Ketidaksalingpahaman

0
82 views

 

Ledakan teknologi komunikasi dan informasi tidak cukup kuat untuk menghalau ketidaksalingpahaman. Dalam ukuran tertentu tekologi komunikasi dan informasi bahkan menjadi kendaraan bagi manusia untuk semakin salah paham terhadap satu sama lain dalam dosis tinggi.

Ternyata, ketidaksalingpahaman adalah hal yang niscaya. Disebut niscaya karena dia pasti ada sedangkan kesalingpahaman tidak selalu ada. Bahkan kesalingpahaman hanya mungkin ada sebagai lanjutan dari ketidaksalingpahaman. Itupun jika ada kehendak baik untuk menyadari ketidaksalingpamanan yang pasti ada. Karena itu, ketidaksalingpahaman adalah hal yang ada dengan sendirinya. Sedangkan kesalingpahaman hanya akan ada jika ada upaya saling memahami.

Mengandaikan kesalingpahaman hadir dengan sendirinya adalah sesuatu yang hanya berhenti di pengandaian. Penyebabnya adalah karena tidak seorang pun yang lepas dari prasangka. Dalam hal ini, prasangka bukan hal yang buruk karena prasangka yang buruk hanyalah prasangka yang tidak menyangka bahwa dirinya hanyalah prasangka, bukan kebenaran seutuhnya. Prasangka yang buruk hanya prasangka yang tidak hendak bertukar pandang dengan prasangka yang lain.

Prasangka bukan sesuatu yang buruk karena prasangka pasti ada pada setiap manusia karena prasangka sesungguhnya adalah bongkahan ingatan yang tersimpan dalam fisik dan jiwa setiap manusia yang berasal dari pengalaman hidupnya, deritanya, bahagianya, bacaannya, gurunya, hasil permenungannya, hasil obrolannya dengan seseorang di sebuah kedai kopi di pinggi jalan, dan sebagainya. Belum lagi ruang dan waktu berbeda di mana dan kapan derita atau bahagia itu terjadi yang juga sangat memengaruhi bagaimana lapisan-lapisan ingatan itu nantinya membongkah.

Bongkahan ingatan yang tersimpan oleh masing-masing manusia selalu berbeda karena tidak ada hidup yang persis sama. Katakanlah, ada dua orang yang perjalanan hidupnya hampir persis sama. Tidak ada jaminan hasil pemaknaan hidup yang mereka cerap juga sama. Karena itu, meskipun dalil yang dicobapahami terletak pada surah yang sama, ayat yang sama, halaman yang sama, baris yang sama, serta seabrek kesamaan lainnya, karena perasangka masing-masing pembaca berbeda, maka hasilnya sangat mungkin tidak sama. Ketidaksalingpamahan pasti hadir dengan sendirinya. Akibat prasangka

Karena ketidaksalingpahaman adalah hal yang niscaya, tiada guna memusuhinya. Dan tidak mungkin membumihanguskannya. Namun itu bukan alasan untuk tidak sampai pada kesalingpahaman. Memang tidak mudah karena kesalingpahaman hanya datang jika diusahakan. Lewat jalan itu seperti itulah pahala akan menghampiri.

Segala upaya mencapai kesalingpahaman harus dimulai dari kesadaran bahwa ketidaksalingpahaman itu ada. Karena itu, harus ada damai dengan ketidaksalingpahaman; memaklumi kehadirannya; mencari jalan-jalan sempit persamaannya; lalu menertawai betapa terbatasnya manusia di hadapan kebenaran.

Upaya untuk mengakui keniscayaan ketidaksalingpahaman lalu mengejar kesalingpahaman serupa upaya untuk mengatasi kesenjangan ruang dan waktu antara masing-masing prasangka yang dimiliki oleh masing-masing manusia.

Mungkin upaya mengatasi kesenjangan itu tidak akan pernah berakhir sebagaimana ruang dan waktu yang juga terus berputar, namun selalu harus ada upaya untuk mengatasinya dengan bijak. Barangkali hanya dengan cara itu, manusia bisa disebut manusia.

Bacaan

F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Shleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015