Ketika Pria Menjelma Wanita

0
21 views

Waria (wanita pria) akhir-akhir ini semakin mudah ditemukan. Tipe kepribadian menyimpang yang dulunya dianggap aneh, kini sudah dianggap biasa. Apalagi bagi pengguna KRL (kereta api listrik) ekonomi tanah abang-bogor. Bahkan tak jarang kehadirannya dianggap sebagai bahan leluconan. Dandanan menor, pakaian minim dengan warna-warni mencolok, bibir berpoles gincu merah merona, berjalan lenggak-lenggok menggoda.

Sambil menunggu stasiun yang mereka tuju, mereka menyalakan musik-musik sensual di radio-tape yang selalu setia menemaninya. Kalau sudah begitu diantara mereka pasti ada yang menari bak seorang model professional. Sepanjang perjalanan mereka bercanda-ria sesama temannya bahkan tak jarang mengeluarkan kata-kata seronok seolah melengkapi keberadaannya sebagai penghibur pria hidung belang yang hanya ingin mengumbar nafsu syahwatnya.

Itulah gambaran performa waria yang sangat mencolok dan megundang perhatian. Sekilas kita tidak akan bisa membedakan dengan wanita, tak jarang pula ibu-ibu pun mengagumi kelihaiannya berdandan. Apalagi di dalam kereta ekonomi yang sesak sehingga yang terlihat lebih ke bagian perut ke atas.

Namun walau bagaimanapun mereka adalah bagian dari masyarakat kita saat ini. Kehadirannya tak bisa dilepaskan dari hiruk-pikuk kehidupan ibukota metropolitan. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa mereka bisa eksis bahkan tambah banyak?

Sering orang bilang, sekejam-kejamnya ibu tiri masih kejam ibu kota. Mungkin ini gambaran yang pas buat kelompok waria. Di tengah himpitan ekonomi dengan kemampuan dan kemauan yang terbatas mereka akhirnya terjun ke dunia itu untuk memuaskan nafsu para lelaki hidung belang. Pernah diantara mereka ada yang berceloteh. Ada dua keuntungan waria. Pertama, dihormati dan dihargai sebagai wanita. Kedua, walau bagaimanapun mereka memuaskan pria, tak akan bisa hamil. Dari situ kita bisa menilai bahwa bagi sebagian pria mata keranjang mereka adalah model yang tepat utuk memuaskan hawa nafsunya tanpa beresiko.

Dulu kita mencibir keberadaanya tapi sekarang sepertinya kita sudah menerima mereka sebagai bagian dari kehidupan. Bahkan ikut tersenyum dengan leluconnya yang menyegarkan suasana di tengah penatnya pikiran dan menumpuknya tugas kerja dan beban hidup. Bukan hanya di kereta, kehadiran mereka seolah mendapatkan pegakuan dunia hiburan pertelevisian kita sehingga sering diundang menjadi pelengkap panggung hiburan di negeri ini.

Tapi walaupun hanya merubah tampilan dan gaya, Islam melarang dan melaknat perbuatan seperti itu. Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Rasulullah saw melarang kaum laki-laki menyerupai perilaku kaum wanita. Begitu juga sebaliknya. Beliau melarang kaum wanita menyerupai perilaku kaum pria (Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.).  Dalam riwayat lain disebutkan, ”Rasulullah saw melaknat kaum banci (al-mukhannatsiin) dari kalangan pria dan kaum tomboy (al-mutarajjilaat) dari kalangan wanita.”

Waria bukanlah takdir, tapi masalah kebiasaan yang dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh dalam keluarga. Tidak mungkin dalam diri seseorang mempunyai kepribadian laki-laki sekaligus wanita. Apabila laki-laki menyerupai perempuan dilakukan atas kemauannya sendiri maka ia berada dalam ancaman hadis di atas, namun apabila itu sebuah keterpaksaan seperti kelainan dari lahir mempunyai dua kelamin maka diharuskan baginya untuk berobat.

Sejatinya, seorang muslim harus menunjukkan jati diri yang sesungguhnya sebagai wujud rasa syukur atas kehadiran kita di dunia ini sebagai makhluk yang paling sempurna. Dan bagi mereka yang sudah terlanjur nyebur di dunia waria, segeralah berobat semampunya dan bertobat. Wallahu A’lam.

BAGI
Artikel SebelumnyaJihad
Artikel BerikutnyaKebesaran Ka’bah dan Hikmahnya