Kisah Hijrahnya Umar bin Khaththab dan Ayyasy

0
106 views

Nafi’ eks budak Abdullah bin Umar meriwayatkan dari Abdullah bin Umar dari ayahnya, Umar bin Khaththab ia berkata: Sebelum kami berangkat hijrah ke Madinah, aku, Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash bin Wail As-Sahmi bersepakat terlebih dahulu untuk bertemu di Tanadhub, di reruntuhan pohon Adat bin Ghifar di atas Sarif. Kami berkata: “Seandainya besok salah seorang dari

kita tidak berada di tempat tersebut, berarti telah terjadi sesuatu padanya dan bagaimanapun dua orang lainnya tetap harus berangkat ke Madinah.” Pagi harinya, aku dan Ayyasy bin Abu Rabi’ah berada di Tanadhub. Hisyam bin Al-Ash tidak datang ke tempat tersebut, karena ia mendapat siksaan.

Tiba di Madinah, kami beristirahat di Bani Amr bin Auf di Quba’. Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam berangkat Madinah untuk menemui Ayyasy bin Abu Rabi’ah. Ayyasy bin Abu Rabi’ah adalah paman keduanya dan saudara seibu keduanya. Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam tiba di Madinah pada saat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam masih berada di Makkah. Keduanya

berbicara dan berkata dengan Ayyasy bin Abu Rabi’ah: “Ibumu bersumpah, bahwa ia tidak akan menyisir rambutnya hingga ia melihatmu dan ia tidak akan terus berteduh di bawah sinar matahari hingga melihatmu.” Ayyasy bin Abu Rabi’ah terenyuh hatinya mendengar cerita keduanya. Aku berkata kepada Ayyasy: “Wahai Ayyasy, demi Allah, sesungguhnya dua orang Quraisy ini hanya menipumu, mereka ingin memurtadkanmu dari Islam, maka waspadalah dari tipudaya mereka. Demi Allah, jika ibumu terganggu oleh gatalnya kutu, pastilah ia menyisir rambutnya dan jika terik matahari Makkah membara, pastilah ia berteduh.” Ayyasy bin Abu Rabi’ah berkata: “Aku akan membayar sumpah ibuku. Di sana, aku mempunyai sejumlah uang dan aku akan mengambilnya.” Aku berkata kepada Ayyasy bin Abu Rabi’ah: “Janganlah engkau pergi bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam.” Ayyasy bin Abu Rabi’ah mengacuhkan saranku ia lebih tertarik pulang bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam. Ketika akan berangkat pulang ke Makkah, aku katakan kepada Ayyasy, “Jika engkau akan tetap bersikukuh melakukan apa yang engkau inginkan, ambillah untaku ini, karena ia unta yang lincah dan penurut dan tetaplah berada di atas punggungnya. Jika engkau mencium ada sesuatu yang mencurigakan pada mereka berdua ini, selamatkan dirimu dengan unta ini.” Kemudian Ayyasy bin Abu Rabi’ah pulang ke Makkah bersama Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam. Di tengah jalan, Abu Jahal bin Hisyam berkata kepada Ayyasy bin Abu Rabi’ah, “Demi Allah, wahai saudaraku, sepertinya saya keliru dalam memilih untaku ini. la tidak bisa berjalan mengiringi untamu.”

Ayyasy bin Abu Rabi’ah berkata: “Ya betul.” Kemudian Ayyasy bin Abu Rabi’ah turun dari untanya. Begitu juga Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam. Ketika mereka bertiga berada di atas tanah, tiba-tiba Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam mengikat Ayyasy bin Abu Rabi’ah, membawanya masuk Makkah dan menyiksanya.

Ibnu lshaq berkata: Sebagian keluarga Ayyasy bin Abu Rabi’ah berkata kepadaku, ketika Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits bin Hisyam membawa Ayyasy bin Abu Rabi’ah memasuki Makkah. Keduanya membawa Ayyasy dalam keadaan terikat di malam hari. Keduanya berkata: “Hai orang-orang Makkah, coba kalian lihat orang bodoh ini.”

Surat Umar bin Khattab Pada Hisyam bin Al-‘Ash 

Ibnu lshaq berkata: Nafi’ bercerita kepadaku dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khaththab dalam kisahnya. Umar bin Khaththab berkata: Allah tidak menerima taubat orang yang murtad karena takut siksa, yaitu mereka yang mengenal Allah, kemudian kembali kafir karena tidak tahan dengan cobaan yang menderanya. Tatkala Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam tiba di Madinah, Allah Ta’ala

mewahyukan padanya ayat tentang mereka, tentang ucapan kami dan ucapan mereka terhadap diri mereka:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah YangMaha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidakdapat ditolong (lagi).

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya (QS. az-Zumar:53-55).

Umar bin Khaththab melanjutkan: “Maka aku tulis ayat di atas dalam lembaran, kemudian aku kirimkan kepada Hisyam bin Al-Ashi. Hisyam bin Al-Ashi berkata: Dia berkata: Hisyam bin al-Ashi berkata: “Tatkala surat tersebut sampai padaku, aku membawanya di Dzi Thuwa untuk dibaca. Saat aku baca surat tersebut, aku tidak bisa memahaminya, hingga aku berkata: “Ya Allah, karuniakan pemahaman kepadaku!” Kemudian Allah menganugrahi pemahaman ke dalam hatiku, bahwa ayat tersebut diturunkan tentang kami, apa yang kami katakan untuk diri kami dan apa yang diucapkan tentang kami. Aku segera menaiki untaku, kemudian pergi menyusul Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang saat itu sudah berada di Madinah.

Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah Keluar Menuju Mekah Membawa Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash

Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percayai bercerita kepadahu bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam saat berada di Madinah pernah bersabda: “Siapa yang bisa membebaskan Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash untukku?” Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: “Aku!” Kemudian Al-Walid bin Al-Walid bin Al- Mughirah keluar Madinah menuju Mekkah dan tiba di sana tanpa seorangpun tahu. la bertemu seorang wanita yang membawa makanan. Ia bertanya kepada wanita tersebut: “Boleh aku tahu ke mana kau akan pergi dengan makanan itu?” Wanita tadi menjawab: “Aku akan pergi kepada Ayyasy dan Hisyam yang sedang ditahan.” Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah mengikuti wanita itu hingga ia tahu tempat dua orang yang ditahan itu. Kedua orang itu ditahan di rumah yang tidak dipasangi genteng. Sore harinya, Al-Walid bin Al-Walid bin Al- Mughirah memanjat tembok rumah tersebut dan membebaskan Ayyasy dan Hisyam. Setelah itu, Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah menaikkan Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash ke atas punggung untanya. Kemudian ia tuntun unta yang membawa keduanya hingga sampai di Madinah di tempat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.

Referensi: Sirah Ibnu Hisyam h. 287-289