa makna-sosial sesuatu hanya akan hadir jika nilai-gunanya dikosongkan. Ramadhan yang telah dibubuhi makna-sosial adalah Ramadhan yang telah dikosongkan nilai-gunanya. Dengan kata lain, karena nila-guna Ramadhan sesungguhnya adalah kesunyian, maka kesunyiannya telah dikosongkan terlebih dahulu barulah makna-sosialnya didesakkan. Tidaklah mengherankan jika kemudian yang terjadi adalah Ramadhan yang ingar-bingar.

Apa jadinya jika Ramadhan kehilangan nila-guna kesunyiannya? Ramadhan yang kemudian hadir adalah Ramadhan yang menentang keasliannya. Kebersahajaan hidup ajaran Ramadhan diganti oleh kemewahan yang berjubah kesucian. Kesunyian dan kesyahduan hubungan privat antara hamba dengan Tuhannya berganti festival kesalihan berserta segala embel-embelnya.

Kita tentu masih ingat fenomena kesombongan orang berpuasa di hadapan orang yang tidak berpuasa atau sebaliknya kesombongan yang tidak berpuasa di hadapan yang berpuasa. Keduanya tampak berseteru, namun sesungguhnya keduanya bekerjasama dalam upaya pengosongan Ramadhan dari nilai-gunanya, yaitu nilai kesunyiannya. Lalu keduanya bekerjasama pula dalam proyek pengisian Ramadhan dengan makna-sosial atau makna apapun yang sesungguhnya bukan aslinya Ramadhan.

Bukan perkara mudah mengembalikan Ramadhan kepada nilai-gunanya yang awal karena itu berarti mengosongkan Ramadhan dari makna-sosial yang terlanjut melekat padanya. Ramadhan kini telah menjadi komoditas yang menguntungkan secara finansial banyak pihak. Pihak-pihak tersebut lalu bekerjasama untuk memfestivalkan dan menselebrasi Ramadhan sedemikian rupa hingga tampak mengagungkan Ramadhan, padahal sesungguhnya Ramadhan mereka kosongkan dari nilai-gunanya dan inti kesunyiannya.

Kehebatan pihak-pihak itu adalah sampai pada apabila ada upaya untuk mengembalikan Ramadhan pada nilai-gunanya yang awal atau kesunyiannya, maka itu akan dianggap sebagai upaya mengerdilkan Ramadhan.[]