Khalifah

0
52 views

Kata khalifah diambil dari kata dasar khalafa yang berarti datang  kemudian. Istakhlafa berarti menjadikan seseorang pada posisinya atau mewakilinya. Khalifah adalah orang yang menempati posisi orang yang ada sebelumnya dan khalifah juga berarti penguasa tertinggi di kalangan umat islam.

 

Khalifah berperan sebagai kepala ummat, baik urusan negara maupun urusan agama. Mekanisme pengangkatan dilakukan baik dengan penunjukan ataupun majelis Syura atau dalam istilah lain adalah Ahlu al-Hilli wa al-Aqdi.


Istilah lain selain khalifah adalah Amirul mu’minin, yang merupakan gelar yang diberikan kepada pajabat negara atau pemimpin pemerintahan. Gelar ini pertama kali diberikan kepada  Umar bin Khatab r.a.

 

Orang yang pertama kali memanggil dengan sebutan ini adalah Abdulah bin Jahsy, sedangkan menurut riwayat yang lain adalah Amr Bin al-Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Ketika itu seorang mukmin menyampaikan berita kemenangan dalam penyebaran Islam kepada Umar ra. Orang ini bertanya kepada sahabat, “Dimanakah amirul mu’minin”?. Mendengar perkataan itu sahabat memandang baik istilah tersebut, dan kemudian sebutan ini digunakan terhadap Umar ra. Argumen inilah yang menjadi landasan historis dari gelar kepala Negara tersebut.

 

Sedangkan Khilafah adalah nama sebuah sistem pemerintahan yang menggunakan Islam sebagai Ideologi serta undang-undangnya mengacu kepada al-Qur’an dan Hadis.

 

Syarat Khalifah

 

Banyak orang menduga bahwa khalifah itu ditentukan lewat pewarisan dari jalur nasab Rasulullah saw. Dan tidak sedikit yang beranggapan bahwa khalifah itu didapat lewat titah dari Nabi Muhammad saw sendiri, yang menurut anggapan mereka telah meninggalkan pesan agar yang menjadi penggantinya adalah si fulan dan si fulan.

 

Sayang sekali semua anggapan ini keliru. Tidak pernah didapat data dan keterangan yang valid bahwa beliau saw berpesan agar tampuk kepemimpinan tertinggi umat Islam diserahkan kepada seseorang.

 

Bahkan ketika Abu Bakar ra diangkat menjadi khalifah, bukan semata-mata karena penunjukan dari Rasulullah saw secara sharih (jelas). Melainkan karena ijma’(kesepakatan) para sahabat untuk membai’at (pernyataan kesetiaan)beliau.

 

Jadi syarat untuk menjadi khalifah secara resmi adalah bai’at dari seluruh umat Islam. Sedangkan alasan untuk memilih Abu Bakar ra, hanya merupakan landasan ijtihad mereka. Nabi saw memang pernah meminta Abu Bakar menggantikan dirinya menjadi imam shalat, sehingga banyak sahabat yang merasa bahwa Abu Bakar sangat pantas menjadi khalifah.

 

Akan tetapi, sah dan tidaknya Abu Bakar menjadi khalifah bukan semata-mata karena hal itu. Melainkan setelah semua sahabat Nabi saw menyatakan kesetiaan, ketundukan dan kepatuhan kepada beliau. Pernyataan kesetiaan, ketundukan dan kepatuhan itu disebut dengan istilah: bai’at.

 

Khalifah Tidak Diwariskan dan Tidak Diwasiatkan

 

Lembaga khilafah bukan perusahaan dagang, di mana owner bisa mewariskan atau menghibahkan hak kepemilikannya kepada anak cucunya. Khilafah juga bukan perguruan silat, di mana sang suhu mewariskan tampuk kepemimpinan padepokan silat kepada muridnya yang paling jago bertarung. Tetapi, khilafah adalah sebuah kepemimpinan tertinggi dalam urusan kenegaraan. Orang yang menjabat jabatan itu harus secara legitimate mendapatkan pengakuan dari rakyat yang dipimpinnya.

 

Khilafah VS Demokrasi

Kalau khilafah kita bandingkan dengan sistem demokrasi di zaman ini, memang sedikit ada beberapa persamaan, meski tetap banyak perbedaan yang esensial.

 

Kesamaannya adalah pada aspek pilihan, dimana seorang khalifah tidak semata-mata menjabat jabatan itu karena keturunan. Namun harus lewat pemilihan, baik secara langsung oleh rakyat satu per satu, atau pun lewat ahlu al-Hilli wa al-’Aqdi.

 

Sedangkan perbedaan khilafah dengan demokrasi cukup banyak, salah satunya adalah dari aspek legitimasi. Umumnya para khalifah, terutama empat khalifah pertama, mendapatkan suara 100% dari rakyat. Dalam alam demokrasi di zaman kita ini, nyaris tidak pernah menemukan fenomena seorang penguasa didukung oleh 100% rakyat.

Yang terjadi dalam sistem demokrasi adalah orang-orang rebutan kekuasaan. Karena kekuasaan dalam sistem demokrasi yang kita kenal sekarang ini memang sangat identik dengan hak untuk menangguk kekayaan. Kekuasaan adalah sebuah jabatan yang sangat terkait dengan uang. Mau jadi penguasa, harus pakai uang. Selama jadi penguasa, kerjaannya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Setidaknya untuk bayar utang, selebihnya adalah keuntungannya.

 

Nyaris tidak ada seorang penguasa naik tahta pada hari ini dengan sistem demokrasi, kecuali tujuan mereka adalah mengumpulkan kekayaan.

 

Dalam peradaban Islam, para khalifah tidak lain adalah pelayan umat dalam arti yang sesungguhnya. Lepas apakah mereka itu anak khalifah atau orang biasa yang diangkat rakyat menjadi khalifah.

 

Akhir Masa Khilafah

 

Jabatan dan pemerintahan Khalifah berakhir dan dibubarkan dengan pendirian Republik Turki pada tanggal 3 Maret 1924 M ditandai dengan pengambilalihan kekuasaan dan wilayah kekhalifahan oleh Majelis Besar Nasional Turki,  pada masa Kemal Atarturk.