Ketika Yang Semestinya Cukup Menjadi Tidak Cukup

0
33 views

Tentunya tidak salah ungkapan yang menyatakan, “berolah-ragalah dengan cukup maka anda akan menjadi bugar”. Namun ketika kita menjumpai seseorang yang gemar berolah raga namun tidak juga bugar bahkan sering cedera karena olah raganya atau bahkan olah raganyalah yang membuatnya celaka. Tetap saja kita tidak bisa menyalahkan ungkapan diatas. Karena tentunya bukan olah raganya yang salah, namun bisa jadi cara yang dia lakukan itu salah,

atau kesiapan dirinya yang tidak sesuai dengan olah raga yang digemarinya; bisa jadi gizi yang tidak mendukung, pembagian waktu yang tidak bijak, atau kegemarannya berolah raga dibarengi gaya hidup yang bertentangan dengan nilai kesehatan.


Demikianlah salah satu wejangan ulama terdahulu;

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.”

Kematian yang semestinya mengingatkan kita bahwa betapa hidup ini sangat berharga, menasehati betapa kita ini bukan siapa-siapa seberapa pun kita anggap besar diri ini kematian akan menutup segala kesombongan itu, mengingatkan betapa berharganya setiap jenak waktu yang kita lalui, mendobrak kesadaran batin bahwa hidup di dunia ini sementara tidak selamanya dan masih ada kehidupan akherat yang lebih baik dan lebih kekal.

Namun kenapa semua pesan itu serasa tidak pernah terlafaldkan? tidak pernah singgah di sanubari kita?, padahal betapa sering tema kematian kita simak, berita meninggalnya sanak saudara, kerabat, kawan atau mungkin orang lain yang tidak kita kenal terlalu sering kita dengar, bahkan  sering pula kita mendengar kejadian itu datang tiba-tida seakan tidak sempat memberi tanda, padahal  itu mungkin terjadi pada diri kita. Kenapa dan kenapa nasehat itu serasa tak pernah ada…? apakah itu karena terlalu seringnya tema dan kejadian tentang kematian itu kita simak ? ataukah sesungguhnya bukan telinga lahir kita yang tuli namum telinga nurani kita yang tersumpal, bukan mata fisik kita yang buta namun mata hati kita yang telah keruh oleh kotornya kesombongan ?

Kalau kita katakan, barangkali terlalu seringnya hal itu berulang baik melalui indra pendengaran atau indra penglihatan kita, sehingga membuat kita merasa hal itu adalah hal biasa. Bukankah Allah swt Tuhan kita yang menyatakan “Fa innadz dzikra tanfa`ul mu’miniin” bahwa penyebutan dan pengingatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman. Maka seharusnya pengulangan tema itu memberi daya guna dan manfaat bukan sebaliknya malah menghilangkan makna, atau barangkali ada masalah pada keimanan kita? Memang, barangkali pendengaran ruhani kita yang tidak lagi tajam menyimak nasehat tersebut, sorot mata hati kita tidak lagi mampu menangkap terangnya cahaya nasehat itu, nasehat yang senantiasa diserukan, dikumandangkan oleh setiap peristiwa kematian terjadi.

Seorang ulama Mesir, Syeh Mutawalli asy-Sya`rawiy menyatakan bahwa, “Aku tidak pernah tahu adanya keyakinan yang mirip dengan keragu-raguan, kecuali keyakinan seseorang terhadap kematian-keyakinannya akan kematian dirinya mirip dengan keragu-raguan-, dia percaya dirinya akan mati namun amalan sehari-harinya menunjukkan seakan dia tidak yakin akan mati”.

Rasulullah saw pernah ditanya, “Siapakah yang paling cerdas dari kalangan orang-orang beriman?” Beliau menjawab,

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولئِكَ الْأَكْيَاسُ

Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (Shahīh at-Targhīb wa’t Tarhīb)

Demikianlah pribadi mukmin yang cerdas mampu menangkap nasehat dari setiap kematian, bahkan senantiasa berupaya mendengar lebih banyak nasehat tersebut sehingga hal itu akan mempengaruhi prilaku dan perangainya dalam menjalani kehidupan dunia ini. karena untuk bisa selamat dan sukses sampai di akherat dengan meraih syurga-NYA harus melakukan persiapan-persiapan dengan baik.

Demikianlah kiranya keyakinan kita akan kematian diri ini tidak akan banyak memberi manfaat kepada prilaku kita selama keyakinan akan kematian itu tidak dikaitkan dengan keimanan kita kepada hari berbangkit-yaumul akhir-, dan memang keimanan kita kepada Allah swt yang melandasi setiap amal kita, adapun keimanan kita kepada hari Kiamat adalah pendorong terkuat untuk beramal.

Semoga ruhani kita menjadi semakin bugar, mata hati kita semakin tajam dan telinga nurani kita semakin jeli menyimak tebaran nasehat yang disampaikan oleh setiap kematian, sehingga bugarnya jiwa ini akan menggerakkan seluruh potensi kemanusiaan kita untuk lebih mengabdi kepada Allah swt.

Semoga yang semestinya cukup memang menjadi cukup sebagaimana seorang penyair arab melantunkan bait syairnya;

Siapapun yang tidak pernah menasehati dirinya

Tiada berguna baginya beribu nasehat

Dan barangsiapa menghendaki nasehat

Maka “Cukuplah Kematian Menjadi Nasehat”.

BAGI
Artikel SebelumnyaDo’a Penawar Hati Yang Duka
Artikel BerikutnyaSyahid