Kios Ojakbadoi Tutup

0
27 views

Tidak seperti biasa, tukang-tukang ojek yang mangkal di pojok prapatan itu sudah tidak lagi beroperasi beberapa saat setelah waktu asar berlalu. Beberapa kios pun tampaknya telah tutup padahal waktu magrib masih sangat lama. Termasuk kios kelontong milik Ojakbadoi. Sore hari yang cukup aneh.

Di beberapa sudut, orang-orang terlihat menampakkan wajah berseri-seri yang sama seperti sedang menantikan sesuatu yang membahagiakan. Mandi sore hari itu pun lebih dipercepat dari hari biasanya dan banyak yang sudah memakai baju koko putih atau cerah dan bersarung. Ya, baju koko dan sarung. Apakah baju koko itu ada hubungannya dengan semua kejadian aneh hari itu? Lalu orang-orang berbondong-bondong menuju mushalla.

Puncak keanehan hari itu adalah mushalla yang penuh sesak dengan jamaah. Tidak biasanya jamaah shalat Magrib seramai ini. Tidak seorang pun jamaah perempuan yang tampak, hanya laki-laki dan anak-anak. Namun segera setelah shalat magrib berjamaah dilaksanakan, dari segala penjuru tampak jamaah perempuan juga datang berbondong-bondong walau tampak mereka tidak memakai pakaian untuk shalat, mukena. Mereka memakai pakaian biasa sehari-hari hanya saja lebih rapi, bersih, dan berjilbab. Dan mushalla semakin sesak.

Tidak lama kemudian laki-laki seorang setengah baya berdiri dengan mikrofon di genggaman. Mungkin dia yang akan mengatur puncak acara pada hari yang aneh ini dan menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi. Katanya, karena malam ini adalah malam nishfu Sya`baan, maka para jamaah akan membaca surah Yaasiin tiga kali dan pembacaan itu dipimpin oleh seorang ustadz. Di setiap akhir satu kali pembacaan, akan dibacakan doa yang khas malam nishfu Sya`baan. Lalu prosesi diakhiri dengan shalat Isya ditambah sebuah pembacaan doa-doa lagi yang mereka sebut arwahan.

Ternyata, semua ini karena nishfu Sya`ban. Anehnya, para perempuan tidak ikut shalat Isya. Mereka beranjak pulang sambil bersalam-salaman saat adzan shalat Isya dikumandangkan sambil membawa air minuman mineral yang tadi mereka bawa ke mushalla yang mereka namai air Yaasiin dengan keyakinan air itu telah berlumuran bacaan-bacaan mulia yang mereka baca sebelumnya di mushalla. Dan karena itu, air tersebut penuh berkah.

Jamaah sangat riang mengikuti prosesi sederhana itu. Tampak di wajah mereka bahwa mereka sangat menggantungkan harapan akan doa­-doa dan bacaan-bacaan yang dilantunkan dan sangat yakin jika doa-doa itu diterima. Suasana religius dan syahdu meraja ke mana-mana, dan air mata menetes.

Entah sejak kapan prosesi itu menjadi tradisi di masyarakat Betawi. Ada semacam nuansa spiritualitas yang kental di sana dan juga kesyahduan. Ada aroma bulan Ramadhan yang merebak. Mungkin ini semacam pemanasan untuk menyambut Ramadhan yang penuh berkah. Yang pasti, kios Ojakbadoi kembali buka setelah sejak tadi sore tidak melayani pembeli.[]

By Abdul Muid Nawawi