Belajar Dari Ibrahim dan Keluarganya

0
9 views

 الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.          

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.          

Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti. 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia. 

          Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarga Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah swt berfirman:

 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, paling tidak ada empat dari sekian banyak keteladan yang harus kita ambil dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Nilai-nilai keteladanan yang amat penting bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kita.  

Pertama adalah mempertahankan dan memperkokoh idealisme sebagai seorang mukmin yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun keadaannya dan bagaimanapun situasi serta kondisinya. Begitulah memang yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya dengan hujjah, argumentasi atau alasan yang kuat. Dalam sejarah Nabi Ibrahim kita dapati beliau menghancurkan berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat di sekitarnya, saat itu Ibrahim adalah seorang anak remaja, hal ini tercermin dalam firman Allah swt yang  menceritakan soal ini:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ  قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ  قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ    

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim (QS Al Anbiya [21]:58-60). 

Untuk mempertahankan idealisme itu, Ibrahim bahkan siap untuk terus berjuang sampai mati meskipun harus berjuang di wilayah yang lain, ia menyebut dirinya sebagai orang yang pergi kepada Allah swt, Tuhannya yang Esa, dalam hal ini Nabi Ibrahim menyatakan dihadapan orang-orang kafir:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (QS Ash Shaffat [37]:99).   

Oleh karena itu, idealisme yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia masih muda belia, tapi bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah swt untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu  Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama.

Maka Ibrahimpun melaksanakan perintah Allah swt yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan berhala-berhala dimasa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan di negeri kita, jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi, padahal dahulu sangat ditentangnya.  

Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqomah apalagi dalam proses penegakan hukum, sehingga apa yang dahulu diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik, karena itu Rasulullah saw mengingatkan dalam satu haditsnya:

 لاَتَكُوْنُوْا اِمَّعَةً تَقُوْلُوْنَ: اِنْ اَحْسَنَ النَّاسُ اَحْسَنَّا وَاِنْ ظَلَمُوْاظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوْا اَنْفُسَكُمْ اِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ اَنْ تُحْسِنُوْا وَاِنْ اَسَاءُوْا اَنْ لاَتَظْلِمُوْا.

Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya (HR. Tirmidzi). 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia. 

Kedua nilai keteladanan dari Nabi Ibrahim as yang harus kita ambil adalah memiliki ketajaman hati sehingga hati yang tajam bagaikan pisau yang tajam sehingga mudah membelah sesuatu. Hati yang tajam membuat kita mudah membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, tidak akan samar diantara keduanya. Bahkan hati yang tajam membuat manusia cepat nyambung dengan maksud dari bahasa isyarat.

Begitulah Nabi Ibrahim yang begitu mudah menangkap perintah Allah swt yang benar meskipun hanya melalui isyarat mimpi, begitu juga Ismail yang langsung percaya bahwa perintah Allah swt telah disampaikan kepada ayahnya melalui mimpi yang diceritakan kepadanya. Allah swt berfirman

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS Ash Shaffat [37]:102). 

Perintah dan larangan tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa yang vulgar, karenanya ketajaman hati menjadi sesuatu yang amat penting, apalagi pada zaman sekarang, banyak bahasa isyarat dan simbol yang mengandung perintah dan larangan. Namun hati yang tumbul membuat banyak diantara kita yang sudah tidak peduli dengan bahasa-bahasa simbol. Ini sangat jelas dalam tertib lalu lintas yang sudah tidak dipedulikan lagi, padahal dalam rangkaian ibadah, apalagi dalam ibadah haji begitu banyak bahasa simbol yang  harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia. 

Ketiga, pelajaran yang kita dapat dari Nabi Ibrahim as sebagaimana yang terkandung pada ayat di atas adalah mengembangkan suasana yang dialogis antara orang tua dengan anak.

Meskipun Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpinya itu adalah perintah Allah swt yang harus dilaksanakan, ia tidak begitu saja melaksanakan proses penyembelihan, tapi mengajak berdialog dulu kepada anaknya Ismail yang harus terlibat langsung dalam pelaksanaan perintah ini. Suasana yang dialogis inilah yang seringkali hilang dari keluarga kita.

Banyak orang tua yang memperlakukan anaknya seperti radio atau televisi yang rusak sehingga bila anaknya belum melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilaksanakan dipukul-pukul seperti radio dan televisi yang rusak, memang kadangkala radio dan televisi itu bisa hidup, tapi sebenarnya hal itu bisa membuat radio dan televisi bertambah rusak. Nabi Ibrahim as telah mencontohkan dan membuktikan kepada kita bahwa dengan dialog tingkat kesadaran dan tanggungjawab sang anak tumbuh dengan kuat dari dalam dirinya, bahkan ia memiliki alasan atau argumentasi yang kuat sehingga bisa dipertahankan selalu.  

Oleh karena itu, rumah jangan sampai menjadi seperti terminal, stasiun dan bandara, apalagi sekadar halte dimana anggota keluarga hanya sekadar singgah ketika berada di rumah sehingga tidak terjadi komunikasi yang baik antara anggota keluarga, apalagi dari orang tua kepada anak-anaknya yang sering merasa sibuk, karena itu, Rasulullah saw berpesan kepada kita semua:

 اِلْزَمُوْا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوْا أَدَبَهُمْ.

Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia (HR. Muslim). 

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia. 

Keempat, memiliki kesadaran sejarah, ini menunjukkan bahwa ketika belajar sejarah kita tidak hanya harus menghafal tentang apa, siapa, dimana dan bagaimana, tapi pelajaran (ibrah) apa yang harus kita ambil dari sejarah masa lalu.

Pada Ismail as, kesadaran sejarah itu melahirkan akhlak dan peradaban yang mulia dengan menyatakan “insya Allah, engkau dapati aku termasuk anak yang sabar”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia tahu bahwa generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, bahkan bisa jadi jauh lebih sabar dari dirinya sehingga ia tidak mengklaim dirinya sebagai anak yang paling sabar apalagi satu-satunya anak yang sabar.  

Oleh karena itu, kesadaran sejarah yang harus kita tunjukkan pada masa sekarang adalah dengan selalu melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran dan menjauhi nilai kebathilan, itu sebabnya, sesulit apapun keadaan yang kita alami, tidak sesulit yang dialami oleh generasi terdahulu dan ini pula yang diingatkan kepada Nabi Muhammad saw dalam mempertahankan dan menegakkan nilai-nilai kebenaran, Allah swt berfirman:

 فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا اِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqomah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS Hud [11]:112)   

Kesadaran sejarah juga membuat seseorang akan lebih siap menghadapi segala resiko perjuangan karena memang dalam hal apapun pasti ada resikonya, jangankan dalam kebenaran, dalam kebathilan juga ada resiko yang harus dihadapi. Karenanya, Nabi Ibrahim as menunjukkan keberanian menanggung resiko seperti dijatuhi hukuman mati oleh penguasa yang zalim, bahkan eksekusinya dengan cara dibakar meskipun Allah swt memberikan perlindungan dan pertolongan kepadanya:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ  وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, Maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al Anbiya [21]:69-70). 

Dalam kehidupan sekarang, begitu banyak orang yang tidak berani menghadapi resiko, akibatnya kebenaran tidak bisa tegak, apalagi dalam konteks penegakan hukum seperti yang kita rasakan di negeri kita ini, hukum begitu mudah dipermainkan untuk mendapatkan kepentingan dunia dan lebih tragis lagi karena yang melakukannya justeru para penegak hukum. Inilah diantara nilai-nilai kepribdian yang mulia pada diri Nabi Ibrahim dan keluarganya dari sekian banyak yang harus kita teladani. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mampu menapaki jejak kehidupan para Nabi sehingga kehidupan kita berada pada jalan yang lurus, selamat dunia dan akhirat.  

Akhirnya, marilah kita tutup ibadah shalat Id kita pada hari ini dengan berdo’a:

 

 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

  اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

  اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

   رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.