Kerinduan Purba

0
28 views

Oleh Abd. Muid N.

Perjumpaan kita dengan bulan Ramadhan tahun ini mungkin adalah wujud kerinduan kita pada bulan Ramadhan yang terkristal dalam bentuk doa-doa kita sejak akhir bulan Ramadhan di tahun lalu. Ketika itu tidak satupun umat Muslim yang tidak berharap berjumpa dengan bulan Ramadhan tahun berikutnya. Ya, tidak satupun umat Muslim tidak berharap berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan, termasuk jika bulan ini juga pergi nantinya, maka semua umat Muslim pasti berharap akan berjumpa lagi dengan bulan yang sama, meski niat masing-masing orang bisa saja tidak sama.

Ada yang berharap berjumpa dengan Ramadhan karena banyaknya hidangan enak-enak di bulan itu yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Para penceramah mungkin berharap kembali berjumpa dengan Ramadhan karena ramainya undangan berceramah yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di antara pedagang juga mungkin ada yang berharap berjumpa dengan Ramadhan karena tingginya daya beli pada bulan itu yang berimbas kepada naiknya keuntungan dagangan yang juga berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Dan mungkin juga memang ada yang rindu dengan Ramadhan karena Ramadhan adalah bulan ibadah ritual dan ibadah sosial. Ramadhan ibarat masa masuk training bagi hati dan jiwa agar kembali kuat menjalani bulan-bulan lain tanpa sekalipun lupa kepada Allah swt.

Yang pasti ada bermacam-macam bentuk kerinduan pada datangnya Ramadhan dan itu tidak susah untuk mengetahuinya. Bermacam-macam kerinduan kita itu akan terbukti di bulan ini. Apapun bentuk kerinduan kita akan membentuk siapa kita di bulan ini dan menghasilkan manusia seperti apa kita di luar bulan suci Ramadhan nanti.

Kita tentu masih ingat betapa di akhir bulan Ramadhan tahun lalu kita berharap kembali berjumpa bulan Ramadhan tahun ini. Mungkin saja harapan itu kita mulai lupakan di bulan Syawal karena asyik berlebaran berjumpa dengan kerabat dengan makanan yang enak-enak. Kita semakin melupakan kerinduan kepada bulan Ramadhan itu ketika bulan-bulan haji saat kita sibuk mengantar orang-orang pergi haji atau kita sendiri yang berangkat. Kerinduan kepada Ramadhan semakin tenggelam pada bulan-bulan lain ketika kita sibuk bertahun baru Hijriyyah dan atau memperingati maulid Nabi Muhammad saw.

Namun ketika bulan Rajab datang, di sela kesibukan memperingati Isra dan Miraj, kerinduan kepada bulan Ramadhan mulai diungkit-ungkit kembali hingga ada doa yang sangat masyhur berbunyi:

Allaahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’baan wa ballighnaa Ramadhaan.

Artinya

Duhai Allah, limpahilah kami berkah pada bulan Rajab dan Sya’ban serta izinkanlah kami berjumpa dengan bulan Ramadhan.

Saat itu, kita mulai teringat keriduan yang dulu. Beberapa kalangan umat Islam bahkan semakin mempersayahdu kerinduan mereka kepada bulan Ramadhan dengan mengadakan acara Nishfu Sya’ban. Terlepas dari kontroversi tentang Nishfu Sya’ban, itu adalah salah satu cara umat Islam untuk mengungkit kembali kerinduan purba mereka tahun lalu dan telah tertimbun dengan kesibukan-kesibukan lain kepada bulan Ramadhan.

Kini kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Allah swt telah berkenan memperpanjang usia kita hingga saat ini. Sekarang adalah urusan kita untuk membuktikan bahwa kita serius dengan doa-doa kita dulu yang berharap berjumpa dengan Ramadhan. Ketika doa-doa itu, telah dijawab oleh Allah swt, maka kita harus mempertanggungjawabkan perkenaan Allah itu dengan cara menikmati sebaik-baiknya ibadah di bulan Ramadhan ini karena tidak ada jaminan bahwa Allah masih akan memperkenankan kita berjumpa dengan Ramadhan lagi tahun depan.[]