Kiblat

0
19 views


google.co.idKiblat (Qiblah) dalam bahasa arab diambil dari kata qabila-yaqbalu yang artinya menghadap, seakar dengan kata itu pula adalah muqabalah yang berarti muwajahah, artinya mengahadapi. Sehingga kata qiblah sendiri artinya hadapan, yaitu suatu keadaan (tempat) dimana orang-orang pada menghadap kepadanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai arah ke ka’bah pada waktu shalat. Dalam Syari’at Islam, istilah qiblah ini kemudian digunakan secara khusus untuk arah yang dihadapi orang-orang Islam ketika menjalankan shalat yang merujuk ke suatu tempat di mana bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Ka’bah juga sering disebut dengan Baitullah.

Penentuan arah kiblat

Untuk menentukan arah kiblat dengan cukup presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada kordinat Bujur/Lintang dari lokasi Ka’bah di Mekkah terhadap masing-masing titik lokasi orientasi dengan menggunakan perangkat GPS. Untuk kebutuhan tersebut dapat digunakan hasil pengukuran kordinat Ka’bah berikut sebagai referensi penentuan arah kiblat. Lokasi Ka’bah,

  • 21°25‘21.2“ Lintang Utara
  • 039°49‘34.1“ Bujur Timur
  • Elevasi 304 meter (ASL)

www.google.co.idAdapun cara sederhana dapat pula dilakukan dengan melakukan penyesuaian arah kiblat. Pada saat-saat tertentu dua kali satu tahun, Matahari tepat berada di atas Mekkah (Ka’bah). Sehingga jika pengamat pada saat tersebut melihat ke Matahari, dan menarik garis lurus dari Matahari memotong ufuk/horizon tegak lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat arah kiblat tanpa harus melakukan perhitungan sama sekali, asal pengamat tahu kapan tepatnya Matahari berada di atas Mekkah.

Penentuan arah kiblat dengan cara melihat langsung posisi Matahari seperti yang disebutkan di atas, tidaklah bisa dilakukan di semua tempat. Sebabnya karena bentuk Bumi yang bundar. Tempat-tempat yang bisa menggunakan cara di atas untuk penentuan arah kiblat adalah tempat-tempat yang terpisah dengan Mekkah kurang dari 90º. Pada tempat-tempat yang terpisah dari Mekkah lebih dari 90º, saat Matahari tepat berada di Mekkah, Matahari (dilihat dari tempat tersebut) telah berada di bawah horizon. Misalnya untuk posisi pengamat di Bandung, saat Matahari tepat di atas Mekkah (tengah hari), dilihat dari Bandung, posisi Matahari sudah cukup rendah, kira-kira 18º di atas horizon. Sedangkan bagi daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu Matahari telah terbenam, sehingga praktis momen itu tidak bisa digunakan di sana. Bagi tempat-tempat yang saat Matahari tepat berada di atas Ka’bah, Matahari telah berada di bawah ufuk/horizon, bisa menunggu 6 bulan kemudian.

Hukum Menghadap Kiblat

Pada awalnya, kiblat mengarah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa Jerusalem di Palestina, setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, beliau masih tetap menghadap ke Baitul Maqdis sekitar 16 atau 17 bulan setelah hijrah, namun kerinduan beliau telah memuncak untuk menghadap ke Baitullah maka turunlah firman Allah swt surat Al-Baqarah ayat 144.

 

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah swt sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(QS. Al-Baqoroh [2]: 144).

 

Ayat inilah yang menjadi dasar pertama kewajiban menghadap kiblat ke Kabah yang diperkuat lagi oleh firman Allah swt surat al-Baqarah ayat 149-150.

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (149) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (150)

“Dan dari mana saja kamu keluar {datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dan dari Rabb-mu. Dan Allah swt sekali-kali tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu. dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 149-150).

Sedangkan dalam hadis,

عن البَرَّاء بن عَازِب رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ المَقْدِس سِتَة عَشرَ أَوْ سَبْعَة عَشرَ شَهْراً حَتَى نَزَلَت الآية وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (رواه مسلم)

Dari al-Barra bin Azib mengatakan “Aku melakukan shalat bersama-sama Nabi saw menghadap Baitul Maqdis selama kurun waktu enam belas bulan, sampai turunlah sebuah ayat yang terdapat di surat Al-Baqarah Dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu kearahnya. (HR. Muslim).

Dari ayat-ayat al-Quran dan hadis tersebutlah ulama sepakat bahwa menghadap kiblat merupakan kewajiban dan menjadi syarat sahnya shalat, sehingga tidak sah shalat seseorang tanpa menghadap ke kiblat kecuali dalam beberapa hal. misalnya shalat sunnah di atas kendaraan maka baginya cukup menghadap kerah kemana kendaraannya menghadap.

Menghadap kiblat hukumnya menjadi sunnah dalam beberapa hala seperti: ketika membaca al-Qur’an, berdo’a, berdzikir, tidur. Dan makruh hukumnya ketika membuang air kecil dan besar.

 

Referensi:

  1. Mughnil Muhtaj, Muhammad Khatib Asy-Syarbini.
  2. al-Munawir, Ahmad Warson Munawir.
  3. Majma’ Al-Bayan, At-Thibarisi.
  4. Tafshilul Adillah, Fahrur Rozi.
  5. www.wikipedia.org