Kisah dari Perjalanan Hijrah

0
45 views

http://zombietime.comHijrah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan perjalanan yang jauh, melelahkan dan menegangkan. Disebut jauh karena jarak tempuh Makkah ke Madinah lebih dari 400 km, melelahkan karena jalan yang dilaluinya bukit-bukit bebatuan, udara siang yang sangat panas dan debu-debu padang pasir yang beterbangan dan pada malam hari sangat dingin, kendaraan yang digunakan adalah unta, sedangkan rute yang ditempuhnya adalah jalan yang tidak biasa dilalui orang karena perjalanan ini termasuk tidak aman sehingga menegangkan mengingat Rasulullah saw hendak ditangkap atau dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy, karenanya beliau dan Abu BakarAsh Shiddik bersembunyi terlebih dahulu di gua Tsur sebelum berangkat sehingga orang-orang kafir kehilangan jejak beliau.

Meskipun demikian keadaan perjalanannya, ternyata ada beberapa peristiwa menarik yang menggambarkan bahwa Rasulullah saw menikmati perjalanan ini. Karenanya menjadi penting bagi kita untuk mengetahui kisah itu agar bisa mengambil pelajaran atau hikmahnya.

1.    Mengislamkan Waraqah bin Malik

Pemuda-pemuda kafir Quraisy mengikuti sayembara menangkap atau membunuh Nabi Muhammad saw dengan hadiah seratus ekor unta yang paling mahal harganya pada masa itu. Waraqah bin Malik salah seorang pemuda yang berusaha meraih hadiah itu. Dengan kuda yang dipacu kencang, Waraqah berhasil mendapati Rasul dan Abu Bakar Ash Shiddik. Namun malang baginya, saat hampir mendekati, ternyata kudanya jatuh terperosok. Rasulullah saw turun dari untanya untuk memberi pertolongan, bahkan menasihati agar berhati-hati. Selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan.

Waraqah menjadi ragu antara melanjutkan upaya menangkap dan membunuh atau tidak jadi. Membunuh beliau terasa tidak enak karena sudah dirasakan kebaikannya, tidak jadi membunuh berarti tidak mendapatkan hadiah yang menggiurkan, apalagi tidak ada pemuda Quraisy yang berhasil menemukan beliau. Upaya pengejaran tetap dilakukannya, karena ingat akan hadiah yang menggiurkan. Namun untuk kedua kalinya saat hampir berhasil mengejar Nabi, kudanya terperosok jatuh dan Rasulpun kembali turun dari untanya untuk memberi pertolongan dan menasihati agar berhati-hati. Kejadian ini menambah keraguannya, namun hadiah yang besar lebih menggiurkan, dikejarnya sekali lagi dan ternyata kejadian serupa dialaminya.

Akhirnya setelah Rasul menolongnya lagi, Waraqah berterus bahwa ia sebenarnya ingin menangkap Nabi, hidup atau mati. Namun akhlak Rasul yang mulia membuatnya tidak jadi meraih hadiah besar. Waraqah justeru menyatakan diri masuk Islam dan ingin ikut serta dalam hijrah ke Madinah. Namun Rasul tidak mengizinkannya saat itu, karena lebih baik ia kembali ke ujung jalan itu agar bila ada teman-temannya yang ikut sayembara bisa diyakinkan bahwa tidak usah menempuh jalur itu karena ia sudah menempuhnya dan tidak mendapati Rasul, ini merupakan strategi Rasul untuk mengamankan perjalanannya menuju Madinah.

2.    Memerah Susu Kambing

Mahmud Al Mishri dalam bukunya Shahabiyat Hawla Ar Rasul (35 Sahabat Wanita Rasulullah saw) menceritakan tentang Ummu Ma’bad Al Khusa’iyyah ra yang bernama asli Atikah binti Khalid, ia tinggal bersama suaminya di daerah pedalaman antara Makkah dan Madinah dengan penuh ketegaran dan kesabaran. Karenanya di kalangan masyarakat pedalaman ia sangat dikenal. Rumahnya hanyalah sebuah kemah atau gubuk yang bisa jadi orang sekarang mengatakan tidak layak huni.

Namun kedermawanannya dirasakan oleh banyak orang karena ia suka memberi makanan dan minuman kepada siapa saja yang lewat di depan gubuknya itu sampai tidak bersisa. Ketika Nabi lewat situ, ternyata masih ada orang yang harus diberikannya, mereka berkata: “Apakah engkau memiliki makanan atau minuman?.” Ummu Ma’bad menjawab: “Demi Allah, seandainya kami masih punya sesuatu, maka kami tidak akan segan-segan untuk menghidangkannya kepada kalian. Domba tidak lagi mengeluarkan susu, karena tahun ini sangat panas dan kering”.

Rasulullah saw melihat domba milik Ummu Ma’bad yang kurus kering, beliau bertanya: ”Mengapa domba ini ada di sini?.” Ia menjawab: ”Domba ini tidak bisa ikut kawannya karena tidak sanggup berjalan jauh.” Rasulullah bertanya lagi: ”Apakah masih ada susunya?.” Ummu Ma’bad menjawab: ”Dia tidak mungkin lagi mengeluarkan susu.” Rasulullah bertanya lagi: ”Apakah engkau mengizinkan aku memerah susu?.” Ummu Ma’bad menjawab: ”Tentu saja jika menurutmu masih bisa diperah, lakukanlah.”

Rasulullah saw mendekati domba itu, sambil membaca basmalah dan doa, susu diperah oleh beliau sehingga mengalir dengan deras. Kepada Ummu Ma’bad, beliau meminta diambilkan wadah yang besar lalu wadah itupun penuh dengan susu. Rasul perintahkan Ummu Ma’bad dan keluarga untuk meminumnya, disusul oleh tetangga-tetangganya sesudah itu baru Rasulullah saw meminumnya. Sesudah itu, beliau memerah lagi hingga wadah itu penuh dan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Ketika suaminya pulang bersama kambing-kambingnya yang kurus kering, ia menjadi sangat heran melihat wadah yang dipenuhi susu itu, lalu bertanya: ”Dari mana engkau dapatkan susu ini, bukankah domba-domba kita tidak ada di sini, sedangkan domba yang ada tidak bisa diperah susunya?.”

Dengan tenang, Ummu Ma’bad menceritakan sosok Rasul yang ia sendiri tidak mengenalnya dan tidak tahu kalau itu adalah Rasulullah: ”Demi Allah, tadi ada orang yang penuh berkah lewat sini, dialah yang memerah susunya itu”.

Mendengar cerita tentang sosok orang itu, suaminya mengatakan: ”Demi Allah, aku yakin, dialah orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy. Aku sudah tertarik dan ingin menjadi pengikutnya.” Karena itu, ketika ada pemuda-pemuda Quraisy menanyakan tentang kemungkinan Rasul lewat daerah itu, maka Ummu Ma’bad menjawab: ”Kalian bertanya tentang sesuatu yang tidak pernah kudengar.” Sesudah masuk Islam, suami isteri ini menjadi muslim yang taat.

Ketika masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, terjadi musim paceklik yang membuat domba-domba tidak bisa mengeluarkan susu, namun domba Ummu Ma’bad tetap bisa diperah susunya sehingga ia bisa bersedekah dengan susu itu.

Kisah ini menunjukkan betapa besar kepedulian Rasulullah saw kepada orang lain agar bisa keluar dari masalah yang dideritanya, dan ini dilakukan dengan penuh keikhlasan, apalagi yang dihadapinya juga adalah orang yang ikhlas.

3.    Membangun Masjid Quba

Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Rasulullah saw ternyata singgah di suatu kampung yang jaraknya beberapa kilometer sebelum memasuki kota Madinah, nama kampung ini adalah Quba dan sekarang sudah termasuk wilayah Madinah. Mampirnya Rasulullah saw bersama para sahabatnya yang hanya dalam beberapa hari ternyata maksudnya adalah hendak membangun masjid yang kemudian diberi nama dengan masjid Quba. Meskipun dibangun sederhana, ternyata masjid ini menjadi lebih berhak Rasulullah saw shalat di dalamnya daripada yang dibangun oleh orang-orang munafik meskipun mereka membangun masjid yang lebih besar dan bagus, Allah swt berfirman: Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang Telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih (QS At Taubah/9:107-108).

Hikmah yang kita dapat dari kisah ini adalah bagi umat Islam, masjid merupakan sesuatu yang sangat penting, karenanya harus besar perhatian kaum muslimin terhadap masjid, baik dari sisi fisik maupun pemakmurannya sesudah masjid itu dibangun.

Dengan demikian, hijrah Nabi dan para sahabat ke Madinah memberi pelajaran yang amat berharga bagi kehidupan kita sebagai umatnya.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani