Khadafi

0
55 views

Oleh Abd.Muid N.

Mungkin terlalu naif menyamakan Firaun, Qarun, dan Khadafi. Namun dunia ini memang sudah sangat banyak memberi pelajaran bahwa betapa tipis jarak antara menang dan kalah; antara terhormat dan terhina. Masih terpahat di dinding sejarah bagaimana keangkuhan Firaun tidak mampu menyelamatkannya dari terkaman air laut yang sebelumnya terbelah namun kembali bertaut. Dunia juga tidak akan mungkin lupa bagaimana kekayaan Qarun tidak bisa berbuat apa-apa ketika tanah menjepit dan menguburnya hidup-hidup.

Moammar Khadafi juga mengalami hal yang sama. Empat puluh tujuh tahun bukanlah masa kejayaan yang singkat, namun seperti tidak berbekas ketika masa kejatuhan itu tiba. Tewas dengan terhina di ujung pistol seorang anak muda yang merasa dizhalimi selama Khadafi berkuasa. Bukan hanya itu, jasadnya dijadikan tontonan dan rakyatnya berbaris antri untuk sekadar memandangnya dengan mimik penuh kebencian.

Potongan-potongan adegan di layar kaca yang menggambarkan perang saudara di Libya yang kemudian mencapai klimaks dengan tewasnya Khadafi beserta sebagian keluarganya dengan sangat mengenaskan tidak cukup memberikan gambaran apa yang sebenarnya telah terjadi di sana. Hanya orang-orang Libya saja yang tahu apa yang sebenarnya sedang berlangsung dan mereka rasakan. Kebencian seperti apa yang memaksa rakyat sebuah negara membunuh kepala negaranya dengan cara yang begitu brutal? Sekali lagi hanya orang-orang Libya sendiri yang memahami. Selain mereka, hanya bisa terkejut, maklum atau mungkin senang.

Saya jadi teringat Soeharto. Jika dibandingkan dengan Firaun atau Qarun, Soeharto mungkin lebih bisa disepadankan dengan Khadafi. Mereka sama-sama berkuasa sangat lama dan sama-sama mendapatkan perlawanan yang sangat kuat dari rakyatnya untuk mundur. Sama-sama dianggap diktator dan tiran. Mereka pun berada di zaman yang relatif sama. Bedanya, yang satu kolonel yang satu lagi jenderal.

Entah mengapa Soeharto tidak bertindak seperti Khadafi. Tuntutan mundur dari banyak elemen masyarakat tidak ditanggapi oleh Soeharto dengan kekerasan atau dengan menggalang kekuatan pendukung. Padahal bisa dipastikan Soeharto mempunyai dukungan yang sangat luas dari masyarakat Indonesia dan juga elemen-elemen elit politik dan militer. Seandainya Soeharto melakukannya, mungkin perang saudara yang mirip dengan Libya juga terjadi di Indonesia.

Dalam hal ini, Soeharto jauh lebih baik dari Khadafi, apalagi Firaun dan Qarun. Lagi-lagi ini adalah perbandingan yang sangat naif.[]