Klaim Kebenaran

0
42 views

Pertarungan kebenaran dalam wacana agama bermula dari klaim kebenaran yang dibuat oleh masing-masing kelompok. Klaim kebenaran itu lahir dari interpretasi atas teks ototritatif yang diperkuat oleh pemegang otoritas dalam agama. Klaim kebenaran sejatinya adalah hal pokok yang mendasari dan diperlukan dalam setiap keyakinan. Seseorang akan merasa nyaman dengan keyakinannya ketika ia, secara sadar, meyakini kebenaran dari nilai-nilai yang tertuang dari  keyakinannya tersebut. Namun, ketika interpretasi tertentu atas klaim kebenaran tersebut menjadi proposisi yang menuntut pembenaran tunggal dan diperlakukan sebagai doktrin kaku, maka kecenderungan terhadap penyelewengan dalam agama muncul dengan mudah. Kecenderungan itu merupakan tanda-tanda awal kejahatan atas nama agama (Kimball, 2003: 84).

Persoalan yang sebenarnya terepresentasikan dalam kenyataan bahwa setiap kelompok menganggap penafsirannya atas teks merupakan satu-satunya penafsiran yang benar dan bahwa mazhabnya adalah mazhab ideal untuk mencapai makna “obyektif” teks sebagaimana yang dikehendaki penulisnya (Nashr, 2004: 8).

Klaim kebenaran yang autentik tidak pernah begitu kaku dan eksklusif. Kebenarannya hadir dalam ruang dialog antara satu dengan lainnya, dengan kemungkinan saling mengisi dan melengkapi. Seorang penafsir atau pembaca teks selalu berusaha menarik pemahaman yang benar atas teks, tetapi selalu memungkinkan untuk salah. Subyektivitas adalah salah satu penyebab kesalahan interpretasi, sehingga kecurigaan positif atau kehati-hatian terhadap penafsir dan penafsirannya perlu dilakukan. Ini berarti penafsiran siapa pun, selain yang diberi wewenang oleh Tuhan, harus tetap dikritisi (Quraish Shihab, 2013: 436). Bahkan, Nabi Muhammad saw yang memperoleh otoritas untuk menafsirkan ayat al-Qur’an dari Tuhan, mengakui bahwa dirinya bisa salah, yakni dalam hal-hal keduniaan. Dalam al-Qur’an ditemukan “teguran-teguran” Tuhan atas “kesalahan” yang dilakukan beliau. Teguran tersebut dapat dilihat dari dua sisi; pertama, bahwa sebagai manusia biasa beliau dapat salah, tetapi kedua bila beliau salah dalam hal ajaran agama, maka Allah meluruskan kekeliruannya untuk menjaga kebenaran dari ajaran agama yang disampaikan.

Jika Nabi Muhammad saja bisa “salah”, maka tentu penafsiran-penafsiran dari generasi sesudahnya lebih memungkinkan untuk salah. Bukan saja karena faktor subyektifitas penafsirnya, tetapi kenyataan bahwa teks keagamaan merupakan “divine text/words” yang hakikatnya tak terjangkau dan keberjarakan ruang dan waktu antara teks dan penafsir semakin membuka peluang terjadinya kesalahan atau kekurangtepatan penafsiran. Dalam posisi seperti itu, mengklaim satu penafsiran sebagai kebenaran mutlak dan tunggal menjadi tidak relevan dan melampaui kapasitas penafsir sebagai pembaca teks. Seakan-akan, penafsir memosisikan dirinya sebagai pembuat teks yang memiliki otoritas kebenaran, dan itu berarti mengambil alih posisi Tuhan.

Klaim kebenaran yang didasarkan atas penafsiran teks yang sepotong-sepotong berpotensi menimbulkan penyelewengan dalam agama, meskipun tidak serta merta menimbulkan kekerasan. Namun, klaim kebenaran mutlak yang sempit dapat dan seringkali mengandung konsekuensi destruktif. Ketika para pengikut yang taat dan bersemangat mengangkat ajaran dan kepercayaan agamanya hingga ke tingkat klaim kebenaran mutlak, maka di situlah kemungkinan agama akan berubah menjadi jahat (Kimball, 2003: 88). Karena, hanya dirinya dan ajarannya yang benar, dan yang lain dipersepsikan salah. Pada posisi ini, seseorang dengan klaim kebenarannya sering menggambarkan dirinya telah mencapai puncak pemahaman atas teks yang “obyektif” yang mendorong mereka harus bersikap defensif atau ofensif. Dengan konsekuensi potensial yang destruktif, orang berasumsi telah mengenal Tuhan, mencapai kebenaran mutlak atas teks, dan “menghakimi” keyakinan orang lain sebagai sesuatu yang salah.

BAGI
Artikel SebelumnyaPhobia
Artikel BerikutnyaMagdalena