Kerjasama Suami-Isteri

0
40 views

media.photobucket.comBeban pekerjaan Umar bin Khattab sebagai khalifah amat banyak, apalagi beliau tidak ingin ada rakyatnya yang mengalami kesulitan, karenanya beliau bekerja hampir 24 jam setiap harinya sehingga banyak persoalan-persoalan rakyat yang teratasi berkat kerja kerasnya, siang dan malam. Karena itu, dukungan dan kerjasama keluarga, khususnya isteri menjadi amat penting dalam mengemban tugas sebagai pemimpin.

Ummu Kultsum yang usianya jauh lebih muda dari Umar bin Khattab sebagai suami tidak menghalangi keharmonisan berumahtangga, salah satunya adalah kerjasama dalam mengemban tugas-tugas suami yang tidak terkait langsung dengan masalah rumah tangga.

Ketika Khalifah Umar keluar dari rumahnya pada suatu malam yang telah larut dan ini sesuatu yang biasa dilakukannya untuk mengetahui langsung keadaan rakyatnya, tiba-tiba di pinggir kota Madinah, Khalifah Umar mendengar rintihan seorang wanita dari dalam kemah yang di depannya duduk seorang lelaki. Umar memberi salam kepadanya dan bertanya maksud kedatangannya ke kota Madinah. Ia menjelaskan bahwa kedatangannya dari kampung untuk mengharapkan kebaikan Khalifah Umar bin Khattab. Selanjutnya Umar bertanya tentang wanita yang sedang merintih kesakitan dari dalam kemah, tapi karena lelaki itu tidak tahu bahwa ia sedang berbicara kepada Khalifah Umar, maka dengan tegas ia berkata: “Pergilah kamu, semoga Allah merahmatimu dan jangan lagi bertanya tentang masalah yang bukan urusanmu”.

Tapi Umar tetap bertanya dan menawarkan bantuan sebisa mungkin. Karenanya lelaki itu menjawab: “Dia adalah isteriku yang hendak melahirkan dan tidak ada orang yang bisa menolongnya”.

Umar langsung pulang ke rumahnya, kepada isterinya ia bertanya: “Maukah kamu mendapatkan pahala yang akan diberikan Allah?”.

Tentu saja Ummu Kultsum menjawab mau, lalu bertanya: “apakah kebaikan dan pahala itu?”.

Setelah diceritakan oleh Umar, Ummu Kultsum segera mempersiapkan diri dan membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk membantu persalinan, sementara Khalifah Umar berangkat dengan memanggul karung yang berisi minyak samin dan gandum.

Sesampai di kemah orang itu, Ummu Kultsum segera masuk dan bertindak sebagai bidan. Sedangkan Umar dan lelaki itu membuat roti dan memasak minyak samin.

Tidak lama kemudian, terdengar suara bayi dan dari dalam kemah, Ummu Kultsum berseru: “Wahai Amirul Mukminin, berilah kabar gembira kepada temanmu itu bahwa Allah swt telah mengkaruniakan bayi laki-laki”.

Tentu saja orang badui itu terperanjat mendengar kata Amirul mukminin yang diucapkan oleh bidan itu, ia tidak menyangka bahwa yang masak roti dan minyak samin bersamanya adalah Khalifah Umar yang ia inginkan kebaikannya, sedangkan yang menjadi bidan adalah isterinya sendiri.

Kisah di atas memberi pelajaran yang amat berharga:

1.    Seorang isteri harus selalu menopang tugas-tugas suaminya dan suami mau melibatkan isteri dalam melakukan kebaikan.

2.    Suami isteri sejati harus bekerjasama dalam kebaikan, bukan kerjasama dalam hal-hal yang bernilai dosa.       

BAGI
Artikel SebelumnyaMasjid-Masjid di Eropa
Artikel BerikutnyaMy Name Is Terrorist